Konstelasi Kesenian Tegal, Apresiasi dan Kaderisasi

November 12, 2010

Tegal sebagai tanda (sign) dalam persepsi publik di tanah air kerap diasosiasikan pada kesan lucu, keluguan, atau kesahajaan. Pandangan ini tak sepenuhnya keliru. Panggung hiburan kita telah akrab dengan nama-nama Cici Tegal, Parto Tegal hingga Parto Patrio yang efektif membawakan dialek Tegalan secara komedik. Termasuk Pak Tarno, tukang sulap pinggir jalan yang beberapa kali diundang menjadi bintang tamu di televisi swasta, penampilannya diapresiasi penonton dengan tawa. Padahal Pak Tarno bukan sedang melawak, melainkan bermain sulap. Dalam hal-hal serius, atau kesahajaan pedagang Warteg sekalipun, umumnya publik mengenang Tegal tak jauh dari tawa.

Padahal lebih dari itu, Tegal telah lama memiliki retorika yang kuat sebagai kantong kebudayaan di Jawa Tengah, seperti halnya Solo, Semarang, Kudus atau Banyumas. Seperti dikatakan Budayawan Eko Tunas, pada masa-masa tahun 1950-1970-an, Tegal sering menjadi titik singgah ‘untuk kencing’ seniman-budayawan seperti Arifin C Noor maupun Rendra, dalam lawatan mereka ke Yogyakarta dari Jakarta atau sebaliknya. Tegal memiliki nama besar sebagai kantong kebudayaan. Pertanyaan atas klaim ini perlu diperjelas kini: Tegal pernah memiliki nama besar tentu berbeda maknanya dengan Tegal masih memiliki nama besar juga bila dibandingkan dengan klaim Tegal tetap memiliki nama besar.

Bermula dari Teater

Sepanjang pergaulan saya yang masih terbatas dengan pekerja seni di Tegal, saya mendapati jejak kesenian Tegal yang panjang, dan secara komparatif berbeda dengan kota-kota lain. Sejarah kesenian Tegal pada masa setelah perang kemerdekaan ditandai dan dilahirkan dari rahim teater. Untuk ukuran kota ‘sekecil’ Tegal, geliat teater yang ada, hidup, berkembang, dan mati silih berganti cukup menarik. Dari catatan yang ada, setidaknya Tegal mengenal teater modern di samping teater tradisi macam Wayang Orang atau Ketoprak sejak tahun 1954 ketika Woerjanto dan kawan-kawan mendirikan Ikatan Seniman Muda Tunas (ISMT), yang di dalamnya termasuk Bidang Teater Tunas dan menerbitkan Lembaran (Tabloid) Tunas. Berturut-turut kemudian lahir Teater RSPD (Yono Daryono), Teater Puber (Nurhidayat Poso), Teater Wong (M. Enthieh Mudakir), Teater Ding Dong (Slamet Ambari), Teater Sedar (Lutfi An), Teater Massa Hisbuma (Dwi Ery Santoso), Teater Swadesi (Lanang Setiawan), Teater Q (Rudi Itheng), hingga Teater Lares Dramatic (Apito Lahire).

Melalui teater pula, pelaku kesenian Tegal mengawali proses esetetiknya. Kita absen beberapa nama, misalnya mereka yang lahir dari Teater RSPD (berdiri 1978) ada nama-nama Yono Daryono (penulis, cerpenis), YY Haryo Guritno (film), Eko Tunas (penulis, monolog), Sisdiono Ahmad (penulis, dewan pendidikan). Kemudian yang lahir dari Teater Puber tentu saja Nurhidayat Poso (cerpenis), Dwi Ery Santoso (penyair), Lanang Setiawan (novelis, musik Tegalan), Nurngudiono (musik Tegalan), Enthieh Mudakir (penyair), SL Gaharu (penulis). Dari Teater Lares Dramatic ada nama Apito Lahire (penyair, monolog). Termasuk Abidin Abror, Sarjana Teater jebolan ISI Yogyakarta sebagai pegiat monolog independen.

Realitas ini secara komparatif berbeda dengan pelaku kesenian yang tumbuh di Solo, Lampung atau Yogyakarta sebagai misal. Banyak pekerja seni dari kota-kota ini yang lahir dari kampus, baik dari teater kampus maupun pers mahasiswa. Teman-teman yang bergiat di Komunitas Pawon Solo misalnya, banyak diantaranya alumni pers mahasiswa seperti Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Kentingan, atau LPM Visi. Bahkan Joko Sumantri mantan Koordinator Redaksi Pawon mengklaim penulis (muda) Solo banyak yang lahir dari rahim Universitas Sebelas Maret (UNS). Begitu juga teman-teman di Lampung, selain lahir dari pers mahasiswa (umumnya LPM Teknokra), sebagian lagi memulai karier keseniannya dari Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) dengan Bilik Jumpa Seniman Mahasiswa (Bijusa) maupun dari Komunitas Berkat Yakin (Kober), komunitas di luar kampus yang anggotanya sebagian besar mahasiswa atau alumni Universitas Lampung (Unila). Sedang di Yogya, kampus Bulaksumur dianggap memiliki kontribusi yang cukup dalam melahirkan pekerja seni, utamanya dari aktivitas kumpul-kumpul di Kantin Bonbin Fakultas Sastra.

Sebagai seorang yang mulai belajar menulis dari pers mahasiswa, saya menilai akar tradisi kesenian Tegal yang bermula dari teater sebenarnya dapat menjadi kekuatan. Dalam aktivitas teater penjiwaan atas realitas dilatih dengan tekun dan kuat. Latar belakang aktivisme teater juga cenderung membuat penulis baik penyair, cerpenis, maupun novelis menjadi lebih ekspresif dalam mengabarkan realitas, ketimbang empati yang dibangun penulis hanya melalui observasi dan studi kepustakaan.

Tradisi yang menarik dari jalan penjang kesenian Tegal adalah kedekatannya kepada birokrasi, baik sebagai organisasi maupun perseorangan. Tunas, teater modern pertama di Tegal didirikan oleh Woerjanto, Kepala Jawatan Penerangan Pemerintah Kotamadya Tegal dan banyak mendapat fasilitas dari jawatan itu. Teater RSPD juga idem ditto. Ditinjau dari namanya, teater ini dekat dengan Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) yang kini menjadi Sebayu FM. Sebagian aktornya adalah penyiar RSPD dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bahkan menurut Lanang Setiawan, nama RSPD sendiri diberikan Maman Abdurahman, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kotamadya Tegal kala itu. Hubungan yang manis dengan pemerintah daerah juga dapat ditelusuri dari seringnya acara kesenian seperti diskusi, pentas teater maupun baca puisi di Pendopo Ki Gede Sebayu maupun Ruang Adipura Balaikota Tegal.

Stagnasi Kreatif

Pada berbagai kesempatan mengikuti pentas kesenian di Tegal, saya mencermati telah terjadi pergeseran orientasi kesenian di Tegal. Bila pada periode sebelum tahun 2000 kesenian Tegal dikenal karena proses kreatifnya, pada masa-masa setelah tahun 2000 agaknya kesenian Tegal dikenang dari proses-proses yang sifatnya apresiatif. Frekuensi pentas teater-teater jauh menurun. Pentas produksi teater Tegal hari ini bukan lagi dibangun dari tradisi kreatif yang panjang, melainkan pentas-pentas insidental atau seremonial semacam peringatan hari jadi termasuk pentas maupun monolog untuk penggalian dana rupa-rupa musibah seperti gempa bumi hingga ‘sosialisasi bahaya HIV/AIDS’ dan semacam itu. Kekosongan proses kreatif teater di Tegal secara relatif diisi oleh bergeliatnya teater-teater sekolah. Namun teater-teater sekolah ini lebih produktif berkarya dalam ‘kelokalan’ ruang sekolah dan ‘keterpaksaan’ tugas sekolah mereka.

Produksi karya-karya penulis Tegal (cerpen dan puisi) jauh tenggelam dari lembar media massa edisi minggu. Tak ada lagi ditemui penulis Tegal saling berburu koran minggu setelah semalaman harap-harap cemas menunggu karyanya dimuat. Menyikapi kondisi ini sebagian penulis menerbitkan sendiri kumpulan tulisannya, terutama puisi. Mereka berkilah penerbitan karya adalah pertanggungjawaban kreatif dan sebagai sikap kesenian untuk tindak tunduk pada selera redaktur yang dianggap sering pilih-kasih atau terkooptasi ideologi kesenian tertentu. Namun tesis ini tak sepenuhnya disepakati penulis Tegal sendiri. Penulis golongan ini beranggapan semangat perlawanan kepada redaktur dianggap kurang berdasar dan semata-mata merepresentasikan kekalahan dan kejumudan proses kreatif pekerja seni Tegal dalam konstelasi kesenian nasional.

Di tengah kelesuan proses kreatif penulis Tegal, usaha yang dilakukan oleh antara lain Lanang Setiawan dalam mempopulerkan genre Sastra Tegalan perlu mendapat apresiasi. Sastra Tegalan merupakan medium komunikasi sastra melalui Bahasa Jawa Dialek Tegalan. Setelah mengalihbahasakan puisi-puisi Rendra, Emha Aiunun Nadjib, F. Rahardi, hingga Chairil Anwar tahun 1994 dalam dialek Tegalan, penulis-penulis Tegal produktif melahirkan kumpulan puisi atau antologi Puisi Tegalan, seperti Roa, Kumpulan Sajak Penyair Indonesia Terjemahan Tegalan (Lanang Setiawan (ed), Mimbar pengajian Seni Budaya Tegal, 1994), atau Kumpulan Puisi Tegalan, Penyair Angkatan Tegal-Tegal (SL Gaharu, Lanang Setiawan (ed), Tegal-Tegal, 2005), Brug Abang, Kumpulan Puisi Tegalan (Dwi Ery Santoso, Dewan Kesenian tegal, 2006) hingga yang terbaru Ngranggeh Katuranggan, Kumpulan Puisi Tegalan (Lanang Setiawan (ed), Dewan Kesenian Tegal, 2009).

Puisi Tegalan secara efektif memberi keleluasaan berekspresi penulis Tegal melalui bahasa ibunya disaat partisipasi penulis Tegal dalam dunia perpuisian nasional menunjukkan tren menurun. Dalam konteks partisipasi penulis Tegal di kancah regional, maupun nasional, semangat Sastra Tegalan perlu diakomodasi secara hati-hati. Sebagai sebuah gerakan melahirkan genre baru, Sastra Tegalan kiranya cukup berhasil merebut perhatian publik. Namun kegairahan menulis menggunakan bahasa ibu dalam gerakan Sastra Tegalan perlu diimbangi juga dengan semangat untuk menulis teks-teks sastra yang ‘nasional’, baik dalam penggunaan bahasa, maupun pencapaian estetika yang dapat diterima publik sastra nasional. Bagi saya Sastra Tegalan menyimpan paradoks, di satu sisi sebagai suar bagi eksistensi sastrawan Tegal, namun dalam perspektif lain dapat menjadikan sastrawan Tegal mengambil inisiatif memencilkan dirinya dalam ketegalan sastra dan melupakan atau menghindarkan diri dari sastra nasional dengan alasan-alasan penerimaan ideologi kesenian.

Di saat proses kreatif kesenian terhitung stagnan, pegiat kesenian Tegal tampak bersemangat bila menggelar pentas-pentas apresiasi. Misalnya dalam mengenang wafatnya Rendra tempo hari. Pelaku seni Tegal yang merasa dekat dengan Sang Burung Merak ini menggelar rangkaian baca puisi, sambung menyambung di Gedung Kesenian Tegal dan Gedung Rakjat Slawi. Begitu pun respons atas wafatnya Gesang. Tak sampai dua hari, seniman Tegal sudah mampu menggelar panggung keroncong menyanyikan lagu-lagu sang maestro. Pada diskusi-diskusi sastra, misalnya dengan mengundang penyair Afrizal Malna tempo hari, yang terjadi kemudian adalah reuni pelaku seni, dan mengabsen satu persatu karya penulis Tegal yang telah ditulis pada masa-masa lampau.

Lomba-lomba kesenian, dalam hal ini puisi sebagai misal, banyak diisi dengan ragam acara bertajuk lomba baca puisi, atau musikalisasi puisi. Lomba-lomba kesenian tidak secara sadar diarahkan pada proses mencipta, seperti Lomba Cipta Puisi dan Cerpen Dewan Kesenian Lampung atau Lomba Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta yang rutin digelar.

Kaderisasi

Kejumudan proses kreatif kesenian Tegal sudah tentu harus dicairkan. Kaderisasi pelaku kesenian merupakan salah satu langkah strategis membangun gairah baru berkesenian di Tegal. Dalam pengamatan saya pada pentas-pentas apresiatif pekerja seni Tegal, persoalan kaderisasi ini tampak mencolok. Pertemuan dan pentas seni hampir seluruhnya diisi veteran pekerja seni Tegal. Nyaris tak tampak anak muda, paling tidak seusia pelajar atau mahasiswa. Sebagai kota, Tegal secara sadar menyediakan dirinya sebagai kota yang tak memiliki kontribusi untuk mencetak generasi baru pelaku seni, sebagaimana klaim yang diberikan pada Lampung, Jawa Timur dan Bali sebagai ‘lumbung penulis nasional’. Kota-kota ini memberikan kontribusi yang cukup, didukung oleh pelaku kesenian senior untuk menyediakan diri sebagai kota yang memberi ruang bagi lahirnya penulis-penulis belia. Sejumlah komunitas yang didirikan untuk tujuan-tujuan kaderisasi dibentuk, serangkaian workshop dan agenda-agenda yang memungkinkan penulis belia muncul—seperti lomba dan rubrikasi di media lokal—disediakan.

Bila sejumlah pelaku kesenian di Solo mengeluhkan pekerja seni yang lahir dari rahim Kota Solo kemudian banyak berkiprah di kota-kota lain, maka kondisi yang terjadi di Tegal sebaliknya. Selepas generasi Yono Daryono dan Nurhidayat Poso yang lahir dari rahim kesenian kota, generasi pelaku seni setelahnya banyak yang dilahirkan di kota lain baru kemudian mewarnai kesenian di Tegal. Di bidang teater pula, nama Apito Lahire dan Abidin Abror dapat disebut dilahirkan sebagai pekerja kesenian dari kampusnya ISI di Yogyakarta. Begitu juga Slamet Gundono, meskipun tak secara bulat dapat disebut ‘seniman Tegal’, karier keseniannya banyak dirintis dari Solo.

Kiranya realitas-realitas ini perlu didiskusikan oleh pekerja kesenian Tegal untuk menjaga Tegal masih memiliki nama besar sebagai kantong kebudayaan. Tegal sebagai kota harus banyak berkontribusi melakukan kaderisasi agar geliat kesenian yang pernah ditabalkan sebagai ‘kota yang tak pernah tidur’ ini tetap terjaga. Konstelasi atau persaingan—kalau ada—sudah selayaknya diakhiri, karena bersaing tidak produktif bagi kelangsungan kesenian di Tegal yang mudah-mudahan eksis sampai seratus tahun lagi.

*Febrie Hastiyanto; Penulis tinggal di Slawi Tegal. Puisinya Sajak Seorang Pejoang yang Dikhianati Senapannya menjadi finalis Lomba Cipta Puisi Prosaik Krakatau Award 2009.

Dimuat Pawon, Edisi Oktober 2010

Satu Tanggapan to “Konstelasi Kesenian Tegal, Apresiasi dan Kaderisasi”

  1. hendra Apriyadi Says:

    sudah selayaknya kaderisasi sastra Tegal khususnya penggiat sastra muda mahasiswa dan pelajar di giatkan kembali,tapi pemerintahan tegal sendiri ikut mendukung adanya kreatifitas putra daerah tegal,paling tidak ada payungnya atu mungkin Sanggar Sastra yang diambil dari pelajar maupun mahasiswa, salah satunya polemik sastra yang terjadi pada kalangan pendidikan, ini adalah garapan kita sebagai penggiat sastra yang seharusnya bisa mengelo ide kreatifitas di bidang sastra indonesia,contohnya kabupaten Tegal yang sepi dengan kesenian dan teater bagaimana bisa berapresiasi Dewan keseniannya saja ga tau siapa? gendung kesenia sebesar gedung rakyat warnanya hitam kosong dan mlompong,??


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: