AT Mahmud dan Imajinasi Kanak-Kanak

Juli 19, 2010

Tak salah bila banyak orang mengatakan dunia anak adalah dunia imajinasi. Imajinasi pula yang mengisi jiwa anak, membuatnya siap menghadapi hidup remaja, dewasa, dan tua. Menjadi anak tanpa imajinasi sering dipopulerkan orang dalam adagium sebagai masa kecil kurang bahagia. Meski demikian, tak banyak orang dewasa yang peduli mengisi jiwa anak-anak Indonesia, dengan karya-karya baik berbentuk lagu, film, cerita atau dongeng yang menemani kedewasaan anak-anak kita. Meski imajinasi milik anak-anak, orang dewasalah yang harus menyediakan diri meramunya dalam karya, walaupun tak sedikit anak-anak yang telah berkarya sejak belia. A.T. Mahmud termasuk salah satu orang dewasa yang senantiasa mengembangkan imajinasi anak-anak di tanah air, di samping nama-nama seperti Pak dan Bu Kasur, Ibu Sud, Pak Dal, Soekanto SA, Drs. Suyadi (Pak Raden), Ria Enes, hingga Kak Kusumo.

Mengisi Jiwa
Umumnya karya-karya A.T. Mahmud yang diperuntukkan bagi anak dalam melewati masa kanak-kanaknya banyak bercerita hal-hal sederhana namun kaya pesan. Tengok saja lirik Ambilkan bulan bu, untuk menemani/Tidurku yang lelap, di malam gelap dalam lagu Ambilkan Bulan yang bercerita betapa hangatnya anak dalam buaian bundanya saat ia bersiap-siap tidur malam. Juga pesan untuk mengagumi ciptaan Tuhan dalam bagian akhir lagu Pelangi, Pelukismu Agung, siapa gerangan/Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan.
A.T. Mahmud juga memikat dalam menggambarkan suasana batin anak-anak kita terbebas dari ‘belenggu’ sekolah dalam Libur T’lah Tiba. Simak saja anak-anak bersemangat untuk Simpanlah tas dan bukumu/ Tinggalkan keluh kesahmu/ Libur t’lah tiba/ Libur t’lah tiba/ Hatiku gembira. Lirik ini seakan hendak mengingatkan orang tua masa kini untuk tak bernafsu memberi ‘ilmu sebanyak-banyaknya’ kepada putera-puterinya melalui les privat, kegiatan-kegiatan ektrakurikuler, atau sekolah standard ini itu. Bagi A.T. Mahmud masa dan kebutuhan anak-anak adalah bermain sembari belajar. Titik.

Untuk mewakili citra anak-anak kita yang semakin jauh bergelut dengan lumpur persawahan, termasuk bagi anak-anak yang kini bermukim di desa, A.T. Mahmud menggubah Pamanku Datang yang bercerita Kemarin paman datang/ Pamanku dari Desa. Suka cita kanak-kanak bersambut ketika Padaku paman berjanji/ Mengajak libur di desa. Kita dapat membayangkan bagaimana ekstase perasaan kanak-kanak yang digambarkan dalam Hatiku girang tidak terperi/ Terbayang sudah aku di sana/ Mandi di sungai, turun ke sawah/ Menggiring kerbau ke kandang. Lagu ini melengkapi ekspresi kanak-kanak bertualang Setiap hari kubawa ternak/ Ke padang rumput di atas bukit/ Rumputnya banyak, hijau dan segar/ Ternakku makan tak pernah s’dikit dalam Anak Gembala.

Meski bercerita soal-soal sederhana, A.T. Mahmud tak ketinggalan mengisi jiwa anak bangsa dengan semangat nasionalisme dan kebanggaan menjadi patriot. A.T. Mahmud menulis Aku anak Indonesia/ Anak yang merdeka. Bagi anak-anak yang lahir setelah perang kemerdekaan, makna ‘merdeka’ dalam lirik ‘anak yang merdeka’ mungkin berbeda dengan anak-anak yang lahir ketika zaman Belanda hendak masuk ke kolam renang terpampang tulisan verboden toegang voor honden en inlander terjemah dari (maaf) anjing dan pribumi dilarang masuk. Karena itu A.T. Mahmud menggarisbawahi agar anak Indonesia yang Seribu pulaunya, ragam sukunya/ Satu jiwa raganya menyambut sorak Indonesia, Indonesia/ Aku bangga menjadi, anak Indonesia.

Dalam perjalanan bermusiknya, A.T. Mahmud tak selalu bergembira. Ketika republik ini berduka tahun 1965, salah satu anak Indonesia Ade Irma Suryani gugur tertembak ketika ayahnya Jenderal A.H. Nasution hendak diculik pasukan G 30 S/PKI. A.T. Mahmud mengenang Akan kuingat selalu/ Ade Irma Suryani/ Waktu dipeluk, dipangku ibu. Menyanyikan lagu ini membuat anak-anak, terutama mereka yang mengalami masa-masa itu banyak yang meneteskan air mata. Mengingat Ade Irma Suryani sebagai Anak saja jang tertjinta. Engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ajahmu kalimat yang terpahat di nisan Ade yang kini dimakamkan di kompleks Balaikota Jakarta Selatan.

Karya Abadi

Di usianya yang senja, 80 tahun, A.T. Mahmud berpulang meninggalkan anak-anak Indonesia dan karya-karyanya yang abadi. Tak kurang dari 500 lagu anak telah diciptanya, yang membuatnya menerima Piagam Hadiah Seni dari pemerintah melalui Mendikbud (1999), Anugerah Pendidikan Seni dari Rektor UNJ (2003), Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden Megawati Soekarnoputri (2003), Life Time Achievement dalam Anugerah Musik Indonesia (2004). Bila banyak anak-anak yang kini menjadi orang tua merasa mendapat banyak pengalaman dari lagu-lagu A.T. Mahmud, tak ada salahnya bila anak-anak kita hari ini (kembali) diperdengarkan lagu-lagu sang maestro dan didampingi untuk menonton televisi secara cerdas di rumah. Tabik.

Febrie Hastiyanto; Ayah seorang anak. Bekerja pada Bappeda Kabupaten Tegal.

Dimuat Pikiran Rakyat, Senin 19 Juli 2010.

3 Tanggapan to “AT Mahmud dan Imajinasi Kanak-Kanak”

  1. Mas Sidieq Says:

    AT Mahmud adalah Guru, panutan, tokoh besar bagi rakyat Indonesia…Terlalu banyak karyanya yang luar biasa…
    I Love U AT Mahmud…

  2. Mas Sidieq Says:

    Mas febri, sekedar saran, sebaiknya blog-nya dikasih “Google translate” biar bisa dibaca orang luar negeri.. pake bahasa mereka. Pakai Script html ini, masukkan ke blog ini:

    function googleTranslateElementInit() {
    new google.translate.TranslateElement({
    pageLanguage: ‘en’
    }, ‘google_translate_element’);
    }

    Selamat mencoba, mudah-mudahan bermanfaat…

  3. Mas Sidieq Says:

    Waduh..diatas script-nya kok berubah….? wah, maaf ya…!
    atau buka
    http://translate.google.com/translate_tools?hl=en&layout=1&eotf=1

    copy paste translator toolkitnya kdlm blogge njenengan…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: