Sub Terminal Agrobisnis Way Kanan

Juni 23, 2010

Kabupaten Way Kanan menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian, utamanya perkebunan. Sejumlah komoditas tumbuh subur di wilayah ini. Sebut saja karet yang meliputi wilayah kecamatan Blambangan Umpu, Negeri Agung, Way Tuba, Pakuon Ratu, Negeri Besar, dan Negara Batin, komoditas kelapa sawit (Blambangan Umpu, Negeri Agung, Way Tuba, Pakuon Ratu, Negeri Besar, Negara Batin, Bahuga, Bumi Agung, dan Buay Bahuga), komoditas kopi (Banjit, Kasui, Rebang Tangkas, Baradatu, dan Gunung Labuhan), komoditas lada (Banjit, Kasui, Rebang Tangkas, Baradatu, dan Gunung Labuhan), atau komoditas kakao (Banjit, Kasui, Rebang Tangkas, Baradatu, dan Gunung Labuhan).

Meski memiliki potensi hasil pertanian yang cukup bagus, namun tata kelola perdagangan komoditas ini masih dilakukan nyaris tanpa intervensi pemerintah daerah, kecuali pada komoditas-komoditas yang dibudidayakan perusahaan swasta. Maksudnya, petani, pedagang pengepul lokal, pedagang pengepul regional, hingga eksportir melakukan transaksi perdagangannya sendiri. Kondisi ini menjadikan rantai perdagangan lebih panjang yang berujung pada semakin rendah margin pendapatan yang diterima petani. Padahal pertanian merupakan sektor terbesar penyumbang Pendapatan Domestik Regional Bruto (67,92 persen total PDRB). Karena itu juga petani seharusnya menjadi pihak yang paling memerlukan perhatian, dukungan, dan menjadi subyek kebijakan pemerintah daerah.

Sub Terminal Agrobisnis

Untuk meminimalkan rantai transaksi perdagangan pemerintah daerah dapat melakukan upaya-upaya mendekatkan petani dengan pembeli langsung. Bila komoditas ini menjadi bahan baku industri di tanah air, pemerintah perlu memfasilitasi dunia usaha dan dunia industri untuk dapat bertransaksi langsung dengan petani. Dalam perspektif pembangunan wilayah, kita mengenal konsep sub terminal agrobisnis. Sub terminal agrobisnis ini merupakan kawasan perdagangan komoditas yang menyediakan fasilitas bongkar muat dan pasar agrobisnis. Paradigma sub terminal agrobisnis adalah mendekatkan petani langsung kepada pembeli.

Sub terminal agrobisnis dapat dibangun berdasarkan potensi kewilayahan maupun potensi komoditas. Pada prinsipnya setiap daerah pertanian setingkat kabupaten/kota memerlukan sebuah sub terminal agrobisnis. Bila dalam satu wilayah terdapat berbagai komoditas dalam jumlah besar, sub terminal agrobisnis dapat dibangun lebih dari satu unit, masing-masing unit untuk satu komoditas.

Lokasi sub terminal agrobisnis dapat dibangun di lokasi yang memiliki aksesibiltas tinggi, misalnya di sepanjang Jalan Lintas Tengah Sumatera atau wilayah yang dilalui jalur kereta api. Pemerintah daerah dapat memilih lokasi di kawasan Simpang Empat Blambangan Umpu yang berada pada episentrum kabupaten sekaligus dilintasi Jalinsum. Lokasi lain yang perlu menjadi pertimbangan adalah Negeri Agung. Negeri Agung merupakan episentrum kawasan utara Way Kanan sekaligus memiliki aksesibilitas melalui moda kereta api, bahkan Lanud Jenderal Gatot Subroto di Way Tuba.

Pasar Lelang dan Agropolitan

Konsep sub terminal agrobisnis dapat diujicoba terlebih dahulu kepada pasar melalui pasar lelang agrobisnis. Pasar lelang agrobisnis merupakan bentuk dasar dari sub terminal agrobisnis. Pada pasar lelang, transaksi dilakukan insidental dan produk ditawarkan dalam bentuk sampel. Pasar lelang agrobisnis dapat dijadikan sarana sosialisasi baik kepada petani maupun pembeli. Pelaksanaan pasar lelang agrobisnis dapat dilakukan pada momentum Festival Radin Jambat yang dilakukan setiap tahunnya. Bila reaksi pasar positif, sub terminal agrobisnis dapat segera diwujudkan.

Sub terminal agrobisnis sebenarnya dapat dijadikan program antara bagi konsep yang lebih holistik dan integral, yakni agropolitan. Agropolitan secara epistemologi menurut Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum (2008) dapat diartikan sebagai upaya pengembangan kawasan pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis, dari hulu hingga hilir. Kawasan sentra produksi pangan (agropolitan) merupakan kota pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis serta mampu melayani, mendorong, menarik, memicu kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya. Bila konsep agropolitan berjalan baik, tak salah bila kemudian visi pembangunan Way Kanan pada periode mendatang adalah menjadikan Way Kanan sebagai Kota Perkebunan.

Febrie Hastiyanto; Penulis lahir dan dibesarkan di Way Kanan. Saat ini bekerja pada Bappeda Pemkab Tegal Jawa Tengah.

Dimuat dalam Lampung Post, Rabu, 1 April 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: