(Bukan) Bangsa Gagap Bencana

September 7, 2010

Realitas bahwa bangsa Indonesia hidup di kawasan yang rawan bencana sudah menjadi kesadaran banyak pihak. Tanah air kita misalnya, berada pada kawasan dengan pergerakan lempeng tektonik aktif sebab pertemuan lempeng Eurasia, Australia dan lempeng dasar Samudera Pasifik yang mengakibatkan wilayah Pantai Barat Sumatera hingga Pantai Selatan Jawa sebagai jalur gempa bumi, rangkaian gunung api aktif serta zona rawan bencana tanah longsor.

Selain disebabkan faktor alam, sebagaimana menurut UU No. 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana bencana disebabkan juga oleh faktor non alam seperti gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit hingga bencana sosial.

Tindakan paling arif menyikapi kemungkinan terjadinya bencana adalah menghindarkan diri dari ancaman bencana dengan melakukan usaha-usaha pencegahan atau menyiapkan diri bila bencana benar-benar terjadi dan tak dapat dihindari dengan melakukan usaha-usaha pengurangan risiko (mitigasi) bencana.

Sehingga masa paling baik dari fase kesiapsiagaan menghadapi bencana justru bukan ditunjukkan ketika bencana terjadi pada periode tanggap darurat maupun rehabilitasi serta rekonstruksi melainkan pada saat bencana belum terjadi sehingga risiko bencana dapat dihindari.

Seringkali faktor-faktor alam maupun non alam yang kita sebut sebagai ‘rawan bencana’ sesungguhnya masih berstatus ‘ancaman’, karena belum benar-benar menjadi bencana.

Ancaman dapat dipahami sebagai potensi kerawanan dan kerentanan yang mengakibatkan bencana (kerugian jiwa, material, psikologis, dan seterusnya). Karena itu program-program pengurangan risiko bencana (mitigasi) perlu dilakukan sejak dini agar ancaman tidak benar-benar menjadi bencana.

Gunung api yang menurut kemampuan saintifik diprediksi akan erupsi misalnya, adalah ancaman. Ancaman erupsi gunung api ini bisa menyebabkan bencana, namun bisa jadi tidak mengakibatkan bencana atau kemungkinan bencana yang lebih besar dapat diminimalkan dengan usaha-usaha mitigasi.

Mengelola ancaman dipandang membutuhkan biaya ekonomi, sosial, politik, dan psikologis yang lebih murah ketimbang menangani bencana melalui program-program tanggap darurat maupun rehabilitasi dan rekonstruksi.

Kerentanan dan afirmasi anggaran

Faktor yang hendak diemansipasi dari pengurangan risiko bencana adalah mengurai kerentanan yang ada di sekitar kawasan ancaman yang dapat memperburuk ancaman menjadi bencana.

Kerentanan dapat terjadi pada setiap lini, dari kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintah (daerah), kapasitas kelembagaan dan sumber daya manusia penduduk yang tinggal di kawasan rentan bencana, kapasitas alam (geologi, kontur atau bentang alam), hingga kapasitas infrastruktur.

Afirmasi untuk mengurai kerentanan menjadi kekuatan sudah seharusnya dilakukan secara terus menerus, berkesinambungan, dan yang paling penting tidak harus saat bencana diprediksi sebentar lagi terjadi.

Pemerintah dan pemerintah daerah dapat berperan aktif dengan sumber daya aparatur, kelembagaan dan terutama anggaran yang dikelolanya untuk mengurai kerentanan yang ada melalui program dan kegiatan pembangunan sehari-hari. Program dan kegiatan yang dilakukan pemerintah misalnya dapat menjadikan isu bencana sebagai salah satu indikator capaian kinerja pada program dan kegiatan yang bisa jadi tidak bersinggungan langsung dengan bencana.

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Dinas Pendidikan misalnya, dapat melakukan pengurangan risiko bencana melalui kurikulum dalam muatan lokal atau dapat ditambahkan sebagai pengayaan pada mata pelajaran terkait seperti Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Alam atau ekstrakurikuler Pramuka.

Sekolah-sekolah yang berada di kawan longsor dapat memberi informasi yang benar, sederhana, dan mudah dimengerti meliputi usaha-usaha mencegah terjadinya bencana dan apa yang harus dilakukan bila bencana benar-benar terjadi. Hal serupa dapat dilakukan di kawasan-kawasan risiko tinggi terhadap jenis ancaman bencana lain.

SKPD lain, seperti Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil atau Badan Pusat Statistik misalnya, sejak dini dapat melakukan pemetaan terhadap penduduk yang bermukim di kawasan rawan bencana.

Ini meliputi kerentanan apa saja yang ada pada mereka sehingga perlu segera dimitigasi sejak dini. Kerentanan ini dapat berupa kapasitas ekonomi, kapasitas perhubungan dan transportasi atau kerentanan kesehatan seperti penyakit, lansia, maupun warga dengan kebutuhan khusus.

Dinas Pekerjaan Umum dapat melengkapi standar proyeknya menjadi infrastruktur yang tangguh menghadapi bencana, disesuaikan dengan kerentanan jenis ancaman bencana di wilayahnya. Atau sejak dini membangun infrastruktur pendukung, seperti tanggul atau sabo dam termasuk jalur-jalur evakuasi.

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi secara rutin dapat membangun sistim kewaspadaan dini, baik menggunakan teknologi khusus seperti alat deteksi dini tsunami, atau longsor maupun sistim kewaspadaan dini dengan memberdayakan kelembagaan masyarakat semacam sistim ronda.

Dinas Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan dapat melengkapinya dengan melakukan usaha-usaha mengembalikan fungsi hutan dan menjaga kesesuaian bentang alam.

Anggaran responsif bencana juga menegaskan bahwa tanggungjawab pengelolaan bencana bukan hanya tanggungjawab Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang dibentuk menurut amanat undang-undang.

Keberadaan BNPB dan BPBD selain berdampak strategis juga dapat menjadikan salah-tafsir termasuk di lingkungan pemerintahan sendiri, bahwa tanggungjawab pengelolaan bencana semata-mata menjadi urusan BNPB dan BPBD.

Anggaran responsif bencana akan mendorong partisipasi SKPD lain di pemerintahan untuk berpikir, bertindak dan bergerak bersama dalam usaha pengurangan risiko bencana.

Febrie Hastiyanto; Penulis adalah mantan Koordinator Kelompok Studi Idea (2008-2009).

Dimuat Waspada, 31 Agustus 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: