Pejoang yang Dikhianati Senapannya

Juni 23, 2010

Sajak Seorang Pejoang yang Dikhianati Senapannya
: Seno bin Nokerso

/I/

2002

Aku selalu gugup. Saat Ferry dipermainkan riak Selat Sunda. Menunggu sandar di Pelabuhan Bakauheni. Matahari mulai tinggi. Laut biru keperakan. Aku merapikan jaket, sekedar menuntaskan canggung mengurangi gelisah. Tujuh jam lagi aku tiba. Aku selalu rindu pulang.

/II/

1961

Aku adalah pejoang, dulu memanggul senapan. Kini dilikuidasi, hanya menjadi debu-debu revolusi. Hidup memang tak serupa filsafat yang ditulis memikat dalam rupa-rupa Babad. Tuhan menciptakan lapar. Karena itu kami harus makan.

Aku lintasi selat ini. Membayar lunas kurang dan wirang. Tidak, tak akan aku kembali. Hatiku telah aku lipat menjadi batu. Menggumpal. Aku kepal-kepal.

Engkau adalah sebentuk perempuan yang tak pernah dilahirkan cengeng. Aku tak mampu memberimu garansi. Untuk angin laut yang asin, bau karbol lantai yang tebal, dan aroma minyak kayu putih basi bercampur keringat semalaman. Muntahlah istriku. Tumpahkan isi hatimu di geladak ini.

/III/

1962

Aku adalah bayi yang dilahirkan tanah untuk menjadi petani. Tak gentar aku mendapati belukar. Dulu aku memanggul senapan, kini mengasah cangkul dan sabit. Tanah ini memang tak ramah. Tanah sedikit gembur disela-sela pasir. Tetapi tidak. Aku sedang tidak mengeluh. Siapa bilang aku sakit. Lihatlah, jagung itu telah tumbuh. Tak percuma setamat Sekolah Rakyat aku diberangkatkan kursus pertanian di Malang.

Tidak, sudah kukatakan kepadamu. Hatiku telah aku lipat menjadi batu. Aku tak akan turut kawan-kawan, mereka yang Mayor, Kapten, atau Letnan Dua. Menuntut tunjangan natura yang tak kunjung datang. Dikentuti Jawatan Kabupaten. Aku belajar untuk tak marah. Aku sedang belajar mencintai tanah. Tidak juga berlatih baris-berbaris. Ladang, ladang adalah mimpi kita hari ini.

/IV/

1971

Istriku, bayi ketiga kita telah lahir. Anak tanah ini. Anak zaman ini. Aku tak melarangmu berdagang dari kalangan ke kalangan. Rebutlah mimpi di tanah ini. Aku katakan kepadamu, kita tak akan kembali. Tanah inilah yang akan menghidupi.

Sore tadi, di ladang melintas menjangan . Aku ingat puteri kedua kita istriku. Dalam gerakan reflek cintaku padamu aku lemparkan sabit menyerempet kakinya. Ia mengaduh, berguling-guling. Aku ingin mengejarnya, namun urung karena dari kejauhan ia telah tak berdaya.

Matanya, matanya memandangiku. Ia tak marah. Ia tak mengejan. Ia tak mengiba. Aku mengingatmu. Juga puteri kita yang lucu. Tentu kalian senang bila menjangan ini dimasak kecap. Aku menutup mata saat menyembelihnya. Menggendongnya. Aku melihatmu berbinar. Namun malam ini, aku makan singkong rebus saja.

/V/

1977

Aku tak peduli segala macam politik. Aku adalah pejoang, dulu memanggul senapan. Kini dilikuidasi hanya menjadi debu-debu revolusi. Tidak untuk kampanye dan upacara seremoni. Baris-berbaris yang gagah, Mayor itu, Kapten itu, Letnan Dua itu. Diam-diam aku berangkat ke ladang. Saat matahari belum menyinari tanah ini. Putera kita akan merebut mimpinya di Sekolah Pendidikan Guru.

Tak apa istriku. Menjadi pendidik juga mulia. Menjadi pejoang mulia. Menjadi tentara mulia. Menjadi petani mulia. Menjadi pegawai pos mulia. Hanya menjadi calo jangan sampai ia.

/VI/

1985

Aku adalah pejoang, dulu memanggul senapan. Kini dilikuidasi, hanya menjadi debu-debu revolusi. Telah kubayar mimpi-mimpi itu. Pada sepeda motor. Pada toko di pasar. Pada ladang sebelas hektare. Pada ijazah Sekolah Pendidikan Guru putera kita. Pada tiga keponakan yang kita asuh sejak belia. Kini aku lunasi mimpi itu dengan cinta.

Aku merelakanmu. Untuk 29 tahun kebersamaan ini. Pergilah menghadapNya, aku akan menyusulmu segera.

/VII/

1987

Anakku, pemegang beslit Sekolah Pendidikan Guru. Hanya karena lapar aku memberanikan diri menyeberangi selat itu. Kembalilah bila engkau mau. Tuhan telah menghamparkan, tanah itu juga tanahmu.

/VIII/

2009

Aku selalu gugup. Saat Ferry dipermainkan riak Selat Sunda. Menunggu sandar di Pelabuhan Bakauheni. Matahari mulai tinggi. Laut biru keperakan. Napak tilas engkau yang dulu merapat di Pelabuhan Panjang. Kini Bakauheni jauh lebih dekat.

Horison memutih. Tidakkah cintamu sudah kau tunaikan. Nama yang engkau sematkan di dada aku tambah sendiri dengan tiga huruf singkatan Master dari universitas negeri di Yogyakarta. Dulu engkau memanggul senapan, sekarang aku bersenjata ilmu . Tahun depan aku akan memulai riset disertasi. Kini aku pulang, cucumu.

Dari sayup-sayup kerinduan, Agustus 2009.

Febrie Hastiyanto; finalis Lomba Cipta Puisi Prosaik Krakatau Award 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: