Sajak Nama-Nama

Juni 23, 2010

adakah alasan untuk menjadi sebab kelahiran sebuah nama?

Sore ini istriku minta dibawakan mangga arumanis, sepulang saya kerja. Ada-ada saja. Tetapi saya sempat-sempatkan selepas ngedit jadi tulisan liputan unjuk rasa pedagang Pasar Gede. Kalau tidak ada halangan dalam minggu-minggu ini istri saya akan melahirkan. Anak pertama. Tak usah dibilang tentu saja kami, maksudnya saya dan istri overacting secara agak berlebihan. Biasa, sindrom barang baru.

Meski sedikit cemas, sepertinya tidak ada yang perlu dirisaukan. Kami sudah mempersiapkan kebutuhan minimal calon bayi kami. Malah Bude Isih telah menyediakan diri untuk dibutuhkan sewaktu-waktu. Di antara keluarga besar saya dan istri saya, hanya keluarga Bude Isih yang terdekat dengan tempat tinggal kami. Apalagi dia tidak terlalu sibuk sekarang. Usaha bordirnya sudah cukup maju tanpa campur tangannya.
Kemarin dulu sempat mencari box tempat tidur bayi. Ada sih sedikit desir bangga bakal menjadi calon orang tua. Istri saya telah memilihkan popok-popok yang nyaman buat calon bayi kami. Saya juga membantu memilihkan handuk dan selimut. Semua sudah siap, kecuali nama.

adakah pilihan untuk memberi makna kepada seorang dalam retorika nama?

Keluarga eyang tidak terlalu istimewa dalam arti yang sebenarnya. Tidak ada yang menjadi alasan bagi saya untuk bangga, kecuali perasaan subyektif karena saya anggota darinya. Eyang seorang biasa-biasa saja. Setiap hari bersama eyang putri berjualan beras di pasar. Silsilah eyang yang ditarik sampai pada leluhur juga tidak menunjukan tradisi istimewa. Keluarga eyang tidak berbeda dengan keluarga-keluarga lain.

Eyang meminati kebudayaan; istilah yang netral untuk menyebut filsafat, teologi, atau ilmu sangkan paran. Perkumpulannya, perkumpulan Rebo Pon hanya diminati beberapa orang saja. Tetapi eyang tampak antusias, setiap Rabu Pon sebisanya ia menghadiri perkumpulan. Untuk ukuran anak muda seperti saya, perkumpulan semacam ini tentu tidak menarik. Tetapi ia menjadi menarik. Setidaknya menurut pengandaian dan perkiraan saya terhadap sesuatu yang belum saya siapkan semenjak hari istimewa perkawinan saya: nama.

Bapak memberi saya nama Bhre Galang Energi. Nama yang tidak lazim untuk ukuran lafal dan telinga kita. Saya anak tunggal, karenanya bapak tidak punya kesempatan untuk memberi nama lain yang tidak lazim bagi anaknya. Kedua saudara bapak juga memiliki nama yang eksentrik, tidak terkecuali bapak. Bude Isih yang paling dekat dengan saya punya nama belakang Menangtang. Lengkapnya: Isih Menangtang. Adik Bude Isih adalah kakak bapak, sekarang lagi ngambil S3 di Australia. Lawwan Digdaja. Pakai ejaan lama yang sekarang dilafalkan lawan digdaya. Bapak sebagai pewaris terakhir keturunan langsung eyang diberi: Gempur PeLaknat! Baru kali ini saya tahu ada nama pakai tanda baca seru.

Nama eyang akan mengingatkan pada nama umum bagi masyarakat pedesaan Jawa: Panut. Tidak tahu saya, apakah nama-nama yang diberikan merupakan balas dendamnya karena namanya kurang keren, setidaknya untuk pendengaran masa kini. Tetapi saya berbaik sangka dengan eyang. Justru saya mencurigai perkumpulan Rebo Pon. Untuk itu saya sedang mencari bukti.

adakah seorang dapat hidup tanpa nama?

Berbahagialah manusia yang terlahir dalam simbol. Simbol-simbol yang diperankan manusia memberi makna, seperti nama. Bahkan karena satu-satunya makhluk yang berbahasa, manusia nekat memberi nama tidak saja hanya kepada dirinya. Kepada binatang, untuk tetumbuhan, bagi gejala-gejala alam. Juga kepada Tuhan yang menciptakannya. Tidakkah mereka juga berbahasa?

Gelas teh yang saya isi dengan air berwarna merah buram, menempel pada bibir dan sisi-sisi dalam. Lelah menemani istri di kamar bersalin telah terbayar dengan jagoan kecil saya yang menangis memecah subuh. Maklum, laki-laki. Pagi ini kondisi saya masih kusut walau masih segar untuk bergadang barang dua tiga malam lagi. Lelah mestinya membuat saya membebaskan dari soal-soal filosofis, ya yang berat-berat semacamnya. Tetapi jagoan kecil saya minta dipanggil dengan manja. Nama?

Bude Isih yang paling repot pagi ini. Termasuk soal nama. Dia tadi sudah memilihkan belasan nama berikut harapan dan cita yang terangkum dalam filosofinya. Sepagi ini saya sudah harus berpikir, sedang saya masih lelah. Bude Isih memang tidak ada capainya. Selain menyapu sudut kamar dia terus mendesak saya untuk mencari nama. Pokoknya sebelum sepasaran si kecil harus sudah punya nama, ia bahkan merengek-rengek melebihi istriku.

Eyang berencana datang siang ini. Biasanya ia menyelipkan satu patah kata untuk nama cucu dan cicitnya. Kadang-kadang eyang menyebalkan, setidaknya menurut saya. Bapak sempat dibuat berpikir keras ketika saya lahir. Saya mau anakmu diberi nama energi, tidak jelas apakah ini permintaan atau instruksi. Bapak tidak sempat bertanya mengapa karena ia punya keyakinan sendiri bahwa pertanyaan itu tidak perlu. Dan jadilah nama saya Bhre Galang Energi. Seperti bapak yang tidak bertanya kepada eyang, saya pun demikian. Pertanyaan terkadang bukan hal yang penting dalam hidup, seperti nama. Dan eyang akan datang siang ini.

percayakah ada kebingungan lahir sebab nama?

Ini benar-benar kado dari jagoan kecil saya. Nama itu tetenger, penanda makna bagi kelahiran seorang makhluk. Ia menjadi baliho selamat datang yang menyiratkan sejumput harapan dan tebaran cita-cita orang tua, ujar eyang datar seraya menatap lekat-lekat cucunya. Memberi nama yang baik sekaligus indah memberi kepastian bagi anak untuk terus menjalani hidupnya. Pada awal-awal hidupnya anak membutuhkan dukungan orang tuanya, dan sokongan itu salah satunya berwujud nama, kata eyang lagi.

Saya hanya mampu mengekor takzim di balik punggung eyang. Cukup normatif eyang, saya hendak berkata seperti itu. Tetapi saya tahankan, buat apa ribut-ribut soal prinsip. Saya juga ingin mengatakan betapa orang tua memonopoli harapan dan cita-cita anaknya. Tidakkah anak hanya menjadi boneka yang merujuk dari tombol-tombol hidup yang kita kenal dengan nama? Tidakkah setiap manusia dilahirkan merdeka, bebas dari intervensi muluk yang tidak ditentukan dirinya? Buat apa ribut-ribut soal prinsip.

Tetapi Bude Isih idem dito dengan eyang. Terus mengompori saya, apalagi ia seperti mendapat mandat luhur dari eyang untuk memaksakan, paling tidak satu kata untuk setiap anak yang terlahir dari trah kami. Saya sempat merasa terganggu, terutama ketika saya sempat berburuk sangka. Tetapi saya sadar dengan karakteristik keluarga Indonesia yang extended family, menarik garis melebar ke atas dan ke samping atas keluarga-keluarga lain. Rumit, khas Indonesia yang mengapresiasi dan mengartikulasi keinginan secara tersirat. Malah lebih tepatnya berbelit-belit. Tidak to the point seperti kami, generasi global masa kini Indonesia.

Saya sempat tertekan, karena saya dipaksa mengakomodasi suara dari pihak keluarga saya, pun keluarga istri saya. Saya menjadi sadar bahwa si jagoan kecil bukan hanya milik saya dan istri saya, tetapi juga telah menjadi milik publik. Saya andaikan saja, apabila masing-masing keluarga yang menjenguk istri saya menitipkan pesan-pesan dalam lafal estetik penuh makna. Tak harus utuh, lengkap dengan nama belakang Energi sebagai hak jagoan kecil saya. Tetapi dalam kata. Yang sering hanya satu.

Bude Isih kali ini terlibat pembicaraan serius dengan Bude Nani, budenya istriku. Apalagi topiknya, kalau bukan nama. Heran, eyang lebih meminati mencandai cucunya daripada berurusan dengan soal-soal filosofis siang ini. Kalau bapak tidak usah ditanya, pasti dia lebih tertarik pada banjir yang membuat becek di mana-mana. Satrio, bagus kan eyang buat keponakan, Bude Isih kepada eyang. Ya, kalau mau lebih nasional ya ganti saja o nya dengan a, Satria. Satria Meninnju Energi, kali ini Bude Nani. Tidak tahu, eyang mendengar atau pura-pura tidak. Bude Isih terus mendesak, kali ini lebih merajuk. Sudah tho, kalian ini. Nama si kecil biar bapaknya sendiri yang bikin sama ibunya. Anak muda tentu punya nama yang lebih bagus-bagus, eyang masih mencandai jagoan kecil.

Adakah setiap orang harus punya nama?

Hari ini tepat lima hari kelahiran jagoan kecil. Istri saya sudah pulang dari rumah sakit kemarin. Sebenarnya tidak perlu berlama-lama di sana. Tetapi namanya seorang yang baru kali pertama, keteguhan psikologis lebih sulit ketimbang prosesi-prosesi yang bersifat fisik. Tidak ada yang perlu dirisaukan. Seperti yang sudah dijanjikan, Bude Isih selalu siap sedia. Tetapi karena hari ini sedianya ada selametan tepat sepasaran untuk tradisi orang Jawa, dari kemarin para tetangga dan keluarga saya dan istri saya sudah berkumpul lengkap. Menanti perayaan atas nama jagoan kecil kami, maksudnya saya dan istri saya.

Tidak seperti hari-hari kemarin, hampir tidak ada lagi yang merisaukan soal nama. Tidak Bude Isih, apalagi saya. Tadi malam saya sudah membicarakan soal ini pada istri saya. Kami membuat satu kesepakatan. Untuk mempersiapkan selametan, kami lebih memilih untuk konsentrasi pada tahapan-tahapan yang akan dijalani mulai kemarin. Malah hari ini saya sibuk memotong dua ekor kambing untuk akikah.

Sehari ini, saya merasa waktu demikian cepat berputar. Atau mungkin karena saya membebaskan diri dari soal-soal filosofis. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Istri saya lebih sibuk di belakang. Dibantu Bude Isih, Bude Nani dan keluarga yang lain. Ibuk dan eyang lebih banyak membantu di pos depan, menerima tamu. Nama kembali menjadi aktual malam ini. Walaupun sebenarnya saya sudah bosan.
Sampai saat saya harus mengumumkan penggal-penggal kata estetik yang disebut nama untuk jagoan kecil. Saya meminta waktu sejenak untuk memanggil istri saya. Semua sudah berkumpul. Bude Isih, bude Nani, ibuk, bapak, eyang. Keluarga yang lain bukan main riuhnya. Saya memulai dengan basa-basi khas Indonesia. Berterima kasih untuk keharusan budaya saling membantu. Selanjutnya: malam ini saya dan istri saya tidak memberi nama untuk anak kami. Karena kami sepakat soal ini telah melampaui kewenangan dan bahkan hak kami sebagai orang tua. Nama, simbol-simbol atas hidup anak kami biarlah menjadi haknya sendiri. Saya akhiri sambutan saya malam ini. Para tetangga kemudian bersantap malam bersama. Seperti biasa. Bahkan kali ini tandas sampai kuah-kuahnya.***

Solo, Mei 2003

Febrie Hastiyanto; Dimuat Solopos, Juli 2003

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: