Malam Solo Ini Bukan Milik Kita Lagi

Juni 23, 2010

BUS Nusantara pelahan meninggalkan Terminal Tegal. Berbelok ke kiri, menuju Semarang. Saya menghela nafas pelan-pelan. Menuruti angan yang membual. Empat tahun bukan waktu yang lama. Tetapi empat tahun meninggalkan kampus membuat saya kangen dengan Solo. Karena itu saya berdebar-debar sore ini. Mencoba membayangkan wajah Solo setelah empat tahun, namun tak dapat. Terlalu banyak kenangan. Terlalu banyak harapan.

Perjalanan melalui Pantura tidak begitu menyenangkan. Sawah, hutan jati, rumah-rumah sambung menyambung. Tidak ada yang istimewa, seperti di jalur lintas tengah Purbalingga-Wonosobo misalnya, saat bus meliuk membelah punggung pegunungan.Ketika memasuki Semarang saya baru merasa sedikit bergembira. Tiga jam lagi saya tiba di Solo. Saya mulai merangkai-rangkai waktu empat hari cuti dari kantor akan saya manfaatkan untuk apa saja di Solo. Mencicipi gudeg di depan SMA 1, itu pasti. Kemudian thengkleng Gapura Pasar Klewer, dan Harjo Bestik Pasar Kembang.

Kemudian mampir di Warung Bu Benk, dekat pondokan saya dulu. Bu Benk biasa memasak menu rumahan. Karena itu sewaktu kuliah dulu saya berlangganan di warungnya. Setelah itu saya akan menyusuri Jalan Slamet Riyadi. Mampir ke Sriwedari bila capai. Dulu saya kerap menonton di Solo Theater. Dari Dini teman semasa kuliah yang kini menjadi wartawan di Solo, kabarnya sudah tutup. Tak apa. Saya akan menonton Ketoprak Sriwedari saja. Saya tak begitu suka ketoprak, tak mengerti bahasanya. Maklumlah, meski kuliah di Solo saya bukan orang Jawa. Setidaknya orang Jawa tulen, karena saya kelahiran Jakarta. Tetapi atas nama liburan, ketoprak bolehlah menjadi pelepas waktu, hiburan klasik yang biasa kita nikmati saat liburan. Mengerti atau tidak, peduli atau tidak, bukan soal. Toh ketoprak dinikmati sebagai tanda bahwa kita sedang berlibur. Teater Broadway yang terkenal itu saya kira juga dinikmati dalam konteks ini.

TEMPATNYA masih seperti dulu. Hanya berpindah sedikit masuk ke halaman pekarangan kosong. Bukan tepat di pinggir jalan seperti dulu. Selepas ashar saya menyempatkan mampir ke sana. Dari losmen murah depan kampus, saya memerlukan berjalan kaki tidak lebih 30 menit. Melewati jalan-jalan kecil yang dulu saya akrabi. Bahkan jalan-jalan tikusnya hingga kini saya masih ingat. Namun saya memilih lewat jalan biasa.

Saya melewati beberapa rumah kos teman. Saya ingat, Nabila rumah kosnya Tatik yang setelah lulus kini kembali ke Jepara. Ada Wisma SS, di sana banyak mangkal anak-anak Mapala yang sebagian saya kenal. Kemudian Rumah Putih, dulu saya mengantar Rizal teman kampus mengapeli Riska anak Ekonomi. Masjid Kalimasada tempat saya menemani Gilang khutbah Jumat. Gilang teman satu organisasi saya. Dia lebih beriman, saya tidak, itu bedanya. Sehingga Gilang yang menjadi khatib, sedang saya menjadi demonstran.

Saya tersenyum sendiri. Lima tahun lalu, setiap saya melewati jalan ini pastilah saya bergembira. Selain melewati tempat kos teman-teman, mahasiswa yang lalu lalang di jalan itu sebagian saya kenal. Ada yang kenal akrab seperti Anis, Putri, Danang. Atau kenal wajah, biasanya anak-anak Ekonomi, Hukum dan Teknik. Juga Bu Man yang biasa menjual jamu gendong. Atau Bu Mitro ibu kos Riska yang ramah dan suka nyore di depan Rumah Putih. Dan Novi, anak Pemalang yang pernah saya taksir. Kosnya dekat sekretariat organisasi saya, Permata Bunda. Saya kira Novilah yang paling membuat saya tergetar bila melewati jalan ini. Demi melihat ia mengendarai Supra X-nya dengan anggun saya rela melambatkan langkah saya.

Tetapi kini saya berjalan seorang diri. Banyak mahasiswa yang juga melintas, namun tak satupun yang saya kenal, atau mengenal saya. Saya merapikan jaket, mengurangi kegugupan senja ini. Saya tetap melangkah pelan-pelan. Hanya mampu memandang Nabila dari luar. Motor yang parkir masih sama seperti dulu. Cat Nabila pun masih biru muda, dengan siluet Bung Karno di pintu garasi. Nabila masih riuh dengan canda penghuninya. Namun saya yakin Tatik, Mbak Emi kakak kelas saya, atau Fida tak lagi kos di sana. Saya hanya bisa memandang siluet Bung Karno yang sedang tersenyum. Saya membalas senyum Bung Karno. Dengan senyum yang saya paksa-paksakan.

Kemudian Bu Mitro. Masih di depan Rumah Putih. Dengan tiga-empat mahasiswi. Tetapi tak satu pun saya kenal lagi. Bu Mitro duduk di bangku semen depan kos. Terhalang seorang mahasiswi yang bercerita manja. Seperti Riska bila diapeli Rizal. Saya cuma menemani. Senja ini saya cuma berharap mahasiswi itu Riska. Sehingga saya dapat bertegur sapa. Karena sejak kemarin tiba di Solo, belum ada seorang pun yang saya ajak bicara karena telah mengenal sebelumnya. Ya, ya. Saya baru ingat. Riska diwisuda bersamaan dengan saya. Riska bilang saat itu akan pulang ke rumahnya, di Tasikmalaya.

Perjalanan saya lalui dengan cepat. Karena saya tidak bercakap-cakap dengan teman yang ketemu di jalan. Seperti lima tahun lalu. Kadang-kadang saya bertemu teman satu organisasi, memberi informasi rapat harian diundur lusa. Atau bertemu teman saya yang aktif di lembaga pers mahasiswa. Mengabari editing bulletin bulan ini hampir selesai. Atau bertemu teman kampus. Bertanya jadwal ujian mid semester kapan, karena saya sudah dua minggu tidak menyambangi kampus. Atau bertemu kenalan lain. Bertanya apa saja, saling bertukar salam. Atau melambatkan langkah demi melihat Novi. Mengendari sepeda motor pelan-pelan. Rambutnya yang sebahu tergerai di belakang helm. Saya suka tersenyum bila Novi membuka kaca helmnya sehingga wajahnya yang manis dapat saya lihat. Biasanya Novi membalas senyum saya. Namun saya tahu diri, pastilah itu senyum basa-basi kepada orang yang kita temui di jalan. Karena hingga hari ini Novi belum pernah mengenal saya. Saya memang belum pernah berkenalan dengannya. Menagapa saya tahu nama Novi? Saya kira anda tahu bagaimana cara saya mengenalnya.

SAYA memilih tempat duduk di dalam. Dulu biasanya dengan Eko, Abdul, Gilang, Ambar, Yeni, atau Ferry teman satu organisasi saya, kami biasa makan di pinggir jalan. Di tikar yang sudah kusam karena berbulan-bulan diduduki tanpa dicuci. Masih ketumpahan kecap, saos, atau kuah mie rebus. Belum lagi minyak bakwan, atau tempe yang menempel di tangan dilapkan begitu saja di tikar. Abdul yang paling sering melakukan itu. Kami biasanya bercerita apa saja. Soal-soal organisasi: rapat-rapat, kajian, demonstrasi, dinamisasi kampus, skandal dosen, politik lokal Solo, pencemaran Bengawan Solo, pro-kontra valentine. Juga soal pacar si A. Si B yang ternyata homo. Atau aktivis organisasi lain yang pintar. Sering juga kami mencela aktivis organisasi lain yang sok pintar. Seolah-olah kami yang paling pintar. Apapun yang kami bicarakan, selalu membanggakan diri kami sendiri. Dan melebih-lebihkan pencapaian dari apa yang kami lakukan. Bila melakukan dinamisasi kampus dalam pemilihan Presiden BEM, cerita di tikar pinggir jalan itu selalu lebih dari apa yang sebenarnya kami lakukan. Lesehan tikar pinggir jalan itu mengajari kami untuk lebih baik sombong ketimbang minder.

Dari dalam saya melihat tikar di pinggir jalan terisi semua. Saya melirik mahasiswa yang di dalam menunggu untuk dapat duduk di tikar, bila kelompok yang lebih dulu itu telah selesai memakainya, dan menyombongkan dirinya. Seperti kami dulu. Dari dalam sayup-sayup saya mendengar mereka masih berbicara hampir persis seperti yang kami bicarakan dulu. Saya mendengarkan saja. Beberapa diksi yang tersebut dalam pembicaraan beberapa saya kenal. Saya ingat dulu sering menggunakannya. Seperti ‘aras’, ‘dataran’, ‘sinergi’ ‘diskursus’, ‘pelibatan’, ‘jejaring’ dan ini yang paling sering: ‘stakeholders’ atau ada yang menyebutnya ‘pemangku kepentingan’. Semakin tak lazim idiom yang dikutip, semakin berbanggalah ia. Lalu kalimat yang saya suka: ‘sehingga yang terjadi kemudian adalah…’. Dan banyak lagi. Kemudian mengutip tokoh-tokoh. Marx. Weber. Derrida. Guevara. Geertz. Gie. Mangunwijaya. Kayam. Hingga Bondan Winarno. Saya mendengarkan semua.

Es teh pesanan saya diantarkan Bu No. Saat meletakkan gelas dia memandangi saya agak lama. Keningnya berkerut, mencoba mengingat sebuah nama. Saya tersenyum, kemudian menyebutkan nama saya. Bu No terlihat senang sekali. Apalagi saat saya bilang kini sudah bekerja dan tinggal di Tegal. Bu No menjawil Pak No yang sedang membuat mie rebus. Mengenalkan saya kembali pada Pak No. Ditambah-tambahi: lebih bersih, sudah sukses sekarang, dan pantas menjadi bapak. Pak No sepertinya setuju dengan pendapat Bu No. Saya tersenyum saja, merendah. Namun saya senang juga. Semenjak kemarin baru Bu No yang mengenal saya secara pribadi.

Beberapa mahasiswa memandangi saya. Heran barangkali, ada orang baru di tempat itu. Tetapi Bu dan Pak No mengenal intim. Bu No mengenalkan saya kepada pelanggannya mahasiswa-mahasiswa itu. Tentu saja ditambah-tambahi lagi: dulu aktivis hebat. Pernah memimpin organisasi mahasiswa besar di Solo. Aktif juga di pers kampus. Dan kelompok studi ini, itu. Di kampus kritis. Suka berdemo di Gladag dan Balaikota. Dulu banyak mahasiswi yang naksir. Kuliahnya lama. Dan yang penting sekarang sukses. Di Tegal. Saya tersenyum saja. Mahasiswa-mahasiswa itu tersenyum kepada saya. Memandang dengan kekaguman baru. Seorang menyalami saya. Dia mengaku anggota organisasi mahasiswa tempat saya bergiat dulu. Dia mengatakan juga, di depan, di tikar di pinggir jalan banyak aktivis kampus.

Saya mengangguk-angguk senang. Bu No jelas berlebihan. Saya mengoreksi dalam hati: saya hanya pernah menjadi ketua salah satu departemen di organisasi, dan di kampus tidak selalu kritis karena saya sering membolos. Belum sukses di Tegal, hanya sudah bekerja. Bila pernah berdemo di Gladag, ya. Tetapi tak pernah sebagai korlap, hanya penggembira saja. Bila lulus kuliah lama, tidak juga. Saya lulus 4,5 tahun dari kelulusan standar 4 tahun. Bila banyak mahasiswi naksir, saya tidak tahu. Buktinya saya hanya pacaran dua kali selama kuliah. Ditolak mahasiswi tiga kali. Dan belum pernah berkenalan dengan Novi.

MALAM telah turun di Solo. Sesaat setelah tiba di Solo kemarin saya mencoba mengontak teman-teman yang nomor handphone-nya ada pada saya. Eko sudah pulang ke Wonosobo setelah lulus tahun lalu. Membuka bisnis warung internet. Kemudian Lisdha menjadi wartawan di Jakarta. Rahmad sahabat saya yang hingga kini belum lulus aktif di organisasi tingkat pusat di Jakarta. Sekarang dia sedang mengisi pelatihan di Sumbawa. Hassan sedang di Yogya, ikut temannya di LSM katanya. Mas Joko sudah menjadi arsitek di Semarang, dan sudah berumah tangga pula. Anis di Purwokerto. Adin balik ke Banjarmasin. Rizal di Palembang. Anang bekerja di sebuah bank swasta hasil merger di Madura.
Saya telah mengingat-ingat teman yang masih di Solo. Dini, wartawan kita, kemarin sms sedang liputan di Wonosobo. Abdul masih kuliah, tetapi liburan ini ia pulang ke Banjanegara. Tyas, ketua organisasi saya saat ini sibuk mengajar privat Sempoa, sehingga tidak dapat bertemu. Hanya ada Aris, namun saya tak terlalu intim dulu. Kemudian Banu yang asli Solo. Sama dengan Aris, saya tak biasa ke tempat ini bersamanya dulu.

Es teh saya sudah berganti gelas hingga tiga kali. Bu No membawakan saya semangkuk mie goreng. Kemudian satu pincuk nasi kucing. Dan sepiring bakwan, tempe, pisang goreng, sate telur puyuh, timus. Saya menikmati hidangan Bu No pelan-pelan. Bu No masih seperti dulu. Semakin sukar menghitung pembayaran. Bu No kerap lupa, apalagi uang-uang receh. Namun saya percaya tak ada mahasiswa yang berbohong mengambil makanan tanpa membayar. Pak No mengucek-ngucek matanya yang pedih karena asap. Dari dulu Pak No kebagian memasak mie rebus atau goreng dengan tungku arang.

Mahasiswa-mahasiswa yang duduk di tikar pinggir jalan masih betah bercengkerama. Tak puas-puas menyombongkan dirinya. Tetapi saya kira tak apa-apa. Mereka berbahagia. Meski hanya memesan segelas es teh, dua pincuk nasi kucing dan bakwan dua biji dari tadi. Saya menatap langit Solo yang hitam bersih. Tak ada bintang. Saya tak bisa mengira-ngira, apakah cuaca di langit cerah atau mendung. Lampu-lampu jalan mulai berembun. Saya melirik jam tangan. Sudah pukul 01.37. Malam telah turun. Namun kehangatan Hik Solagratia baru saja dimulai.***

:untuk Mas Anto(k) yang masih setia bergiat di Solo. Saya iri kepadamu yang selalu ‘berbahagia’. Sehabis dari Solagratia, diketik di Tegal, Maret 2008.

Febrie Hastiyanto; dimuat Buletin Sastra Pawon, 2008

2 Tanggapan to “Malam Solo Ini Bukan Milik Kita Lagi”

  1. hasan Says:

    tulisan yang melukiskan Solo yg dulu kita alami. Hick bang Jack juga sering menemani kita.
    memang benar, malam Solo sekarang bukan malam Solo milik kita lagi. saya kemarin ke Solo hanya ketemu Joni, temen saya di Visi dulu. yg lain sudah ngilang beserta kesukesan masing2.


  2. demi masa…

    semua akan berlalu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: