Kota Peduli Pasar Tradisional

Juni 24, 2010

Solo di bawah kepemimpinan Ir. Joko Widodo (Jokowi) memang berbeda dengan kota-kota lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hanya di kota ini pasar tradisional dan pasar modern dapat hidup bersama-sama. Kekhawatiran dominasi pasar modern semisal Solo Grand Mall (SGM), Singasaren Mall, Solo Square, Makro, Beteng Trade Center (BTC) atau Pusat Grosir Solo (PGS) di kota yang hanya seluas 44 Km2 ini dijawab oleh pemkot Solo dengan merenovasi pasar-pasar tradisional yang 38 jumlahnya—sebuah jumlah yang cukup banyak untuk ukuran kota besar dengan wilayah yang kecil. Bila di kota-kota lain renovasi pasar tradisional hampir selalu mengundang resistensi komunitas pasar, di Solo realita itu hampir tidak terjadi. Karena beban pembangunan pasar tradisonal disubsidi pemkot. Jumlahnya pun tidak main-main. Dalam APBD 2006 Pemkot Solo menganggarkan dana hingga Rp. 11 Milyar, yang bertambah menjadi Rp. 16,8 Milyar pada APBD 2007 (SM, 5/6).

Keberadaan PKL juga menjadi perhatian Pemkot Solo. Solo mengklaim sebagai satu-satunya kota yang ‘berhasil’ mengelola keberadaan PKL di kotanya. Relokasi ribuan PKL Monumen 45 Banjarsari ke Pasar Klitikan Notohardjo Semanggi menjadi bukti—meski sejumlah pedagang belakangan mengeluhkan sepinya pembeli. Dalam waktu dekat Pemkot juga berencana mendesaian program city walk di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, nadi utama kota Solo.

Kota Kaya

Boleh jadi, kota-kota lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta iri dengan sikap politik Pemkot Solo ini. Selain kemauan dan political will dari walikota, langkah maju ini didukung oleh kemampuan anggaran daerah yang memadai. APBD Solo tahun 2007 misalnya sebesar Rp. 590 Milyar lebih, dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tidak kurang dari Rp. 86 Milyar. Pendapatan perkapita penduduk Solo yang berjumlah 550 ribu jiwa lebih ini juga cukup besar, menembus angka Rp. 12 juta pertahun (www.surakarta.go.id).

Komunitas pasar Kota Solo tampaknya merespon aktif kebijakan pemerintah kotanya. Selain tetap bersikap kritis, komunitas pasar Kota Solo banyak berperan dalam mengembalikan citra pasar (tradisional) sebagai salah satu pusat kebudayaan (Jawa). Sejumlah kegiatan kesenian dan kebudayaan digelar di pasar tradisional—terutama Pasar Gede Hardjonagoro. Terobosan ini cukup menarik karena pasar bukanlah ‘panggung’ yang memang secara khusus dikonstruksi untuk kegiatan kebudayaan. Langkah cerdas ini selain mendekatkan publik kepada pasar tradisional (kembali) juga efektif dalam nguri-uri kebudayaan (Jawa).

Pemberdayaan Komunitas Pasar

Apresiasi yang dilakukan pada kebijakan Pemkot Solo terhadap keberadaan pasar tradisional bukan berarti kebijakan ini tanpa cela. Banyak kalangan menganggap kebijakan ini masih terbatas pada kebijakan pembangunan infrastruktur fisik. Padahal, keberpihakan terhadap pasar tradisional juga termasuk pemberdayaan ekonomi, maupun pemberdayaan budaya (belanja).

Pemberdayaan ekonomi komunitas pasar ini dapat dilakukan misalnya dengan memberikan bantuan modal atau kredit lunak. Proteksi harga juga mendesak dilakukan Pemkot mengingat sejumlah pasar modern menerapkan strategi dumping; menerapkan harga lebih rendah dari pasar tradisional. Pasar modern dapat melakukan strategi ini dengan memotong rantai distribusi menjadi lebih ramping selain menjual harga grosir kepada pembeli eceran. Bila strategi harga pasar modern—yang biasanya waralaba nasional atau internasional—ini merupakan kebijakan pemerintah pusat, bukan tidak mungkin Pemkot Solo yang memimpin pemerintah daerah lain melakukan advokasi kepada pemerintah pusat.

Proteksi lain yang tidak kalah penting dilakukan Pemkot Solo adalah keberadaan waralaba toko eceran berjaringan nasional. Meski berstatus toko eceran, waralaba ini menerapkan strategi pemasaran pasar modern: swalayan, politik harga dumping, serta cenderung bersih dan ber-AC. Dalam perspektif konsumen, mereka tentu ingin memperoleh barang dengan harga murah, kualitas terjamin, dan tempat belanja yang menyenangkan.

Usaha-usaha yang telah dilakukan komunitas pasar dengan menjadikan pasar sebagai ‘panggung’ bagi kegiatan kesenian dan kebudayaan yang selama ini dilakukan secara mandiri tentu juga harus direspon positif oleh pemkot utamanya dalam kerangka merevitalisasi Solo sebagai kota budaya yang bertumpu pada sektor perdagangan. Komunitas Pasar Solo telah terbangun dengan baik. Di samping berbentuk peguyuban di masing-masing pasar, di tingkat kota misalnya terdapat konsorsium Pasamuan Pasar Tradisional Surakarta (Papatsuta). Konsorsium ini dapat dijadikan titik pijak pemkot dalam upaya merapat kepada komunitas pasar.

Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IDEA. Alumnus Sosiologi FISIP UNS Solo.

Dimuat Suara Merdeka, 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: