Kongres Forum Gunung Slamet

November 2, 2010

Satu pagi yang basah di bulan Ramadhan. Tak kurang 100 aktivis mewakili LSM, Perguruan Tinggi, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Paguyuban Kepala Desa, SAR, PMI, Pramuka, Orari, hingga delegasi Pemerintah Kabupaten Brebes, Banyumas, Pemalang, Purbalingga dan Tegal dari rupa-rupa instansi seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kesbangpolinmas, Bappeda, DPU, Dinas ESDM, hingga Dinas Tanbunhut menggelar Kongres Forum (Gunung) Slamet untuk pertama kalinya. Gunung Slamet (3.432 mdpl) yang memayungi lima kabupaten ini memiliki ancaman erupsi yang laten dan permanen sebab status Slamet sebagai gunung api aktif. Sedikitnya 46 desa berada pada kawasan terdampak ancaman bencana erupsi Gunung Slamet.

Paradigma penanggulangan bencana menurut UU No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana tidak hanya dilakukan pada periode tanggap darurat maupun rehabilitasi dan rekonstruksi. Tetapi meliputi juga insiasi pengurangan risiko bencana (mitigasi). Ancaman erupsi Gunung Slamet menurut paradigma undang-undang ini, dapat menjadi bencana, dapat pula tidak. Bencana terjadi bila ancaman tidak dapat diantisipasi dan ditanggulangi sejak dini, atau telah terjadi kerentanan. Sebaliknya, bila kapasitas kerentanan dapat ditingkatkan, ancaman yang ada bisa jadi tidak mengakibatkan bencana, atau sekurang-kurangnya terjadi bencana dengan kerugian paling minimal. Secara sederhana Forum Slamet lahir untuk menginisiasi peningkatan kapasitas kerentanan, baik kerentanan kelembagaan, sumber daya manusia, maupun sumber daya buatan lain.

Karakteristik Ancaman

Gunung Slamet merupakan gunung api tipe strato. Karakteristik erupsi gunung api tipe strato sedikit berbeda dengan karakteristik erupsi tipe merapi. Erupsi gunung api tipe strato ditandai dengan erupsi berupa lontaran lava pijar dan hujan abu vulkanik. Untungnya lontaran lava pijar cenderung jatuh kembali ke kawah gunung. Sedang hujan abu vulkanik akan terbang bebas mengikuti arah angin. Meskipun dianggap memiliki risiko lebih kecil ketimbang gunung api tipe merapi, ancaman erupsi Gunung Slamet tetap harus diwaspadai. Realitas ini pula yang membuat sebagian masyarakat hingga saat ini masih menganggap Gunung Slamet tidak berbahaya. Padahal berbahaya atau tidak, ancaman bencana harus diantisipasi.

Serangkaian program perlu dilaksanakan agar pemahaman dan paradigma pengurangan risiko bencana dapat menjadi mainstream pada wacana di tingkat warga yang tinggal di kawasan rawan bencana I, II, dan III (berada pada radius 0-8 km), maupun warga terdampak bencana Gunung Slamet lainnya, hingga pemangku kepentingan (stakeholders) kebencanaan di wilayah Gunung Slamet. Melalui bidang kerja dalam Forum Slamet digagas inisiasi terhadap peningkatan kapasitas dan advokasi, meliputi usaha-usaha pembangunan kapasitas sistem kewaspadaan dini (early warning systems) seperti pelatihan dasar penanggulangan bencana, pengkajian risiko bencana, analisis kapasitas wilayah dan lembaga, pembentukan tim siaga bencana desa, inisiasi rencana aksi kampung dan simulasi tanggap darurat, hingga koordinasi antar radio komunitas.

Tak kalah strategis adalah kerjasama antar lembaga dan pembentukan pusat informasi data. Forum Slamet diharapkan dapat menjadi inisiator dan fasilitator identifikasi jejaring dan kerjasama kelompok peduli, termasuk di dalamnya inisiasi partisipasi dunia usaha dan industri melalui skema corporate social responsibility (CSR). Sesuai amanat undang-undang, sudah saatnya dunia usaha dan industri turut berpartisipasi dalam usaha-usaha pengurangan risiko bencana. Selama ini dunia usaha dan industri cenderung memilih berpartisipasi dalam usaha-usaha tanggap darurat serta rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada periode ini perhatian publik tercurah, yang sedikit banyak dapat menjadi media promosi sosial. Padahal bila dunia usaha dan industri memiliki fatsun sosial yang asketik, sebenarnya periode mitigasi (pengurangan risiko bencana) lebih strategis dalam meminimalkan dampak bencana.

Beberapa Catatan

Sebagai lembaga yang baru terbentuk, Forum Slamet mengemban amanat yang strategis dan k rena itu berat. Meskipun tak kurang dari 40 anggotanya telah mengikuti tiga putaran lokalatih yang difasilitasi United Nations Development Programmes (UNDP), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah untuk materi-materi latihan dasar penanggulangan bencana, kajian analisis bencana dan penyusunan rencana kontijensi, sejatinya Forum Slamet harus memperkuat kelembagaannya terlebih dahulu. Keanggotaan Forum Slamet yang mewakili lembaga peduli bencana seharusnya mampu mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki masing-masing lembaga, baik lembaga pemerintahan maupun nonpemerintahan. Sumber daya kelembagaan ini dapat berbentuk kewenangan, kebijakan, personalia, dana hingga sarana dan prasarana.

Meskipun ancaman erupsi Forum Slamet bersifat tematik, spesifik dan spasial, tidak menutup kemungkinan kerjasama antar wilayah dan lembaga diperluas kepada wilayah dan lembaga di luar kabupaten terdampak, misalnya Pemerintah Kota Tegal, Pemerintah Kabupaten Cilacap atau forum sejenis seperti Forum Merapi maupun Forum Semeru. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ancaman bencana Gunung Slamet dapat diprediksi. Karena itu wilayah dan lembaga di luar kawasan terdampak tetap dapat berpartisipasi dalam pembangunan sistem kewaspadaan dini dan pengurangan risiko bencana. Bantuan yang diperlukan misalnya pinjaman alat berat serta sarana dan prasarana lain. Tak ketinggalan mobilisasi personil dan dukungan logistik.

Febrie Hastiyanto; Peserta Kongres Forum Slamet.Bekerja pada Bappeda Kabupaten Tegal.

Dimuat Kompas Edisi Jateng, Senin 1 November 2010

Satu Tanggapan to “Kongres Forum Gunung Slamet”

  1. et paripurno Says:

    terimakasih mas atas catatan ini.. kabar forum slamet selanjutnya gimana ya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: