Soal Landmark Kota Slawi

Juni 24, 2010

Sejak ditetapkan menjadi ibukota Kabupaten Tegal pada tahun 1986 dan diresmikan Mendagri Rudini tahun 1989 Kota (Kecamatan) Slawi segera melakukan berbagai usaha untuk mempercantik kota, sekaligus menegaskan keberadaan Kota Slawi yang berbeda dengan Kota Tegal. Penegasan ini menjadi penting terutama karena keberadaan Kota Slawi berada dalam bayang-bayang Kota Tegal. Bagi persepsi sebagian besar publik di luar eks Karesidenan Pekalongan tentu masih sering terbolak-balik menandai keberadaan Kota Tegal dan Kabupaten Tegal dengan Kota Slawi sebagai ibukotanya. Apalagi keberadaan Kota Slawi hanya 15 kilometer atau dua puluh menit perjalanan bus dari Kota Tegal. Posisi yang demikian dekat ini menjadikan Kota Slawi sebagai kota satelit (hinterland) dari Kota Tegal. Dengan sendirinya usaha untuk menjadikan Kota Slawi sebagai kota yang mandiri menjadi tantangan tersendiri.

Belum Punya Landmark

Keberadaan penanda wilayah (landmark; tetenger (jw)) bagi suatu kota akan menjadikan kota itu lebih mudah diingat publik. Lebih jauh, landmark menjadi cerminan sekaligus spirit kota yang dapat dibaca dalam retorika kebudayaan (lokal). Beberapa kota—di Indonesia maupun dunia—secara relatif telah memiliki landmark yang dengan segera mengingatkan publik akan kota tersebut. Seperti Tugu Monumen Nasional (Monas) di Jakarta—di samping Tugu Selamat Datang atau Bundaran Hotel Indonesia (HI), Tugu Muda di Semarang, Tugu Pahlawan di Surabaya, Patung Singa lengkap dengan air mancurnya di Orchard Road Singapura, Menara Petronas di Kuala Lumpur, Patung Liberty di Amerika Serikat maupun kubah keong Sydney Opera di Sidney sebagai misal. Beberapa landmark ini tidak selalu gigantis, seperti Patung Singa di Singapura, Tugu Muda di Semarang maupun Tugu Pahlawan di Surabaya bentuknya hanya kecil saja. Namun, siapapun sepakat bahwa tanpa landmark yang sudah demikian branded ini, keberadaan Singapura lebih sulit untuk dikenang oleh persepsi publik tanpa mengingat Patung Singa yang kecil saja itu.

Landmark juga tidak selalu berdimensi lampau, sehingga menjadi bangunan kuno seperti Menara Pisa di Italia yang doyong, Borobudur yang telah dipugar beberapa kali atau Baitullah yang suci di Mekkah. Kubah keong teater di Sidney bahkan baru dibangun pada tahun 1970-an saja, namun dengan segera menjadi landmark dan ikon Kota Sidney. Hal ini dapat terjadi karena sebelumnya belum ada landmark yang demikian eksotik di Sidney. Boleh dibilang, seiring dengan perkembangan Sidney yang memposisikan diri sebagai kota pendidikan menjadikan retorika Sidney dalam pergaulan kota-kota di dunia cepat menjadi buah bibir. Bahkan telah menandingi Canberra sebagai ibukota negara Australia.

Bahkan bila kita tidak cermat, banyak kota-kota tua yang tidak memiliki landmark yang ’ringkas’ dan mudah diingat dalam sebuah ’gambar foto’. Sebut saja Solo atau Yogya. Kedua kota ini memang terhitung kota tua di Jawa. Mereka memiliki ikon-ikon khas, seperti Pasar Klewer dan Kraton Kasunanan—serta Pura Mangkunegaran bagi Solo. Juga Jalan Malioboro, Kraton Kasultanan, Pura Pakualaman dan bolehlah disebut Candi Prambanan dan Monumen Yogya Kembali (Monjali)—yang disebut terakhir belakangan ini surut pamornya—bagi Yogya. Sebuah Pasar Klewer maupun Jalan Malioboro demikian melegenda di Solo dan Yogya. Tetapi kedua kota ini tidak memiliki sebuah landmark yang ’ringkas’ dan mudah diingat dalam sebuah ’gambar foto’. Pasar Klewer demikian luas, sedang Jalan Malioboro kita tahu membentang sekira satu kilometer lebih hingga menyatu dengan Jalan Jenderal Sudirman. Beruntung Yogya masih memiliki Tugu Yogya meski tingginya menyusut drastis dari tugu yang dibangun Sultan Hamengkubuwono. Realitas seperti ini tidak dimiliki oleh Kota Solo, sehingga dikabarkan seorang pengusaha akan membangun sebuah landmark yang gigantis di bilangan Solo Baru untuk memudahkan publik mengigat Kota Solo dari melihat sebuah landmark-nya yang ’ringkas’.

Bahkan dalam wilayah yang masih memiliki keterikatan historis dan kultural dengan Tegal sebagai wilayah kebudayaan—melewati wilayah-wilayah administratif, belum ada landmark yang mampu mengingatkan publik kepada Tegal. Baik Kota Tegal, Kabupaten Tegal, Kabupaten Pemalang hingga Kabupaten Brebes belum ada satupun yang memiliki landmark khas bernuansa Tegalan. Kota Tegal sebenarnya memiliki Tugu Poci yang menjadi bagian dari Taman Poci di depan Stasiun Kereta Api Tegal. Namun, baik Tugu Poci maupun Taman Poci agaknya tidak dirancang sebagai landmark yang utuh mengingat keberadaannya tampaknya hanya sebagai ’tempelan’ saja. Selain kurang gigantis, keberadaan Taman Poci tampak tenggelam di antara ruang publik (publik space) lain Kota Tegal seperti alun-alun, atau pusat ’rekreasi kota’ di beberapa mal Kota Tegal. Kondisi ini sebenarnya menyadarkan kita untuk segera membangun landmark Kota Slawi yang tidak hanya menjadi milik Kota Slawi dan Kabupaten Tegal, namun secara lebih luas dapat mengakomodasi kultur Tegalan yang menjadi spirit empat kabupaten/kota pemilik budaya itu.

Revitalisasi Monumen GBN dan Masjid Agung

Pemerintah Kabupaten Tegal dalam waktu dekat merencanakan akan merevitalisasi Monumen Gerakan Banteng Negara (GBN) dan Masjid Agung yang berada tepat di depannya. Disebut-sebut bentuknya akan dibangun taman kota di antara kedua lokasi ini. Boleh jadi, taman di Monumen GBN dan Masjid Agung—yang belum ada namanya ini—menjadi bagian dalam usaha mempercantik Kota Slawi. Keberadaan alun-alun sebagai sebuah landmark bukan sesuatu yang baru lagi di Jawa, mengingat hampir setiap kabupaten/kota memiliki alun-alun. Karena itu public space di antara Monumen GBN dan Masjid Agung ini haruslah menjadi taman yang ’lain’ sehingga memiliki nilai sebagai landmark.

Adalah tidak berlebihan bila di taman—sebut saja Taman Slawi—dibangun sebuah bangunan yang dirancang sebagai landmark. Kota Slawi sebelumnya telah memiliki beberapa bangunan menyerupai tugu yang sebenarnya dapat menjadi landmark. Seperti tugu air mancur di Alun-Alun Slawi, atau tugu tahu aci di bilangan Slawi Pos. Namun kedua bangunan ini tampaknya tidak dirancang untuk mencuri perhatian dan menusuk dalam ingatan publik. Tugu air mancur bentuknya ’sangat biasa’ dan bentuk serupa mudah ditemui di kota lain. Sedang tugu poci dan tahu aci selain terlalu kecil, juga lokasinya yang nyempil di dekat menara air (waterleding) Slawi Pos. Bagi publik yang tidak cermat, tugu poci ini niscaya terlewat mengingat keberadaan menara air yang lebih mencolok.

Ada banyak hal yang dapat diekspos pemerintah kabupaten untuk dijadikan landmark. Dari sisi kuliner misalnya, dapat dibangun landmark yang akan mengingatkan publik pada poci atau tahu aci yang memang hanya ada di Tegal. Dari dinamika politik misalnya, dapat dibangun landmark untuk mengenang peristiwa tiga daerah pemberontakan kaum kiri tahun 1945-1946, atau peristiwa DI/TII—untuk yang terakhir sudah ada Monumen GBN yang akan direvitalisasi. Bila pilihannya pada tokoh, Tegal memiliki sosok Ki Gede Sebayu atau Tumenggung Martoloyo masing-masing sebagai pendiri dan tokoh fenomenal penentang kolonialisme di Tegal.

Namun, landmark tidak hanya dapat berujud tugu atau benda-benda yang memang dirancang sebagai penanda semata. Justru landmark yang dipersepsi publik dari bangunan-bangunan yang memang memiliki kegunaan tertentu—semisal teater di Sidney Opera; gedung perkantoran seperti World Trade Centre (WTC) New York maupun Menara Petronas; gedung instansi pemerintahan sebagaimana White House di Washington DC, Gedung MPR/DPR maupun Gedung Bundar Kejagung; atau sebagai monumen seperti Monas—akan memiliki manfaat yang langsung dapat dirasakan publik. Di Kota Slawi masih memungkinkan untuk dibangun sebuah gedung semacam itu. Peruntukannya dapat direncanakan kemudian. Sebagai pusat kebudayaan, ekonomi, atau pemerintahan.

Landmark dan Kesejahteraan Rakyat

Perdebatan yang sering terjadi dari rencana pembangunan landmark adalah dampak langsung landmark tersebut bagi rakyat. Lebih khusus lagi relevansi sebuah landmark bagi kesejahteraan rakyat yang menjadi orientasi-normatif pembangunan. Tentu saja, pembangunan landmark harus dilakukan secara kritis. Namun bukan berarti membangun landmark di saat situasi negara (dan daerah) sedang prihatin seperti saat ini menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Karena pemaknaan atas kesejahteraan rakyat tentu tidak semata bertumpu pada pemahaman secara nonfisik semisal terpenuhinya kebutuhan subsistensi dasar, pengurangan angka pengangguran yang siginifikan hingga kesempatan untuk memperoleh hidup layak, tetapi juga dilihat dari aspek-aspek fisik-noninfrasutruktur.

Memang sebuah landmark bukan infrastuktur fisik yang dampaknya akan terasa langsung oleh rakyat—seperti jalan, fasilitas umum dan fasilitas sosial. Namun, bila kita hitung dampak-ikutannya (multiflier effect), keberadaan landmark baru terasa kemudian. Di sektor ekonomi, landmark akan menjadi gula-gula ekonomi baru yang mengundang bangkitnya investasi termasuk investasi sektor ekonomi nonformal bila landmark itu sekaligus dijadikan kawasan kunjungan wisatawan. Secara politik dan kultural, keberadaan landmark akan menyajikan citra (image) kota yang menegaskan keberadaan kota dalam pergaulan antarkota baik di wilayah regional, nasional, maupun global. Sehingga, pembangunan sebuah landmark yang dilakukan secara kritis dan tidak korup tentulah bukan sebuah proyek mercusuar semata.

Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IDEA Slawi. Bekerja pada Bapeda Kab. Tegal.

Dimuat Suara Pertiwi, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: