Nasib Musik Humor Solo

Juni 23, 2010

Paro pertama dasawarsa 2000 dapat disebut sebagai masa-masa keemasan bagi tradisi musik humor Solo. Kelompok-kelompok musik humor banyak lahir, terutama yang digiatkan mahasiswa yang berbasis di kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia—kini Institut Seni Indonesia (ISI) Solo. Apalagi, letak kedua kampus ini bersebelahan berbatasan pagar sehingga masing-masing aktivis kesenian mahasiswa kedua kampus ini dapat saling berbagi ilmu, pengalaman, hingga berkompetisi.

Saya bersyukur, karena sempat menulis features tentang musik humor untuk majalah mahasiswa Hijau Hitam yang saya pimpin. Sehingga saya dapat beroleh banyak informasi dari wawancara yang saya lakukan 3 tahun lalu. Pada masa itu, Solo memiliki setidaknya 23 kelompok musik humor, sebut saja PecasNdahe, Suku Apakah, Teamlo, Padat Karya, Mboten Pakem, Keripik Peudes, Sio-Sio, Nyiur Melambai, Lek Widodo, Mudah Tersinggung, atau Rasa Susu Jahe (RSJ). Kelompok Paroden Buat Apa Susah (Basah), dapat dikelompokan juga sebagai musik humor, meski karakteristik kelompok ini lebih banyak pada teater parodi, utamanya cerita-cerita rakyat (legenda).

Dinamika musik humor Solo menemukan momentumnya setelah kelompok Teamlo mampu menembus jaringan salah satu televisi swasta nasional. Go nasional, rasanya masih dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah kelompok kesenian daerah, termasuk musik humor. Teamlo bahkan menjadi inspirasi stasiun televisi tersebut untuk menggelar Audisi Band Gelo (ABG), meski hanya satu kali putaran. Langkah Teamlo ini disusul oleh Nyiur Melambai dan Padat Karya, yang menjadi pendukung acara di stasiun televisi swasta lain.

Karakteristik

Musik humor Solo memiliki karakteristik umum mengusung lirik lagu-lagu populer yang diparodikan, sehingga memberi rasa humor. Soal definisi musik humor ini sempat menjadi catatan kritis sejumlah pengamat musik di Solo. Humor yang ditampilkan oleh musik humor Solo baru terbatas pada lirik humor yang diimbuhi musik. Padahal bila kita setia pada idiom ‘musik’, mestinya kekuatan humornya ada pada musik, bukan lirik. Bentuknya dapat bermacam-macam, semisal permainan bunyi alat musik, termasuk alat-alat musik yang tidak populer digunakan maupun alat-alat musik kreasi baru hingga permainan tinggi rendah nada. Kelompok-kelompok musik humor tentu punya alasan tersendiri. Pada umumnya mereka tidak ingin berpanjang-panjang soal teori (definisi) musik, tetapi ingin memainkan musik humor yang dapat diterima publik secara luas.

Beberapa kelompok musik humor mengusung warna kultur Solo yang kental dalam setiap pementasannya. PecasNdahe termasuk kelompok yang setia pada pakem ini. Tidak heran bila di Solo PecasNdahe lebih dikenal ketimbang Teamlo yang telah menasional. Bagi publik Solo, pisuhan-pisuhan jenaka PecasNdahe lebih mengena ketimbang humor Teamlo yang lebih bercitarasa ‘nasional’. Karena kesetiaan pada pakem ini pula lah, langkah PecasNdahe yang lebih dulu berdiri dari Teamlo tersendat-sendat ketika akan go nasional. Pada beberapa kesempatan tampil di panggung yang bersifat nasional, terlihat PecasNdahe gagap. Humor-humor mereka yang bercitarasa lokal dan kadang-kadang tradisional, tidak dapat dinikmati secara luas oleh penonton, utamanya yang tidak memiliki latar belakang kebudayaan Jawa.

Kreativitas

Dinamika musik humor sebenarnya tidak hanya lahir di Solo. Di beberapa kota lain di Jawa yang memiliki basis mahasiswa nyeleneh, sejumlah kelompok musik humor juga lahir dan berkembang. Sebut saja Keroncong Chaos dari Yogyakarta atau Tani Maju dari Malang. Berbeda dengan kelompok-kelompok musik humor dari Solo, kelompok musik humor dari Yogyakarta atau Malang ini sedikit lebih maju. Mereka tidak lagi memparodikan lagu-lagu populer, tetapi telah berani menciptakan lagu-lagu humor sendiri. Bahkan Keroncong Chaos dan Tani Maju telah merilis album mereka secara indie. Keroncong Chaos dan Tani Maju juga berani beriman pada satu genre musik. Bila Keroncong Chaos memproklamirkan sebagai kelompok musik keroncong dangdut (congdut), pada Tani Maju kreativitas musiknya juga diwarnai oleh tradisi ndangdut.

Sebelum kelompok-kelompok musik humor ‘angkatan 2000’ ini, sebenarnya telah ada kelompok-kelompok musik humor angkatan 1980-an. Mereka banyak berbasis di kampus-kampus di Jakarta dan Bandung. Sebut saja Warung Kopi (Warkop), Pancaran Sinar Petromaks (PSP), Pemuda Harapan Bangsa (PHB) hingga Pengantur Minum Racun (PMR). Kelompok-kelompok musik humor ini menciptakan lagu-lagu sendiri dan hanya sedikit sekali memparodikan lagu-lagu populer dalam album-album mereka. Kelompok musik humor yang lebih muda dari Bandung angkatan Padhayangan Project, Project P, Padhayangan 6, hingga Project Pop pada awalnya memang banyak memparodikan lagu-lagu populer. Namun belakangan, seperti yang dilakukan Project Pop pada 3 album terakhirnya, mereka mulai mencipta lagu-lagu sendiri yang ternyata laris manis sebagai lagu lucu-lucuan pengisi waktu luang.

Kelompok musik humor Solo sudah tentu harus mulai berani menciptakan lagu-lagu sendiri. Karakteristik memparodikan lagu-lagu populer akan membuat jenuh penikmat musik humor. Teamlo termasuk kelompok musik humor yang mulai keteteran dalam pentas-pentas mereka. Seringkali mereka harus mengulang penampilan lagu-lagu parodi yang telah mereka bawakan dalam pentas terdahulu. Langkah ini tentu saja tidak bijak, karena penikmat lama kelamaan akan menganggap Teamlo tidak lagi kreatif. Kreativitas Teamlo saat ini serasa menemui jalan buntu dan sedang diuji publik.

Perlu diperhatikan pula soal manajemen kelompok. Banyak kelompok musik humor yang dibentuk saat personilnya berstatus mahasiswa. Ketika mereka lulus, kelompok-kelompok musik humor itu rontok satu-satu karena personilnya masih menganggap berkesenian sebagai hobi dan pengisi waktu luang. Beberapa kelompok musik, seperti PecasNdahe telah memiliki manajemen sendiri dan menganggap bermusik sebagai jalan hidup dan pekerjaan. Sehingga meski tidak merilis album (kelompok musik humor Solo biasanya merilis album-album pentas mereka, bukan album khusus yang dibuat untuk dipasarkan), dan hanya mengandalkan pada undangan-undangan pentas, awak PecasNdahe tidak nyambi pekerjaan lain. Totalitas bermusik mereka patut diacungi jempol. Hal itu karena manajemen mereka mampu menjamin kebutuhan masing-masing awak. Belajar dari kelompok-kelompok kesenian (band, teater, bahkan artis solo karier) yang lebih dulu mapan, sudah saatnya kelompok musik humor Solo memiliki manajemen yang lebih mengerti mengelola sebuah grup sehingga awak kelompok musik humor dapat fokus untuk berkesenian dan terus berkarya.

Febrie Hastiyanto; Penikmat musik humor. Mantan Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa Islam (LAPMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Solo.

Dimuat Kompas Edisi Jateng, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: