Semrawut di Negeri Ajaib

Juni 24, 2010

Menjadi rakyat republik ini sungguh ajaib. Separo lebih penduduknya dikategorikan miskin. Sehingga mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) Program Kompensasi Pengurangan Subsidi (PKPS) BBM sebesar Rp 300 ribu untuk tiga bulan. 15 juta lebih penduduk menerima cash transfer ini. Jumlahnya membengkak berlipat-lipat setelah dibuka pendaftaran gelombang kedua. Pencairan BLT yang dimulai 1 Oktober kemarin di 15 kota di Indonesia dan sejak 11 Oktober di kabupaten dan kota lain cukup heroik. Di Demak, seorang meninggal saat antre mencairkan BLT. Di Banjarnegara, satu truk berisi 40 orang naas tergelincir, seorang tewas dan banyak yang luka-luka. Di lombok Tengah Lurah dijotos. Di Solo Ketua RT melempar asbak penerima BLT, di samping aparat kelurahan memalsu data keluarga miskin (gakin). Tidak terhitung yang pingsan. Sejumlah Kantor badan Pusat Statistik (BPS) tidak luput digruduk warga. Banyak Kartu Kompensasi BBM (KKB) salah sasaran. Ketua RT dan Lurah serba salah. Sementara BPS tidak bisa menjawab.

Sejak dari hulu, banyak celah terjadi gejolak dari penyaluran dana kompensasi ini. Secara filosifis, banyak kalangan menganggap pemerintah tidak mendidik rakyatnya dengan memberi ikan, bukan kail dalam mengentaskan kemiskinan—jargon yang selalu menjadi legitimasi setiap rejim yang berkuasa di republik ini tanpa pernah menunjukan gebrakan yang nyata dirasakan rakyat. Secara politis, langkah pemerintah memberi subsidi atas kompensasi kenaikan BBM hingga lebih 100 persen dianggap sebagai langkah basa-basi agar masyarakat tidak bergejolak dan turun ke jalan. Walaupun dari banyak ekspos media kita ketahui banyak rakyat memilih BBM tidak usah dinaikan ketimbang memperoleh Rp 300 ribu yang sekejap saja sudah tandas: membayar utang, atau menambah budget makan sehari-hari. Namun, selepas 1 Oktober saat Rp 300 ribu tidak lagi berada di kantong, rakyat memilih kembali menggunakan kayu bakar karena harga minyak tanah di pasaran antara Rp 2.500 hingga Rp 3.000.
Secara metodologis, banyak kelemahan di mulai dari hulu. Inpres No 12 Tahun 2005 tentang BLT baru diteken 10 September. Sedang pendataan dilakukan hanya sebulan sebelumnya, antara 19 Agustus hingga 5 September. Verifikasi oleh BPS Pusat dilakukan sejak 15 September hingga 25 September. Pencetakan KKB dilakukan pada 16 September sampai 29 September untuk dibagikan tanggal 1 sampai 5 Oktober untuk 15 kota. Tidak salah kalau pihak BPS di daerah berkilah waktu pelaksanaan yang mepet menjadi biang keladi kesemrawutan.
Belum lagi metode pendataan yang melibatkan Ketua RT. Sebelum survei, BPS meminta rekomendasi Ketua RT siapa saja warga yang diduga miskin, baru kemudian pencacah BPS melakukan survei. Kelemahan metode ini ada pada subjektifitas Ketua RT—dalam like and dislike dengan warganya. Belum lagi—lagi-lagi karena mepetnya waktu—diakui kemudian banyak petugas pencacah tidak melakukan kroscek door to door ke rumah-rumah warga. Tidak salah kalau kemudian KKB didapati salah sasaran.

Selain faktor SDM dalam metodologi, masih ada celah KKB salah sasaran dari kejujuran responden menjawab kuesioner yang diajukan. Kejujuran ini berguna saat petugas pencacah meminta responden menjawab kuesioner. Banyak kasus KKB salah sasaran karena warga yang sebenarnya miskin gengsi mengaku miskin. Atau sebaliknya, warga yang sebenarnya berpunya mengaku miskin karena mengetahui akan memperoleh subsidi. Kategori yang kedua tampaknya mendominasi dalam pendataan pada putaran kedua yang sudah dilakukan di 15 kota, karena warga telah sadar mendaftar untuk memperoleh subsidi. Berbeda dengan pendataan putaran pertama, saat rencana subsidi dari pemerintah ini hanya bocor di beberapa kasus saja.

BPS menetapkan 14 variabel uji dengan 4 variabel program intervensi dalam survei Pendataan Sosial Ekonomi (PSE) 2005 kemarin—yang digunakan pemerintah sebagai data gakin yang memperoleh BLT. Terdapat empat kategori dalam verifikasi BPS Pusat, pertama gakin sangat miskin dengan konsumsi 1.900 kalori per orang per hari dan pengeluaran non makanan sebesar Rp 120 ribu per orang per bulan. Kategori miskin dengan konsumsi kalori 1.900 sampai 2.100 per hari dan mengeluarkan biaya Rp 150 ribu per bulan selain untuk makan. Sedang kategori mendekati miskin dengan konsumsi antara 2.100 sampai 2.300 kalori setiap hari dan pengeluaran non makanan Rp 175 ribu sebulan. Dalam verifikasi BPS Pusat skoring dilakukan atas ketiga kategori ini, yang tentu saja dihitung secara teoritis-linier. Secara faktual, tentu saja terdapat beragam komposisi tingkat ekonomi rakyat kita yang tidak mungkin terdefinisikan secara linier. Sebagai misal, seorang miskin “biasanya” dikategorikan dari pendidikannya yang tidak tamat SD. Namun kenyataan di lapangan kita temui warga yang bergelar sarjana tapi pengangguran. Dan sejumlah tamatan SD ada yang menjadi juragan. Distorsi kriteria seperti ini sudah kita lihat hasilnya. Jutaan warga yang telah didata sebelumnya masuk kategori tidak miskin yang berarti tidak berhak memperoleh BLT.

Yang harus menjadi perhatian saat ini adalah langkah “bunuh diri” yang dilakukan pemerintah dengan membuka pendataan tahap kedua. Apalagi Menko Kesra Alwi Shihab pernah menjanjikan berapapun angka yang diusulkan akan direalisasikan. Kebanyakan rakyat yang mendaftar di putaran kedua ini haqul yakin akan menerima subsidi. Karena mereka merasa pemerintah saat ini ketakutan sehingga membuka pendataan baru. Bila pemerintah tidak merealisasikannya, berarti tiga bulan lagi dipastikan headline media massa menyuguhi kita berita-berita soal gejolak rakyat yang bukan tidak mungkin lebih besar dari letupan-letupan kemarin. Moral program ini bagi pemerintah jelas: jangan mempermain-mainkan orang miskin di republik ini. Menjadi pemerintah repot, menjadi orang miskin susah. Memang republik ajaib!

Febrie Hastiyanto; Mantan Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo. Menulis skripsi mengenai Gerakan Mahasiswa Solo 1998 di Departemen Sosiologi FISIP UNS.

Dimuat dalam Jawa Pos, 2005.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: