Gerilya Budaya Way Kanan

Juni 23, 2010

Sembilan tahun meninggalkan Way Kanan membuat saya underestimate terhadap kota ini. Sebelum tahun 2000, kota ini jauh dari hiruk pikuk dinamika kebudayaan (termasuk kesenian dan intelektual). Hampir tak ada orang membincangkan teater, seni rupa atau sastra. Lampost baru tiba di Way Kanan setelah pulul 09.00 pagi. Koran nasional seperti Kompas dapat dibaca paling cepat pukul 13.00. Namun ternyata saya keliru. Potensi kebudayaan Way Kanan yang dapat digerakkan oleh terutama anak muda sebenarnya besar, meskipun saat ini mereka tidak (atau belum) berada di Way Kanan.

Pegiat Teater

Dalam silaturahmi dengan sejumlah kawan di dunia maya seperti facebook, email maupun blog, saya mendapati realitas yang ‘mengejutkan’. Sejumlah teman putera Way Kanan saat ini ternyata concern terhadap kegiatan seni budaya dan intelektual. Sebut saja misalnya Aan Frimadona Roza, mantan Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang seni (UKMBS) Unila dan aktif di Komunitas Berkat Yakin (Kober) yang bergiat di bidang teater. Kemudian ada nama Ahmad Thohamudin, juga pegiat teater sekaligus Ketua Kelompok Studi Seni (KSS) FKIP Unila serta Edi Siswanto, aktivis KSS FKIP Unila yang pernah menyutradarai pentas teater di kampusnya. Teman-teman ini kelahiran Baradatu, meskipun Toha dan Edi saat ini masih berstatus mahasiswa Unila dan berdomisili di Bandar Lampung.
Di bidang sastra, terdapat nama yang cukup ‘menyentak’ saya, Delvi Avshari yang memiliki nama pena Queen Soraya. Queen Soraya yang kelahiran Baradatu ini telah menulis tiga judul teenlit yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama dan Gagas Media. Setelah menyelesaikan pendidikan diploma di Jakarta, Queen Soraya kini menjadi mahasiswi Universitas Malahayati Bandar Lampung. Kemudian Musliha, penyair muda kelahiran Blambangan Umpu yang kini menjadi mahasiswi Universitas Bandar Lampung (UBL).
Untuk pentas-pentas tari, tak bisa tidak kita harus menyebut nama Agus Margani atau biasa disapa Uyung, yang memiliki Sanggar Taman Palapa di Taman Asri Baradatu. Boleh dibilang Uyunglah, pegiat seni yang telah eksis di Way Kanan. Masih di bidang tari, ada nama Gino Vanollie, mantan Ketua UKMBS Unila yang kini menjadi salah satu pejabat di Pemkab Way Kanan. Selebihnya adalah kelompok-kelompok seni tradisi, seperti kelompok gitar klasik di Negeri Batin, Blambangan Umpu, Negeri Besar atau Pakuon Ratu. Kelompok gitar klasik genre Batanghari Sembilan banyak ditemui di Banjit atau Kasui. Sedang seni tradisi Jawa seperti campur sari atau jathilan banyak digiatkan warga di Baradatu atau Banjit.

Komunitas Kebudayaan

Komunitas seni, budaya dan intelektual di Way Kanan hari ini terbilang masih berjalan sendiri-sendiri. Secara relatif belum ada komunitas yang mampu mewadahi geliat kebudayaan ini, memfasilitasi eksistensinya, termasuk memfasilitasi regenerasinya. Semacam satu komunitas yang didirikan oleh pekerja kebudayaan, melakukan usaha-usaha untuk kemajuan kebudayaan dalam makna seluas-luasnya, dan difasilitasi pemerintah dalam hal pembiayaan dan pengelolaannya. Di daerah lain, komunitas ini biasanya bernama Dewan Kesenian. Apapun identitasnya, komunitas ini akan efektif bila didirikan untuk tujuan pengembangan kebudayaan, bukan ‘dan lain-lainnya’. Selama ini memang telah terbentuk Dewan Kesenian Way Kanan yang dipimpin oleh birokrat lokal. Namun berdasarkan informasi teman-teman, keberadaan Dewan Kesenian belum optimal.

Di samping mereka-mereka yang memiliki minat pada kebudayaan, lembaga pendidikan terutama sekolah merupakan wahana strategis untuk menjadi agen kebudayaan. Dalam kurikulum kita terdapat pelajaran Kerajinan Tangan dan Kesenian, serta Bahasa Indonesia. Guru-guru Kesenian dan Bahasa Indonesia dapat menjadi agen kebudayaan dengan berkomunitas, serta membuat agenda-agenda pemassalan kebudayaan. Harus diakui selama ini Way Kanan sebagai kota tak memiliki banyak kontribusi dalam membentuk agen maupun pegiat kebudayaan sebagaimana nama-nama yang disebutkan di muka. Hampir kesemua pegiat kebudayaan Way Kanan mengasah rasa kebudayaannya di luar daerah.

Setiap tahun Pemkab Way Kanan menggelar Festival Radin Jambat. Momentum ini seharusnya menjadi ‘sesuatu’ bagi geliat kebudayaan Way Kanan. Selama ini dalam pelaksanaan festival sudah biasa digelar pertunjukan seni tradisi seperti lomba menyanyi lagu Lampung atau pentas seni tari dan seni musik tradisi. Warna budaya dalam Festival Radin Jambat dapat diperluas dengan mengakomodasi genre sastra dalam Festival Cipta-Baca Puisi Lampung, Festival Teater Tradisi Lampung. Selain seni budaya Lampung, tak ada salahnya Festival Radin Jambat menjadi pesta budaya, dimana sastra, musik, tari, teater, seni rupa modern juga dipentaskan atau dilombakan.

Festival Radin Jambat dapat menjadi ‘panggung’. Namun dinamika kebudayaan tak terbatas pada ‘panggung’ atau ‘pentas’. Untuk itu perlu dibangun dan dibentuk ‘aktor-aktor’ kebudayaan di bidang sastra, musik, tari, teater, seni rupa, diskusi (intelektual), fotografi, film dan seterusnya melalui komunitas kebudayaan Way Kanan dengan pegiat kebudayaan dan Guru-Guru Kesenian (dan Bahasa Indonesia) sebagai agen utamanya. Kalau boleh usul, komunitas dan gerakan budaya ini bolehlah disebut sebagai Gerilya Budaya Way Kanan (GBW).

Febrie Hastiyanto; Putera Way Kanan. Menulis naskah Jejak peradaban Bumi Ramik Ragom: Studi Etnografi Kebuayan way Kanan Lampung.

Dimuat Lampung Post, Sabtu, 6 Februari 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: