Golput dan Hippies Politik

Juni 24, 2010

Ada sebuah paralelisme yang tampak nyata dari gejala golput (golongan putih) dalam sistem politik kita dengan fenomena hippies yang lahir pada dekade 60-an di Amerika Serikat. Keduanya berbicara tentang pembangkangan terhadap tatanan dan sistem nilai yang ada. Sebuah konsep perilaku protes yang digarap dengan cantik dan elegan untuk mengartikulasikan kehendak yang tersumbat.
Pada perkembangannya, kedua fenomena—golput dan hippies—akhirnya mengalami distorsi gagasan ideal dengan praktik penghayatan dan pengamalan masyarakat pendukungnya sendiri. Nilai-nilai awal yang didekonstruksi menjadi tereduksi yang menggelincirkan kedua gagasan pembaharuan ini menjadi (sekedar) trend perilaku yang mencuri citra dari kenampakan fisik golput dan hippies yang kemudian menjadi image yang layak direproduksi.

Hippies Melahirkan Generasi Punk

Awal kelahiran hippies pada decade 60-an ditandai dengan dekonstruksi terhadap tatanan sistem nilai puritan yang berlaku dalam masyarakat Amerika. Anak-anak muda yang menginginkan sesuatu yang baru dan perubahan revolusioner dari tradisi mengimani sebuah bentuk deviasi sosial yang populer disebut hippies. Hippies lahir dari kejenuhan anak-anak muda terhadap pemajalan tradisi yang kaku, protokoler, dan etis. Oleh anak-anak muda, hippies menjelma menjadi konstruksi tradisi baru yang lebih jujur, spontan, dan humanis. Dan membahanalah semboyan peace and love yang dimaterialkan dalam simbol bunga, kekuatan dari cinta.

Kaum hippies mengaktualisasikan gagasan-gagasan tentang perubahan revolusioner dengan free sex, mengkonsumsi drugs, menulis pesan-pesan graffiti dan mural di public space kota, mengintroduksi musik-musik pembebasan macam rock dan ska, sampai dekonstruksi terhadap standar nilai berbusana dengan merobek jeansnya dan bahkan nudis sama sekali.

Manifestasi dari gaya hidup (life style) hippies yang ekspresif ini ternyata tidak berlangsung lama. Terutama setelah industrialisasi merenggut kekhasan komunitas hippies yang ekspresif menjadi kekhasan yang tinggal apresiatif. Artinya, imbas industrialisasi yang mereproduksi ‘pernik-pernik perjuangan’ kaum hippies telah mencerabut ekspresi pembebasan yang semula diperjuangkan. Ketika menggunakan jeans yang dirobek, seorang hippies telah mengaktualisasikan ekspresi pembebasannya dalam berbusana. Tetapi, ketika ia menggunakan jeans robek yang dibelinya dari toko, nilai ekspresif pembebasannya direduksi menjadi nilai apresiatif yang direproduksi secara massal oleh industri.

Maka dimulailah distorsi hippies tinggal menjadi gaya hidup (life style) yang eksentrik dan (seolah-olah) bercirikan anak muda. Terdapat rentang antara gagasan dan manifestasi perilaku yang dipotong oleh industrialisasi sehingga kekaburan makna hippies menjadi keniscayaan. Yang terlahir kemudian tinggal generasi punk yang melakukan free sex, mengkonsumsi drugs, menulis pesan-pesan graffiti dan mural di public space kota, memainkan musik-musik keras, dan menggunakan busana yang dirobek karena mode dan mengikuti trend.

Golput dan Trend Golput

Seperti halnya hippies kelahiran golput dalam sistem politik kita diawali dengan keprihatinan yang mendalam terhadap perilaku politik elite yang hanya bercerita tentang kekuasaan dan bagaimana mempertahankannya. Golput ditandai dengan tidak menggunakan hak pilih pada pemilu (waktu itu tahun 1971). Terdapat dekonstruksi terhadap mainstream perilaku politik sebagai manifestasi pembangkangan sipil.

Taktik ini dimaksudkan sebagai perimbangan posisi tawar (bargaining position) antara elite dengan konstituen pemilih yang selama ini timpang. Delegitimasi pemilu mungkin saja terjadi dalam bentuk angka statistik persentase jumlah perolehan suara. Semakin rendah persentase jumlah pemilih dibanding jumlah golput menjadi penanda awal bahwa pemenang pemilu tidak cukup credible di mata rakyat, pemilik sah suatu negeri. Satu bentuk kontrol sipil dalam demokrasi dapat dimulai dengan boikot penggunaan hak pilih.

Dalam sistem pemilu yang menjamin hak untuk memilih atau tidak, golput tidak dapat dipukul rata sebagai bentuk kejahatan politik atau dalam hal ini kejahatan karena diam (crime of silence). Atau mendebat golput sebagai perilaku politik yang tidak partisipatif. Justru fenomena golput merupakan momentum kontemplasi, refleksi, dan otokritik terhadap sistem yang ada.

Namun, lagi-lagi ide besar harus rela ditelikung di tengah jalan oleh penumpang gelap yang (sebenarnya) tidak mengerti peta. Golput menjadi penanda heroisme politik baru, paralel dengan demam leftist beberapa waktu belakangan ini. Citra yang terbentuk dari perilaku politik golput—sebenarnya perilaku orang-orangnya yang kemudian diidentikkan—melahirkan citra intelektual, kritis, berani (menentang pemerintah) dan moralis. Citra yang terbentuk ini melahirkan nafsu untuk mereproduksi image secara instan untuk kemudian dapat dikategorikan sebagaimana citra golput yang ada: intelektual, kritis, berani (menentang pemerintah) dan moralis.

Pencitraan yang dapat direproduksi dari image golput membuatnya menjelma menjadi trend, perilaku politik mutakhir yang heroik dan menantang. Timbul keinginan untuk mengindentifikasi diri sebagai golput agar citra yang ada pada golput identik pada dirinya. Dari sini akan lahir ‘generasi punk politik’ yang hanya dapat mereproduksi citra yang telah ada.

Memang tidak dapat dipukul rata, bahwa saat ini yang terjadi hanya fenomena trend golput semata. Ada gejala golput lain yang tampak mengemuka yakni apatisme dan frustasi politik. Gejala ini banyak muncul pada masyarakat bawah yang merasa jenuh dipecundangi para elite politik dalam bahasa-bahasa kampanye yang bombastis, provokatif, dan tidak perlu berpikir panjang soal-soal teori. Meski awal kemunculan golput model ini senada dengan argumentasi kemunculan golput pada periode awal, sekali lagi, apatisme dan frustasi politik tidak dapat disetarakan dengan golput sebagai pembangkangan sipilGolput sebagai pembangkangan sipil merupakan aksi yang sistematis, strategis, terukur, dan terencana. Sebuah gerakan yang lahir dari bingkai kesadaran ideologis untuk memboikot penggunaan hak pilih. Implikasi politik yang (mungkin) terjadi tidak main-main: delegitimasi hasil pemilu. Sedang apatisme dan frustasi politik merujuk pada ketidakberdayaan rakyat dalam menghadapi kesewenang-wenangan elite. Ia merujuk pada perilaku politik reaktif, pasrah, sebagai sebuah sikap yang tidak direncanakan sebelumnya. Boleh saja terdapat paralelitas dari dikotomi ini dalam aksi namun terdapat perbedaan hakiki yang tegas dalam ruh yang melatari aksi yang dilakukan.

Golput dengan Kesadaran

Model-model aksi apapun yang kemudian dilakukan harus dilandasi oleh kesadaran ideologis. Kesadaran ideologis yang kemudian membingkai setiap gerak menjadi sistematis, terukur dan terencana. Satu hal yang membedakan perilaku berbudaya atau tidak dimulai dari kesadaran. Kesadaran, apapun bentuknya inilah yang menjadi ruh aksi.

Tanpa kesadaran, hippies dan golput tinggal menjadi reproduksi citra yang kehilangan semangat kesadaran awalnya ketika hippies dan golput mulai diteriakkan. Tanpa kesadaran pula, hippies dan golput hanya menjadi perilaku mekanik, dilakukan berulang-ulang sebagai bagian dari rutinitas yang kehilangan maknanya. Kalau pada awal kelahirannya hippies dan golput bermaksud mendekonstruksi tatanan dan standar nilai yang ada, di masa puber hippies dan golput seperti saat ini, dekonstruksi, redefinisi, dan reorientasinya bolehlah bersama kita alamatkan pada hippies dan golput.

Febrie Hastiyanto; mahasiswa Sosiologi FISIP UNS.

Dimuat Pikiran Rakyat, 2004.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: