Menguak Penyelingkuhan Filosofi Kapitalisme

Juni 23, 2010

Diskursus mengenai kapitalisme seringkali—untuk tidak menyebut selalu—beretorika dalam wilayah implementasi isme yang telah mengendalikan ekonomi dunia ini ke dalam praktik nyata. Alur kapitalisme yang terbaca merujuk pada konsep dasar yang dapat disederhanakan sebagai penindasan. Varian-varian yang kemudian muncul membeberkan pengurasan sumber daya atas kaum lemah oleh golongan the have yang memiliki kemampuan finansial dan manajerial yang lebih baik.

Kapitalisme—dan varian-variannya—kemudian menjelma menjadi penjajahan ekonomi gaya baru yang niscaya, seperti yang diimani Francis Fukuyama dalam The End of History and The Last Man. Kapitalisme telah menebar kesadaran palsu (false consciousness) sehingga ia seolah-olah menjadi sesuatu yang seharusnya, alamiah dan tak terelakan (inevitable). Mungkin saja pendapat ini benar, terutama bila ia ditilik dari perspektif borjuasi.

Asumsi Dasar: Kemakmuran

Liberalisme ekonomi sebagai rujukan ideologis kapitalisme lahir pada masa-masa revolusi industri di Inggris pada abad pertengahan. Pada awalnya penolakan terhadap campur tangan negara dalam bidang ekonomi lebih didasarkan pada motif-motif memperluas kemakmuran masyarakat. Absennya peran pemerintah dalam kehidupan ekonomi diyakini akan menkonstruksi suatu tatanan yang diatur oleh the invisible hand melalui mekanisme pasar.

Sejalan dengan filosofi ekonomi liberalisme kemudian menjadi tren pula filosofi sosial rasionalisme—terutama yang telah berkembang pada masa renaissance—selain filosofi politik demokrasi. Ketiga pilar filosofis ini turut mengiringi kelahiran ideologi kapitalisme. Sebagai landasan epistemologi etis kemudian dikembangkan paham darwinisme sosial oleh antara lain August Comte, Herbert Spencer sampai Karl Marx meski dalam paradigma yang berbeda.

Asumsi dasar darwinisme sosial adalah natural selection dalam kerasnya struggle for life individu berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan subsistensi dasar. Seleksi alam—atau dalam konsep kapitalisme dikenal sebagai mekanisme pasar—diyakini oleh Comte dan Spencer sebagai stimulan poisitif bagi kemakmuran masyarakat. Diasumsikan dengan persaingan hidup (yang ketat) hanya individu-individu berkualitas saja yang diperbolehkan turut mewarnai tata dunia ekonomi liberal. Ketatnya persaingan ini diharapkan mampu mencetak individu-individu yang giat bekerja, tentu dengan alasan utama agar tidak tersingkir dalam alur mekanisme pasar. Survival of the fittest kemudian menjadi jargon sistem hidup ekonomi masyarakat yang digemari.

Namun, lagi-lagi ketamakan menyelingkuhi kearifan filosofis kapitalisme. Cost ekonomi dalam ‘perjuangan bertahan hidup’ bagi industri kemudian dibebankan kepada pihak ketiga yang dapat berarti buruh atau konsumen. Filosofi sosial rasionalisme diterapkan secara egoistik dalam mekanisme industri yang dikenal sebagai konsep cost and benefit ration. Kegiatan ekonomi kemudian menjadi disederhanakan dalam determinisme laba.

Varian-varian kapitalisme yang lahir kemudian mengacu pada determinisme laba—yang ternyata digandrungi. Cost and benefit ration dimaknai dari perspektif individual semata tanpa diterapkan secara proporsional dalam aspek-aspek sosial—sebagai manifestasi karakteristik zoon politicon yang melekat dalam diri individu. Penjajahan, imperialisme, neoliberalisme dan globalisasi seolah-olah menjadi keniscayaan tata dunia yang tidak boleh didefinisi ulang.

Tata Dunia yang Fair

Distorsi atas kearifan filosofis kapitalisme oleh golongan pemilik sumber daya produksi telah nyata diusung atas nama individualisme ekonomi. Demi kepentingan-kepentingan yang bermuara pada penggelembungan laba, aspek-aspek sosialitas masyarakat dengan kesadaran penuh dicerabut dan direduksi. Kemakmuran yang dicita-citakan memang terwujud namun bentuk lain yang hanya dinikmati pemilik sumber daya produksi.

Lahirlah kemudian perlawanan terhadap kapitalisme—terutama yang dibingkai secara teoritik oleh paham marxisme. Sosialisme Karl Marx memang diformulasikan sebagai antitesis kapitalisme yang telah lebih dulu berjaya. Sebagaimana layaknya antitesis, sosialisme lahir secara ‘asal berseberangan’ dengan kapitalisme. Bila kapitalisme memuja duania yang berisi individu-individu berkualitas (yang kebetulan kaya raya), sosialisme mendambakan satu tata dunia proletariat (yang bahkan halal merebut kepemilikan sumber daya produksi kaum borjuis). Sehingga oleh sebagian orang sosialisme dianggap kurang memuaskan karena kemudian ia mengajari konstruksi tata dunia yang dibangun diatas dendam-kelas.

Tata dunia yang ditawarkan masih dirasa pincang oleh ego-ego teoritik atas kelas. Muncul kemudian keinginan untuk mewujudkan tata dunia holistik yang toleran terhadap kearifan filosofis masing-masing isme yang berseberangan. Harus diakui definisi awal atas darwinisme sosial, rasionalisme dan liberalisme tatap diperlukan dalam tata dunia yang hendak dibentuk. Begitu juga dengan jargon sosialitas yang dipuja-puja sosialisme—yang rela memberi subsidi silang pada anggota masyarakat lain yang kurang beruntung.

Tetapi untuk mengkonstruksi sintesa kedua isme besar ini tentu bukan perkara mudah segampang menambahkan bilangan dalam soal matematika. Konstruksi sintesa yang lahir masih berorientasi pada isme kapitalisme atau sosialisme sebagai eksemplar utama. Konsep human capitalism misalnya merupakan usaha mensintesakan psikologi sosialisme dengan bingkai kearifan bingkai filosofis kapitalisme. Dari rahim sosialisme lahir sintesa semacam sosialisme demokrat atau ekonomi pasar sosial (social market economy) yang mencoba mengakomodasi kearifan filosofis kapitalisme dalam konstruksi sosialisme.

Dunia Tanpa Penindasan

Redefinisi secara terbuka terhadap kapitalisme dengan merevitalisasi kearifan filosofi kapitalisme dilakukan demi peniadaan penindasan dari muka bumi. Mengembalikan praktik kapitalisme pada filosofi epistem ideologi ini merupakan salah satu bentuk kearifan nyata yang bukan saja penting melainkan telah menjadi suatu keharusan. Reduksi-reduksi oleh ketamakan terbukti telah menjerumuskan dunia dalam ketimpangan yang sebenarnya merupakan sumbu pendek yang dapat meledak sewaktu-waktu.

Sudah tentu katup-katup peredam harus disiapkan untuk mewujudkan tata dunia bermartabat yang menghargai harkat kemanusiaan dalam arti yang seluas-luasnya. Karakteristik zoon politicon telah mengajarkan tak ada manusia yang dapat hidup sendiri dalam individualisme dan egoisme yang dibangunnya. Lebih penting dari semuanya, mewujudkan tata dunia tanpa penindasan tentu tidak dengan terlebih dahulu melakukan penindasan terhadap kelas masyarakat manapun.

Febrie Hastiyanto; pegiat Kelompok Studi Politik (KSP) Ngasinan. Mahasiswa Sosiologi FISIP UNS.

Dimuat Lampung Post, 2003.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: