Pengendara Badai dan Historiografi Kesenian Tegal

September 17, 2010

Sesaat setelah terbitnya puisi-puisi penyair nasional yang diterjemahkan dalam Bahasa Tegalan pada tahun 1994 dalam Roa, Kumpulan Sajak Penyair Indonesia Terjemahan Tegalan (Lanang Setiawan (ed), Mimbar pengajian Seni Budaya Tegal, 1994) dunia kesusastraan Tegal berturut-turut diramaikan oleh gairah penerbitan buku berbahasa Tegalan yang kemudian ditabalkan sebagai Sastra Tegalan. Sebut saja Kumpulan Puisi Tegalan, Penyair Angkatan Tegal-Tegal (SL Gaharu, Lanang Setiawan (ed), Tegal-Tegal, 2005), Brug Abang, Kumpulan Puisi Tegalan (Dwi Ery Santoso, Dewan Kesenian Tegal, 2006), Nggayuh, Kumpulan Sajak Tegalan (Lanang Setiawan, Dewan Kesenian Tegal, 2006) hingga Ngranggeh Katuranggan, Kumpulan Puisi Tegalan (Lanang Setiawan (ed), Dewan Kesenian Tegal, 2009).

Menyambut kelahiran novel Pengendara Badai (Bintang Warliartika, 2009) yang ditulis Lanang Setiawan pada awalnya saya kira akan menandai bangkitnya ‘sastra nasional’ di tengah gairah Sastra Tegalan di Tegal. Maklum saja, setelah Sastra Tegalan dipopulerkan, hampir setiap pementasan puisi atau penerbitan antologi puisi di Tegal selalu menyelipkan atau menerbitkan secara khusus puisi-puisi berbahasa Tegalan. Namun dugaan saya keliru. Sebab Lanang Setiawan justru menjadikan Pengendara Badai sebagai sebuah penerbitan yang melengkapi publikasi Sastra Tegalan, seperti yang ditulisnya dalam sub judul sebagai ‘sebuah ensi gerakan bahasa dan budaya Tegalan’.

Kaya Data

Ketika menulis Pengendara Badai tampak Lanang Setiawan secara sadar hendak menjadikan novelnya sebagai novel sejarah ‘yang memotret sejarah kebudayaan Tegal sejak tahun 1950-an’. Tak heran bila dalam novel ini kita temui sejumlah kisah, semenjak kisah penerbitan media lokal di Tegal, geliat teater, proses lahirnya Sastra Tegalan dan Lagu Tegalan, hingga kisah pribadi Lanang yang kehilangan seorang putera akibat Demam Berdarah.

Melalui Pengendara Badai pula pembaca dapat memperoleh gambaran bagaimana kota ‘kecil’ Tegal meneguhkan retorikanya sebagai kantong kebudayaan, termasuk di dalamnya intelektualisme dan jurnalistik. Bila media-media lokal pada banyak daerah baru lahir setelah reformasi 1998, jurnalisme di Tegal telah tumbuh sejak tahun 1950-an, ditandai dengan lahirnya Lembaran (Tabloid menurut bahasa saat ini) Kilat (R. Toenggono Wongsoatmodjo) yang kemudian disusul oleh penerbitan Lembaran Tali (S.K. Widjaja) tahun 1958 dan Banteng Loreng yang memuat berita penangkapan Letkol Untung Komandan Gerakan 30 September di Tegal tahun 1965. Informasi dalam Pengendara Badai memang tak selengkap informasi dalam Jalan Panjang Teater dan Sastra Tegal yang ditulis oleh pengarang yang sama (Mimbar Pengajian Seni Budaya Tegal, 2004).

Dalam historiografi kedua, jejak penerbitan di Tegal ditulis secara lebih lengkap dan rinci. Bahwa akar jurnalisme Tegal bermula dari National Press News Agency (Pers Biro NPA) tahun 1955, kemudian diramaikan oleh terbitnya Lembaran Tunas (Woerjanto) tahun 1956, Lembaran Dian, Taqwa, Utusan Rakyat dan Majalah Utama (RHM Suwarno) tahun 1959. Informasi mengenai jejak media lokal Tegal dapat ditelusuri lagi dari kutipan media yang dicuplik dari Kumpulan Puisi Tegalan, Penyair Angkatan Tegal-Tegal (SL Gaharu, Lanang Setiawan (ed), Tegal-Tegal, 2005) yang menambahkan absensi media lokal macam Kontak (Lanang Setiawan, Hartono Ch Surya, SL Gaharu) yang kemudian bermetamorfosis menjadi Porem sebelum kemudian menjadi Literasi yang ‘dibreidel’ karena tak memiliki Surat Ijin Terbit (SIT) hingga akhirnya menjadi Muara Sastra (SL Gaharu) dan Tegal-Tegal (Lanang Setiawan). Media lokal yang terakhir dengan berani menggunakan bahasa Tegalan, melengkapi penerbitan Tegal Post (Suriali Andi Kustomo), Sembada, Suara Rakyat, Muara Pos, Media Kota, Koran Publik, Media Publik, Buana Post, Kawat dan Jurnal Wacana (Yono Daryono) yang mewarnai Tegal tahun 1990-an.

Fakta dalam Fiksi

Meski kaya data, Pengendara Badai dimaksudkan penulisnya sebagai fiksi berbentuk novel. Meskipun sebagai novel Pengendara Badai justru tidak memiliki karakter yang kuat. Tokoh aku dalam Pengendara Badai dapat dengan mudah ditebak sebagai Lanang Setiawan sendiri. Eksplorasi tokoh aku dan fragmen-fragmen dalam Pengendara Badai tampak jauh dari karakter psikologis fiksi. Kecuali fragmen Soedjai Sukmawidjaja dramawan Tunas dalam proses kreatifnya yang kuat karakter fiksinya, selebihnya fragmen-fragmen Pengendara Badai lebih memungkinkan disebut sebagai memoar atau biografi.

Menjadikan sejarah sebagai setting novel bukanlah hal yang tabu dan baru dalam dunia susastra di tanah air. Pramoedya Ananta Toer dalam tetralogi Pulau Buru-nya misalnya memfiksikan Tirtoadisuryo dengan berani. Berani dalam arti eskplorasi fiksi. Begitupun karakter Gajah Mada yang ditafsirkan oleh Langit Kresna Hariadi dalam pentalogi Gajah Mada dapat dinikmati secara utuh sebagai sebuah novel.

Sebagai novel yang dibumbui (secara berlebihan) dengan fakta, Pengendara Badai juga ditulis dengan beberapa ketidaktepatan data yang mengganggu. Misalnya pada fragmen Tegal tahun 1950-an ketika Lanang menggambarkan kehidupan bioskop di Tegal dengan ikon Bioskop Dewa dan Dewi. Untuk menggambarkan situasi, Lanang menulis tiket bioskop Dewa seharga Rp. 350 dan biokop Dewi sekira Rp. 1.000. Akurasi data ini perlu dipertegas, bahwa nilai mata uang rupiah 350 tahun 1950 cukuplah besar dibanding kondisi senyatanya saat itu. Begitu juga saat tokoh aku diwawancarai Supali Kasim Redaktur Budaya Pikiran Rakyat Edisi Cirebon dalam fragmen Lawatan Sastra Tegalan Indramayu tahun 1995. Ketika bercerita latar belakang gerakan Sastra Tegalan tokoh aku mengutip UUD 1945 dan UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah sebagai kerangka konstitusional Sastra Tegalan. Ketidaktelitian setting waktu tahun 1995 dengan Undang-undang yang terbit tahun 2004 bisa jadi disebabkan psikologi Lanang masih dekat dengan Kongres Bahasa Tegal I yang digelar tahun 2006. Saat Lanang sebagai salah satu penyelenggara kongres tahun 2006, landasan konstitusional Undang-undang Otonomi Daerah tampaknya menjadi perbincangan hangat, 10 tahun setelah lawatannya ke Indramayu.

Batas antara fakta dalam fiksi merupakan perdebatan yang tak kunjung habis, yakni sejauh mana fiksi tunduk pada fakta. Sejumlah pengarang berpegang pada ‘licentia poetica’ yang ‘membolehkan’ pengarang untuk tidak taat pada tata bahasa (dan termasuk logika?). Namun pengarang lain beranggapan fakta perlu diakomodasi secara ketat dalam fiksi. Langit Kresna Hariadi misalnya buru-buru mengakui keliru menulis fakta kaburnya Prabu Jayanegara dalam kawalan Gajah Mada yang semula tertulis ke Kudadu menjadi Bedander sebagaimana pengetahuan publik dalam buku-buku teks sejarah. hal yang sama juga dialami novelis Ayu Utami yang dianggap tidak cermat dalam menulis proses tanaman kantung semar menangkap mangsanya dalam novel Larung.

Febrie Hastiyanto; Penulis tinggal di Tegal.

Dimuat Wawasan, Jumat, 17 September 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: