Memaknai Kelampungan dan Kejawaan

Juni 23, 2010

Membaca artikel ‘Revisiting’ Kelampungan yang ditulis Imelda (Lampost, 17/10) tentu menggembirakan, tidak saja bagi penduduk bersukubangsa Lampung, terutama bagi penduduk bersukubangsa Jawa. Imelda berkali-kali menulis dalam artikelnya bahwa keberadaan penduduk bersukubangsa Jawa merupakan realitas Lampung kekinian. Bahwa penduduk bersukubangsa Jawa lebih banyak dari segi jumlah, juga merupakan realitas, sebagaimana kata Imelda kondisi ini menyebabkan penduduk bersukubangsa Lampung menjadi minoritas. Mendiskusikan soal etnisitas hari ini cenderung riskan, dan perlu dilakukan secara hati-hati. Karena saya percaya Imelda mendudukan diskursus ini dalam ranah intelektual, saya memberanikan diri menanggapi Imelda, setidaknya menurut sudut pandang ‘Orang Jawa’.

Penduduk Bersukubangsa Jawa Mayoritas?

Ketika memilih idiom ‘minoritas’, Imelda tampak tak hanya melihat realitas penduduk bersukubangsa Lampung sedikit dalam jumlah, tetapi juga termasuk terbatasnya akses di bidang (terutama) politik dan pemerintahan. Enam periode berturut-turut Lampung dipimpin Gubernur yang berlatarbelakang sukubangsa Jawa merupakan satu penanda bahwa penduduk bersukubangsa Lampung menjadi minoritas di tanahnya. Pertanyaannya kemudian, benarkah penduduk bersukubangsa Jawa ‘mayoritas’ dan ‘mendominasi’ di tanah Lampung?

Menurut statistik memang tak kurang 61 % penduduk Lampung bersukubangsa Jawa, menyusul 11 % bersukubangsa Lampung, disusul etnis Sunda (termasuk Banten), Semendo, Palembang, Batak, Bugis dan Minang (BPS, 2000). Imigrasi penduduk Lampung bersukubangsa Jawa secara massif setidaknya dimulai sejak program emigrasi (politik etis) dirintis pemerintah Hindia Belanda tahun 1905. Seperti halnya emigrasi ke Deli di Sumatera Utara atau ke Suriname di Amerika Selatan, emigrasi penduduk dari Pulau Jawa ke Lampung ini banyak diikuti oleh mereka yang ingin mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Ada satu ungkapan Jawa soal ini, yakni perantau asal Jawa merantau ke daerah lain, termasuk Lampung karena kurang dan atau wirang. Kurang dapat diartikan miskin, sedang wirang dapat diartikan malu atau telah berbuat aib. Sebagian besar perantau asal Jawa di Lampung dapat dikelompokkan sebagai orang yang kurang ini.

Tesis dominasi penduduk bersukubangsa Jawa di Lampung perlu didiskusikan secara lebih cermat. Kalau tengaranya pada posisi-posisi politik dan pemerintahan pada masa lalu, jawabannya mungkin ya. Namun saya kira jumlah penduduk bersukubangsa Jawa yang menikmati kue politik dan pemerintahan ini hanya nol koma sekian persen dari total populasi, itu bila kita mencermati kondisi eksisting penduduk bersukubangsa Jawa hari ini yang tersebar di pelosok Lampung. saat ini lebih dari 20% penduduk Lampung miskin, tentu saja di dalamnya terdapat banyak penduduk bersukubangsa Jawa. Saya mencoba mencari-cari data jumlah penduduk miskin menurut sukubangsa di internet tetapi tak ada, sehingga tesis saya pun memang hanya common sense saja

Kelampungan dan Kejawaan

Mencermati artikel Imelda, visi Kelampungan yang hendak ditawarkan, termasuk yang telah dirintis sejumlah intelektual Lampung mengesankan sebagai anti tesis dari visi identitas etnis lain yang telah ada, atau kalau boleh saya sederhanakan sebagai visi Kejawaan. Saya sepakat bila identitas etnis perlu dikembangkan, dimaknai-ulang, dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun visi identitas etnis ini hendaknya tidak dibangun dengan mengandaikannya sebagai proteksi dari visi identitas etnis lain.
Penduduk bersukubangsa Jawa di Lampung hari ini adalah penduduk keturunan ketiga, keempat, kelima bahkan keenam di Lampung. Bila gelombang imigrasi ini dirujuk dari program transmigrasi, maka mereka yang berangkat pada kontingen pertama tahun 1905-1920-an saat ini telah berkembang hingga keturunan kelima atau keenam. Bila mereka menjadi transmigran setelah jaman republik antara tahun 1950-1960an—jumlah ini yang paling banyak, mereka telah memiliki tiga hingga empat generasi. Periode terakhir tahun 1970an berkembang hingga keturunan kedua atau ketiga.

Kebanyakan imigran asal Jawa masih memegang teguh adat dan tradisi yang dibawa dari Jawa, di samping berbaur dengan budaya dan penduduk lokal. Selametan, Nyadran, Ngelmu Petungan, tata krama, prosesi pernikahan hingga bahasa ibu masih digunakan oleh imigran. Generasi pertama imigran masih mengikuti adat istiadat ini seperti aslinya yang dilakukan leluhurnya di Jawa. Namun bagi generasi kedua dan ketiga tradisi ini mulai diikuti secara moderat. Maksudnya tata cara dilaksanakan namun tidak lengkap atau dimodifikasi menjadi lebih sederhana. Meski demikian warna nJawani-nya masih terasa. Namun tidak sedikit pula generasi kedua, ketiga, maupun keempat dan kelima yang lebih memilih menggunakan tata cara nasional sama sekali. Tata cara nasional ini dapat disebut sebagai tata cara yang sudah diakui menasional dan banyak dilakukan oleh banyak penduduk Indonesia lain, meski banyak yang diserap dari kebudayaan Jawa.

Tradisi imigran asal Jawa yang masih dipegang teguh di tanah perantauan semakin berkurang jumlahnya dan semakin sederhana bentuknya. Hal ini terjadi karena generasi pertama imigran sudah banyak yang wafat. Generasi selanjutnya semakin melonggarkan tradisi yang ada karena di samping referensi ‘yang asli’ sudah wafat maupun otoritas kebudayaan semisal Kraton seperti halnya di Jawa tidak ada, generasi imigran ini banyak bersinggungan dengan kebudayaan lokal maupun kebudayaan pendatang lain hingga kebudayaan nasional. Akulturasi ini melahirkan kebudayaan yang khas di daerah-daerah imigran.

Sehingga penduduk bersukubangsa Jawa saat ini pun perlu memaknai ulang visi identitas etnisnya. Pemaknaan ini paralel dengan perdebatan naturalisasi etnis Cina di Indonesia pada dekade 1950-1960an. Apakah menjadi WNI dan membaur sama sekali dengan penduduk lokal, atau menjadi WNI dengan mengembangkan budaya etnisitas dalam konteks lokal, atau menjadi WN China, yang meskipun di tanah rantau tetap berusaha menghidupi negerinya di seberang. Sehingga ketika Imelda mengakui kondisi eksisting penduduk bersukubangsa Jawa di Lampung, semangat memaknai ulang visi identitas hendaknya tak hanya terbatas pada idiom Kelampungan, tetapi juga Kejawaan. Tabik.

Febrie Hastiyanto; Penulis lahir dan dibesarkan di Way Kanan. Menulis naskah Jejak Peradaban Bumi Ramik Ragom: Studi Etnografi Kebuayan Way Kanan Lampung.

Dimuat dalam Lampung Post, Sabtu, 7 November 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: