Pekerja Kebudayaan Slawi, Pulanglah

Juni 24, 2010

Kota Slawi (sebagai representasi Kabupaten Tegal) memang bukanlah pusat kebudayaan terkemuka di wilayah pantura barat Jawa Tengah. Publik misalnya, lebih familiar dengan Kota Tegal maupun Brebes untuk menyebut sentra kebudayaan pesisiran Jawa Tengah di wilayah itu. Slawi belum menjadi sebuah kota yang mandiri dalam berkebudayaan terutama karena keberadaan Slawi sebagai kota satelit (hinterland) Kota Tegal. Slawi selalu berada dalam bayang-bayang Kota Tegal, termasuk dalam berkesenian dan berkebudayaan.

Budaya Tegalan

Tulisan ini tidak ingin mengulas seperti apa kebudayaan Tegalan, kalaupun ia ada dan memenuhi ‘syarat’ sebagai kebudayaan yang berdiri sendiri dari kebudayaan-kebudayaan lain, semisal Banyumasan atau Pekalongan di daerah tetangga yang telah lebih dahulu mapan. Dalam konteks kebudayaan Tegalan, khususnya kebudayaan Kabupaten Tegal, sejumlah kalangan masih meragukan keberadaan Slawi sebagai representasi. Slawi sebagai ibukota kabupaten ternyata masih belum mengakar dalam sanubari publik sebagai ‘Kabupaten Tegal’. Warga Kabupaten Tegal masih suka menyebut dirinya sebagai ‘Orang Margasari’ bagi yang bermukim di wilayah selatan, atau ‘Orang Mejasem’ bagi warga yang tinggal di perbatasan dengan Kota Tegal, atau ‘Orang Suradadi’ untuk mereka yang hidup di jalur pantura.

Secara relatif hanya warga yang berdomisili di wilayah agraris seperti Bojong, dan Bumijawa yang mengidentifikasi sebagai ‘Orang Slawi’ sebagai kata lain dari ’Orang Kabupaten Tegal’ . Hal ini dapat dimaklumi mengingat Kabupaten Tegal baru memiliki ibukota di wilayah kabupaten baru sejak tahun 1989. Sebelumnya kantor kabupaten dan pusat pemerintahan berada di wilayah Kota Tegal. Perasaan identitas-komunitas ini ternyata menggejala dalam dunia kebudayaan, khususnya kesenian. Slawi tidak kekurangan jumlah seniman dan budayawan sebut saja Ki Entus Susmono (dalang), Slamet Gundono (dalang, musik tradisional), Apito Lahire (teater) atau Dyah Setyowati (penyair). Namun mereka lebih banyak berkesenian dan berkebudayaan di Kota Tegal sehingga publik mengidentikkan mereka sebagai seniman dan budayawan Tegal , bukan seniman dan budayawan Slawi. Gedung Kesenian Tegal serta Dewan Kesenian Tegal selama ini menjadi ruang bagi seniman dan budayawan Slawi berekspresi

Pulang Kandang

Realitas ini bukan tidak disadari budayawan dan seniman Slawi. Sejumlah kegiatan berkebudayaan dan berkesenian telah digelar oleh budayawan dan seniman Slawi. Sebut saja Festival Sintren Dukuhsalam yang dipelopori Slamet Gundono (dalang, musik tradisional), Festival Seni Desa Bedug oleh Nurngudiono (budayawan, pelukis) atau Sedekah Laut Larangan dan Kirab Budaya—yang batal dilakukan karena alasan teknis—dalam rangkaian acara Jamasan Makam Amangkurat I (Amangkurat Tegal Arum) oleh KRT. Purwo Susongko dan kawan-kawan (budayawan). Even-even ini telah menciptakan magnet baru bagi proses budaya dan seni di Slawi. Kalaupun ada yang kurang, yakni dari segi promosi dan back up oleh pemangku kepentingan budaya dan seni, seperti pemerintah daerah, Dewan Kesenian, kampus, atau media. Dibandingkan Festival Lima Gunung di Magelang, Merti Dusun di Semarangan, atau kebudayaan masyarakat Tutup Ngisor di kaki Merapi yang banyak dipromosikan atau diteliti banyak pihak, even-even budaya dan seni Slawi terasa kelelahan tidak mampu berkejaran dengan even-even sejenis di daerah lain.

Menariknya, even-even budaya dan seni ini dilakukan bukan oleh ‘otoritas kesenian’ yang secara generik dapat disebut Dewan Kesenian, dalam hal ini Dewan Kesenian Kabupaten Tegal (DKKT). Kegiatan berkebudayaan dan berkesenian memang tidak selalu harus segaris dengan Dewan Kesenian Daerah. Kadang-kadang even kebudayaan ‘alternatif’ menjadi lebih menarik karena cenderung lebih luwes. Namun bila dapat bersinergi, Festival Sintren Dukuhsalam, Festival Seni Desa Bedug, Sedekah Laut Larangan dan Kirab Budaya Jamasan Amangkurat I akan lebih bermakna bila menjadi milik publik dengan sosialisasi dan promosi yang gencar, serta didukung pemangku kepentingan kebudayaan (pemerintah daerah, media, Dewan Kesenian, kampus, dan warga). Lebih dari itu, even seni dan budaya yang telah digelar harus dipahami sebagai ‘undangan’ bagi seniman dan budayawan Slawi lain untuk berkesenian dan berkebudayaan di Slawi. Tabik.

Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi Idea. Bekerja pada Bappeda Kabupaten Tegal.

Dimuat dalam http://www.tegal.go.id, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: