Gerakan Mahasiswa Tegal

Juni 25, 2010

Gerakan mahasiswa biasanya berbasis pada kampus-kampus negeri—maksudnya universitas yang ujian masuknya dilakukan secara nasional lewat SPMB—seperti di kota Solo, Yogya, Semarang atau Purwokerto. Namun, beberapa kota yang tidak memiliki kampus negeri semisal Kudus, Salatiga, Magelang atau Pekalongan gerakan mahasiswanya pun terlihat dinamis. Ditandai dengan kritisisme dan greget gerakan mahasiswanya dalam mengawal wacana lokal maupun nasional. Setidaknya dapat dilihat dari berita-berita di media massa yang kita baca. Namun, hal yang sama tidak terjadi di Tegal. Seperti halnya Kudus, Salatiga, Magelang atau Pekalongan, Tegal tidak memiliki kampus negeri namun memiliki kampus-kampus swasta yang besar. Universitas Panca Sakti Tegal atau STAI IBN Slawi misalnya, dapat disejajarkan dengan Universitas Muria Kudus, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Tidar Magelang, atau Universitas Pekalongan. Bila kondisi, latar belakang dan karakteristik kota relatif sama, mengapa gerakan mahasiswa secara relatif tidak lahir di Tegal?

Inferioritas Mahasiswa

Gejala umum dari kota yang tidak memiliki kampus negeri adalah inferioritas aktivis mahasiswanya dalam retorika gerakan mahasiswa regional maupun nasional. Kota-kota yang memiliki kampus negeri cenderung telah memiliki tradisi gerakan yang mapan. Selain memiliki pengajar yang memenuhi kualifikasi—setidaknya karena pegawai negeri—dosen-dosen kampus di kota-kota Solo, Yogya, Semarang atau Purwokerto juga seringkali aktif mendorong terbangunnya gerakan, semisal aktif berdiskusi maupun membangun kontak dan jaringan dengan gerakan. Selain itu jumlah mahasiswa yang berbilang puluhan ribu, sarana dan alokasi dana kampus yang relatif memadai membuat gerakan mahasiswa memiliki sejumlah kemudahan dan akses untuk bergerak. Kondisi ini yang tidak dinikmati kampus-kampus swasta.
Tetapi asumsi inferioritas secara relatif tidak melulu menjadi satu-satunya penyebab mandulnya gerakan mahasiswa di kota yang tidak memiliki kampus negeri. Gerakan mahasiswa Salatiga misalnya memiliki tradisi yang panjang dalam gerakan mahasiswa, paling tidak sejak advokasi kasus Kedung Ombo. Kampus ini memiliki fasilitas yang cukup, sejumlah pengajar yang kritis—sebut saja Arief Budiman, Ariel Heryanto atau Sritua Arief. Begitu juga dengan gerakan mahasiswa Kudus, yang tradisi pergerakannya terbangun karena kultur NU-nya yang kuat. Sehingga tidak heran bila mahasiswa berbasis ideologi NU yang banyak mewarnai gerakan mahasiswa Kudus.

Inferioritas ini yang tampaknya menggejala pada Gerakan Mahasiswa Tegal. Peran dan posisi gerakan mahasiswa justru lebih banyak dilakukan oleh elemen masyarakat kritis lain, seperti LSM atau komite-komite aksi taktis yang dibentuk. Inferioritas dapat segera dibaca pada pilihan menggunakan strategi dan taktik dalam komite-komite aksi sekaligus tidak menggunakan identitas kemahasiswaan, meskipun sangat mungkin aktivis komite-komite aksi ini ada yang berstatus mahasiswa.

Gejala lain selain inferioritas adalah kultur umum masyarakat Tegal yang diwarnai oleh kebudayaan pesisir. Dalam pandangan yang stereotipik kita dapat menyebut masyarakat berkultur pesisir sebagai masyarakat yang kosmopolit, memiliki jiwa wirausaha dan watak bisnis yang tinggi sekaligus bersikap cenderung apolitis. Energi kehidupan lebih banyak tercurah pada kegiatan-kegiatan berekonomi praktis. Tampaknya gejala ini turut berperan dalam pembentukan karakteristik Gerakan Mahasiswa Tegal yang cenderung kurang sigap dan kritis dalam dinamika wacana lokal maupun nasional.

Belajar dari Tetangga

Harus ada upaya aktif dari Gerakan Mahasiswa Tegal untuk membongkar nalar gerakan menjadi lebih dinamis, kritis dalam mewarnai pergulatan wacana lokal dan lebih dekat kepada masyarakat basis.. Bentuknya dapat dengan belajar dari tradisi gerakan-gerakan mahasiswa kota-kota tetangganya, semisal Purwokerto, Pekalongan bahkan Cirebon yang relatif lebih mapan. Pun sebaliknya, gerakan mahasiswa ketiga kota tersebut bukan tidak mungkin menjadi mentor bagi Gerakan Mahasiswa Tegal.

Saat ini gerakan mahasiswa cenderung bermain dalam wacana politik, dan kalaupun mengadvokasi masyarakat basis lebih banyak terkonsentrasi pada kelompok-kelompok Kaum Miskin Kota (KMK) seperti buruh, pengamen, PKL, atau becak. Pola gerak ini sangat mungkin terpengaruh pada karakteristik kota-kota besar semisal Solo, Yogya, Semarang atau Purwokerto yang dijadikan contoh bagi gerakan mahasiswa kota-kota kecil. Padahal masyarakat basis pada komunitas-komunitas petani maupun nelayan juga dapat dijadikan kawan belajar bergerak bersama bagi gerakan. Terlebih Tegal dengan kultur pesisiran yang kental, pilihan untuk mengadvokasi komunitas nelayan yang tidak berdaya dan marginal tentu saja dapat menjadi pilihan yang tepat.

Febrie Hastiyanto; mantan Ketum Lapmi HMI Cabang Solo. Kini tinggal di Slawi.

Dimuat dalam Tahu Serius: Antologi Slawi Ayu (2008).

Satu Tanggapan to “Gerakan Mahasiswa Tegal”


  1. Lo menurut saya pola berfikir mahasiswa2 Tegal masih seperti anak kecil, mereka hanya bisa bermain2, mejeng d kampus, n bersenang2, dan cuma bisa menghabiskan duit ortu,,,sama seperti anak2 SMA..
    tu yg saya alami saat ni sebagai mahasiswa di LP3I Tegal semua tmn masih seperti itu,
    dulu selagi masih tinggal d jakarta anak2nya g seprti ini mereka lebih dewasa, berani berbuat dan juga berani bertanggung jawab,.
    anak tegal hanya bisa menjadi makmum, cuma ngikut doank, cuma omdong(omong doank) se’x d bentak langsung mlempem kaya krupuk kena air..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: