Aspek Sosiologi Apartemen Solo

Juni 24, 2010

Tidak lama lagi Solo akan memiliki apartemen sebagai salah satu jenis hunian warganya. Tidak tanggung-tanggung, diakhir tahun 2007 akan dibangun tiga apartemen sekaligus. Masing-masing Kusuma Mulia Tower (KMT) apartemen 28 lantai di bilangan Ngapeman Jalan Slamet Riyadi, Center Point Solo apartemen 22 lantai di kawasan Purwosari Jalan. Slamet Riyadi, dan Solo Paragon apartemen resor 22 lantai di Jalan Yosodipuro 133 Mangkubumen. Oleh pengembang, apartemen ini dibangun untuk menyerap pasar wisatawan mancanegara dan ekspatriat, utamanya tenaga ahli industri tekstil yang banyak tersebar di Solo dan ekspatriat tenaga ahli dalam eksplorasi minyak bumi di Blok Cepu Blora.

Kota Vokasi

Solo selama ini dikenal sebagai kota vokasi; kota yang nyaman untuk berlibur. Karakteristik wisatawan yang berkunjung tidak sekedar wisatawan yang menghabiskan waktu senggang di Solo tetapi termasuk pejabat, pengusaha, orang penting dan orang sukses di ibukota yang asli Solo dan hinterland-nya di wilayah eks Karesidenan Surakarta yang berlibur sekaligus pulang kampung. Tidak sedikit orang-orang sukses di ibukota ini memiliki dan menginvestasikan kekayaannya dalam bentuk hunian di Solo.

Boleh jadi, mereka termasuk pasar yang dilirik pengembang apartemen Solo. Tidak ada yang salah dalam bisnis properti mengenai siapa yang berhak memiliki properti tersebut, termasuk pemilik yang tidak berdomisili di daerah tersebut. Hanya secara sosiologis, pemilik yang menempati langsung huniannya atau pemilik hunian sebagai investasi memiliki konsekuensi yang berbeda.

Pemilik hunian sebagai investasi maupun pemakai apartemen sementara dapat dikategorikan sebagai warga commuter. Mereka umumnya hanya menempati hunian tersebut sementara, atau berdimensi waktu tertentu. Warga commuter ini memiliki karakteristik yang secara relatif cenderung tidak berbaur dengan warga. Hal ini bisa disebabkan karena rasa memiliki lingkungan yang tidak sedalam warga asli. Warga commuter sangat mungkin bersikap sebagai penghuni yang hanya tinggal untuk sementara waktu, sehingga tidak perlu repot-repot meluangkan waktu bergaul dengan warga.

Apalagi apartemen memang dikonsep sebagai hunian-individual. Privasi sangat dijunjung tinggi, sementara kebutuhan-kebutuhan penghuni dipenuhi dengan baik oleh pengembang. Seperti menyediakan supermarket, arena hiburan dan bermain, hingga restoran. Semua telah terpenuhi tanpa harus keluar apartemen. Apartemen kemudian menjadi daerah kantong (enclave) dengan disparitas kesejateraan yang lebar dengan lingkungan sekelilingnya.

Pager Mangkok

Bila di kampung warga memiliki kesatuan warga dalam Rukun Tetangga maupun Rukun Warga, dapat dipastikan penghuni apartemen merasa cukup dikelola oleh pengelola apartemen saja. Keberadaan kesatuan warga ini sebenarnya dapat menjadi media srawung antarwarga. Kondisi yang nyaris serupa terjadi pada banyak perumahan yang kini semakin menjamur jumlahnya. Intensitas dan frekuensi srawung warga sangat terbatas. Justru melalui wadah kesatuan warga, komunikasi dapat difasilitasi. Sejumlah perumahan misalnya mengagendakan kerja bhakti barang dua hingga tiga jam setiap bulan. Atau pengajian, arisan hingga perayaan tujuh belasan. Mereka tentu sadar, cukup mampu membayar petugas kebersihan untuk merapikan lingkungannya atau cukup mampu menabung tanpa perlu ikut arisan. Namun demi kekeluargaan antarwarga, kerja bhakti—yang lebih banyak ngobrolnya itu—diadakan.

Dalam kultur warga Solo—dan Jawa pada umumnya—dikenal ungkapan luwih becik pager mangkok tinimbang pager tembok. Komunikasi dan pergaulan antarwarga, akan menjadikan penghuni aman karena warga yang akan menjaga milik warga tetangganya. Tidak perlu satpam atau anjing penjaga.

Tentu tidak semua penghuni apartemen ekslusif. Namun, stereotip warga umumnya telah terbentuk. Karena itu pihak pengembang dan pengelola apartemen nantinya harus mampu bersikap bijak terhadap warga tetangga apartemen. Sikap bijak ini tentu tidak ditunjukan dengan sekedar dermawan memberi ‘suap’ bantuan kepada warga sekitar seperti yang selama ini secara pragmatis dilakukan perusahaan kepada warga sekitar. Padahal persoalan pergaulan antarwarga tidak melulu soal uang dan bantuan. Perlu ada upaya yang lebih memanusiakan, lebih menyatukan warga apartemen dan warga asli sehingga warga menyediakan diri sebagai pager bagi apartemen-apartemen yang akan dibangun di Solo. Hal ini dapat menjadi langkah antisipatif agar keberadaan warga commuter ini tidak menjadi sumber konflik baru.

Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IDEA. Pernah menjadi warga Kentingan Solo.

Dimuat dalam Suara Merdeka, 15 Maret 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: