Kongres dan Cita Perkaderan HMI

Oktober 26, 2010

Apabila generasi muda merupakan inti pergerakan dari keseluruhan masyarakat, maka mahasiswa merupakan kelompok paling penting dari keseluruhan generasi muda. Sehingga tak heran bila Lafran Pane dan 12 anak muda lainnya pada 5 Februari 1947 mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Yogyakarta. Lepas dari ekslusivisme pada pilihan idiom ‘mahasiswa’ sebagai identitas organisasi, HMI sejak awal berdirinya ingin menggerakkan potensi aktif mahasiswa yang merupakan inti dari generasi muda sebagai pilihan kadernya.

Pilihan-pilihan pada idiom ‘himpunan’, ‘mahasiswa’, dan ‘Islam’ pada gilirannya melahirkan karakteristik pola gerak organisasi yang khas. Idiom menjadi penanda dan cita dari landasan etis perjuangan. Darinya kemudian diharapkan terbina kader muslim, intelektual, profesional. Lalu, bagaimana mendudukkan cita perkaderan ini dalam Kongres yang bakal digelar HMI akhir 2010 ini?

Cita Kader Muslim, Intelektual, Profesional

Muslim merupakan identitas kader HMI, terutama sebagai konsekuensi pilihan idiom ‘Islam’ dalam ‘Himpunan Mahasiswa Islam’. Selain memberikan landasan gerak kader yang bersumber dari nilai-nilai Islam—yang belakangan ditafsirkan dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP)—dimensi gerak perjuangan dalam idiom ‘Islam’ lebih luas ketimbang dimensi gerak perjuangan dalam pilihan idiom ‘Indonesia’. Bahkan nilai-nilai nasionalisme—sebagai konsekuensi idiom ‘Indonesia’—sebenarnya telah menjadi tradisi dan citra diri yang tidak dapat dipisahkan dari seorang Muslim. Tak heran kalau kemudian dalam tafsir misi HMI dikenal tiga kata kunci orientasi perjuangan: keislaman, kemahasiswaan, dan keindonesiaaan (kebangsaan).

Nilai-nilai intelektualisme tidak dapat dipisahkan dari karakteristik gerakan HMI. Mahasiswa (dan kampus) telah dikenal luas sebagai representasi bagi kebenaran ilmiah. Kebebasan mimbar akademik, ilmiah, moralis, dan nonpartisan merupakan nilai utama intelektualisme sebagai cita kader HMI. Kebebasan mimbar akademik merupakan hak sekaligus kewajiban intelektual mahasiswa (dan kampus) untuk memberitakan kebenaran (ilmiah). Kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan dalam argumentasi teoritik sebagai cita ilmiah mahasiswa (dan kampus). Sehingga dalam praksis geraknya, mahasiswa (dan kampus) konsisten dalam domain gerakan ekstraparlementer yang moralis dan nonpartisan tetapi memiliki implikasi politik yang besar.

Demikian juga dengan nilai profesional. Meski berlabel sebagai organisasi mahasiswa, produk pengkaderan HMI tidak terbatas oleh dimensi keanggotaan formal organisasi. Justru implikasi-implikasi dari kelanjutan pengkaderan-kultural yang membawa nilai dan misi yang diimani HMI sejatinya merupakan pengkaderan dalam menyiapkan kader terbaik bangsa.

HMI mengenal pengabdian kader dalam pedoman pengkaderannya. Jalur-jalur akademik; profesi; birokrasi dan pemerintahan; dunia usaha; sosial-politik; TNI/Kepolisian; sosial-kemasyarakatan; LSM; kepemudaan; olahraga dan seni budaya dapat disebut sebagai jalur-jalur pengabdian yang dapat dipilih kader berdasar minat, bakat, dan kesempatannya. Sebagai jalur pengabdian kader, sudah tentu nilai-nilai yang dibawa memungkinkan untuk terbukanya ruang adaptasi dan intepretasi ulang. Seperti nilai moralis dan nonpartisan yang tidak serta merta membatasi seorang kader dalam pengabdian masyarakatnya untuk terbatas dalam wilayah akademik.

Berpihak kepada kaum tertindas (mustad’afin); cenderung pada kebenaran (hanif); berpikir merdeka, objektif, rasional, dan kritis; progresif dan dinamis; demokratis, jujur dan adil dapat disebut sebagai landasan etis perjuangan yang bersumber dari landasan independensi HMI. Bukan hanya bagi HMI, landasan etis ini seperti telah menjadi harga mati dari setiap pergerakan mahasiswa.

Mendamba Kader Muslim, Intelektual, Profesional

Pilihan pada idiom ‘himpunan’ dalam “Himpunan Mahasiswa Islam” harus diakui memberi warna dan corak gerakan HMI. Terbuka dan tolerannya HMI terhadap ideologi aliran dan mazhab yang ada dalam Islam membuka ruang bagi terfragmentasinya penghayatan dan pengamalan atas Islam itu sendiri. Menghimpun mahasiswa Muslim lebih banyak dipahami sebagai upaya merangkum potensi mahasiswa Muslim ketimbang merumuskan satu ‘mazhab’ atau pola berpikir dan bertindak yang meng-HMI meskipun ada upaya-upaya merumuskan ‘mazhab’ HMI dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang sebenarnya lebih banyak mengatur pola gerak HMI dalam wilayah-wilayah muamalah.

Dalam tipologi kualitas keberagamaan seseorang dikenal idiom-idiom iman, Islam, dan ikhsan. Kualitas keberagamaan seorang kader HMI tentu saja diharapkan berada dalam wilayah idiom ikhsan; seorang mukhsin tidak sekedar secara atributif dan simbolik tercatat sebagai seorang Muslim. Ikhsan menuntut pengamalan nilai-nilai Islam praksis dalam setiap gerak perjuangan yang kelak dipertanggungjawabkan.

Pada idiom ‘intelektualisme’, tantangan terbesar HMI (dan organisasi mahasiswa lain) adalah pragmatisme kader dalam upaya memperoleh pemikiran-pemikiran cerdas sebagai indikator intelektualitas. Kemalasan untuk menelaah secara teliti—karenanya disebut masyarakat ilmiah—akan melahirkan kedangkalan analisis. Pola berpikir instan dan plagiat, misalnya dalam bentuk-bentuk yang sederhana: mengutip tanpa menyebut sumber merupakan musuh terbesar dalam intelektualisme dimana alur pembacaan yang kemudian dilakukan menjadi sepotong-sepotong. Tradisi ‘diskusi bermalam-malam dengan dilanjutkan aksi esok harinya’, misalnya, mulai jarang ditemui dalam tradisi intelektual HMI. Kulturisasi HMI telah terkalahkan oleh upaya-upaya strukturisasi HMI dalam penguasaan organ-organ intrauniversitas. Yang terakhir ini telah menyita banyak waktu dan konsentrasi sehingga dunia diskusif yang kultural celakanya mulai tak dinikmati. Bahkan gerakan strukturisasi HMI lebih banyak trial and error tanpa landasan ilmiah—teori-teori pergerakan sosial, misalnya.

Harapan pada profesionalisme kader-pasca anggota seringkali menjadi bulan-bulanan kelompok kontra-HMI. Tidak dapat dipungkiri, bahwa hampir di setiap jalur pengabdian, terdapat kader-pasca anggota HMI. Personifikasi kader HMI seringkali masih dilakukan, seperti menyebut Akbar Tandjung yang mantan Ketua Umum Partai Golkar dan mantan Ketua DPR RI sebagai ‘mantan Ketua Umum PB HMI’. Di satu sisi, personifikasi kader ini menjadi iklan gratis bagi HMI dalam perekrutan anggota baru. Memisahkan secara tegas personifikasi kader-pasca anggota dengan profesionalisme bidang pengabdiannya saat ini tentu merupakan usaha yang tidak mudah. Namun, hal ini menjadi pekerjaan rumah besar yang harus dijawab dalam perkaderan yang dimulai saat kader tercatat sebagai anggota-biasa.

HMI Tidak Pernah Mati

Das sein dan das sollen—meminjam bahasa sosiologi—seringkali beriringan secara paralel; tanpa titik potong. Namun perjuangan tidak berhenti sampai hari ini, apalagi HMI dilahirkan untuk menjawab realitas yang tidak sesuai dengan idealitas zaman untuk waktu yang tidak terbatas. Beberapa pertanyaan besar memang harus dijawab HMI bagi kepentingan kontinuitas gerak organisasi. Hanya ada satu keyakinan bahwa HMI tidak pernah mati. Sakit, sekarat, dan kemudian bangkit lagi menjadi dinamika dari sebuah kehidupan. Meskipun HMI tidak pernah mati, kualitas hidupnya hari ini dan esok merupakan tanggung jawab yang diemban setiap kader di mana pun dan kapan pun.

Febrie Hastiyanto; mantan Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) HMI Cabang Solo (2004-2005).

Dimuat Harian Pelita, Rabu 20 Oktober 2010

2 Tanggapan to “Kongres dan Cita Perkaderan HMI”


  1. Pendahulu kami bersumpah, namun dianggap sampah oleh mereka yang berkuasa saat ini dengan mengabaikan banyak hal. Maka hari ini kami kembali memperbaharui sumpah PEMUDA Indonesia menjadi:
    Kami Pemuda Indonesia bersumpah:
    Bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan,
    Berbangsa satu bangsa yang gandrung akan keadilan,
    Berbahasa satu bahasa anti Kebohongan….

  2. hastiyanto Says:

    @ renggo darsono:
    Sepakat mas. Sumpah mahasiswa itu menarik. Sepanjang yang saya ketahui, sumpah tersebut pertama kali dibacakan di Bulaksumur UGM, 28 Oktober 1988, sepuluh tahun sebelum reformasi. Saya sedang mencari referensi, dalam konteks apa sumpah tersebut dulu dibacakan, mengingat tahun 1988 bukankah demokrasi masih terbelenggu?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: