Jalan Galih 216

Juni 23, 2010

Jalan Galih 216

Pada cinta sepanjang 800 meter aku dilahirkan. Bersama tetangga kiri kanan kami yang bersahaja: guru Sekolah Dasar, petani kebun lada, pedagang buku gambar di pasar kalangan, cingkau hasil bumi, agen SDSB , penjual gorengan dan hansip yang bertugas setiap 17 agustusan dan pemilu.

Petang menjelang, Speaker TOA bersahut-sahutan. Dari Masjid Padang, Langgar Jawa, Masjid Ogan dan Masjid Jami Semendo. Bersarung dan berpeci kami berlarian melintasi Maghrib mengejar masbuk. Seusainya, antri mengaji di Masjid Ogan: ba sin mati bawah bis, mim alif lam lam tajwid ha mati di atas lah, bismillah. Atau mengeja di Langgar Jawa: alif fatah a, alif kasroh i, alif domah u, a-i-u. Masjid kami berbeda, namun tak seujung kuku pun kami bersengketa.

Aku mengeram dalam kehangatan. Pada lampu neon yang berpendar. Dan siaran TVRI dari televisi hitam putih 14 inchi. Malam mulai mengembun. Tak khawatir, karena kami telah memakai sweater. Di tikar yang digelar, kehangatan itu meluber.

Rumah kami berimpitan, tak ada yang memiliki halaman. Kami selalu berbagi, karena aroma tak dapat sembunyi. Ikan asin, sambal teri, atau sayur lodeh lihai memprovokasi.

Pagi hari adalah firdaus. Dalam irigasi Saluran Induk Bendungan Banjit yang berwarna cokelat semur jengkol. Melambai-lambaikan segala salto dan koprol dari jembatan bambu yang melitangi derasnya. Bergegas karena tak lama lagi ibuk, mak, mbok, dan umak kami pastilah menjerit bersahutan di pengkolan: lekaslah pulang, bujang. Pukul 06.30, terlambat sekolah engkau nanti.

Kami punya lapangan. Oleh Pemerintah Kecamatan diberi nama besar: Lapangan Sriwijaya. Tempat Musabaqoh Tilawatil Quran digelar. Juga pasar malam. Layar tancap. Konsep musik dangdut. Atau permainan bola sepak setiap sore. Bagi kami rumputnya yang tinggi adalah kenikmatan bermain perang-perangan. Dan layangan. Hingga paretan .

Tidak, aku tidak sedang bernostalgia dan mengutuk laju zaman. Cinta sepanjang 800 meter itu kini dengan sadar mengubah dirinya menjadi deretan rumah toko. Irigasi itu mendangkal oleh lumpur, beling dan rupa-rupa sampah. Aku katakan kepadamu sekali lagi, aku tak menyesal. 800 meter cinta itu bukan milikku, melainkan kepunyaan mimpi.

14 Agustus 2009

Mimpi Way Kanan

Kota ini nyempil di utara Lampung. Jalan Lintas Sumatera adalah nadinya. Wangi bunga lada adalah napasnya. Baradatu. Banjit. Kasui. Blambangan Umpu. Bahuga. Bersahaja menjaga aliran Way Umpu yang menyodet tanahnya.

Bersahaja dapat engkau tukar menjadi kemiskinan. Dapat engkau artikan persahabatan. Tak salah bila engkau menganggap itu sebagai ditinggalkan. Kota ini menghias wajahnya dengan stasiun tua. Terminal bayangan. Pasar-pasar kalangan. Gedung bioskop yang kini disulap menjadi bank. Dan tanah lapang yang rencananya akan di bangun Pasar Sentral. Dan tanah kosong yang suatu saat nanti akan dibangun terminal. Kami telah terbiasa hidup menghindari kemegahan.

Di kota ini kehidupan adalah nyata. Agar dapat makan siang kami harus mendulang pasir di sungainya. Menderes karet yang wangi baunya. Menjadi ojek mempertaruhkan pendapatan di setiap pengkolan. Juga menjadi buruh di pabrik kayu lapis. Atau ngoret di kebun kopi yang berbuah satu tahun sekali.

Kami tak haus hiburan. Meskipun tak pernah dibangun taman kota. Stadion. Gelanggang Remaja. Atau sekedar traffic light. Kami terbiasa menghibur diri pada suara jangkerik saat matahari tinggi. Dari kebun itu. Di belakang rumah saja.

Kami selalu bergantung padamu: Kotabumi. Bandarjaya. Baturaja. Bandar Lampung. Tempat kemeriahan itu ditebar. Tak apa. Kami berbahagia hidup dalam sayup-sayup kesunyian.

Tengah Agustus 2009

Sate Tek Yu

Aku selalu tak dapat menahan rindu. Pada sepiring sate padang hangat. Dua tusuk bersiram saus kuning-kecoklatan. Tanda cinta seharga Rp. 300. Kepada kami yang mengular petang itu di beranda.

Kami belum mengenal kwetiau, batagor, martabak telor atau chicken steak. Hanya pada semangkuk miso Lek Sukir, seporsi bakso Lek Antoro dan semangkuk Mie Ayam Lek Lan kami menanti cemas. Berebut suapan dengan adik, dan tatapan ibu yang mendelik. Bertahun-tahun tak kami kenal diversifikasi jajanan seperti hari ini engkau merengek pada segelas soda susu dan burger berselip daun selada dan daging panggang.

Tek Yu mengomel karena kami tak tertib. Bagaimana kami harus tertib bila pukul 19.30 nanti sate habis? Sebentar lagi adzan maghrib dan kami harus mengaji. Pada sepiring sate padang hangatlah kami menutup hari ini.

Sore itu aku bergegas mandi. Takut tak mendapat tempat antri. Beranda itu lebih rapi kini. Kuah sate meruap dari dandang di atas bara. Seorang bujang tanggung sigap meracik lontong. Sepiring sate padang hadir bergegas. Tek Yu telah lama pensiun berniaga. Kota kami kini tak lagi memiliki tanda.

31 Desember 2009

Febrie Hastiyanto. Lahir di Way Kanan 2 Maret 1984. Puisinya yang pertama kali dipublikasikan, Sajak Seorang Pejoang yang Dikhianati Senapannya menjadi finalis Lomba Cipta Puisi-Prosaik Krakatau Award 2009.

Dimuat Lampung Post, Minggu, 10 Januari 2010

2 Tanggapan to “Jalan Galih 216”

  1. Hendra Says:

    Aku jadi teringat pada perjalananku dari kota tanah airku jakarta ke baradatu pada tengah malam tepatnya pukul 02 dini hari bulan agustus 1995, saat pertama kali kakiku kuinjakan di baradatu demi mengunjugi pacarku yg sedang berlibur merayakan lebaran dgn keluarganya, dengan mini bus puspa sari yg pada saat itu hanya membawa penumpang aku seorang dr rajabasa, “terima kasih B’li…..” ucapku saat ku turun depan kantor polisi baradatu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: