Generasi yang Tidak Rela Biasa-Biasa Saja

Juni 23, 2010

generasi yang tidak rela biasa-biasa saja

saat kalian ulurkan tangan kepada kami,
terlambat. karena negeri ini telah pecah dalam degup genderang.
ketika kalian menaburi kami dengan slogan,
terlambat. karena kami telah bergerak di jalanan.
dan waktu kalian menanti peluh kami,
terlambat. karena dada kami merah meradang.

kami, generasi yang tidak rela dikhianati
menolak bungkam meski sejuta senapan disodorkan.
kami, generasi yang lahir dalam ketakutan
menolak diam meski diracuni kemiskinan.
kami, generasi yang tidak rela biasa-biasa saja
menolak larut dalam letup-letup kesadaran palsu.

:dalam ujian akhir semester metode penelitian sosial, 17 juni 2003

:kepada kawan-kawan

kepada kawan-kawan yang menggeliat di bawah penindasan
aku berdiri di belakangmu, siap sedia mengantarkan
bertiarap di balik kebekuan katup-katup peredam
yang kawan-kawan tidak indahkan,
berdiri menetang jaman dalam kepalan napas yang tersengal
dalam derap maju akal budi dan distorsi selangkangan
menolak untuk bungkam walau
air mata diteteskan.

kepada kawan-kawan yang menggeliat di bawah penindasan
aku berdiri di belakangmu, siap sedia mendengarkan
lengking pekik yang mengatasi gemuruh buku-buku
dalam dada-dada yang setiap saat gelisah
genderang tarian-tarian intelektual yang tersebar di jalan,
tersekat dalam seminar, mengatasi bengis kecerdasan yang diselingkuhi
desah-desau kibaran pusaka almamater yang tidak jadi ditiup angin
tetapi tak rela tersimpan dalam peti buta mata diri.

kepada kawan-kawan yang menggeliat di bawah penindasan
aku berdiri di belakangmu, siap menerima dukamu
dalam pecah siang yang ditusuk-tusuk mimpi
kerinduan pada bayonet membuncah berkilat,
demi melihat jerit kekecewaan yang hanya boleh tinggal di hati
menarikan amarah-amarah dengan api
berlonjakan teguh dalam rapat barisan yang menyatu
terjungkal,
tetapi tetap menggapai-gapai.

aku tangkup tanganmu dalam dingin malam ini
dengan nyanyian lirih yang hadir tanpa kita undang:
aku berdiri di belakangmu.

:dari sisa waktu
mid filsafat ilmu, 270403

lagi-lagi perang

ketika peluru dilesatkan
ia bukan jantan, ia bukan perang
karena mereka hanya bidak mungil yang dilepaskan
untuk menuntaskan keangkuhan peradaban
ketika air mata disayat
ia bukan jeritan, ia bukan rintihan perang
karena mereka hanya letupan cengeng di akhir pekan
untuk menuntaskan hampa-hampa kearifan

bahkan urat leher pun tak berguna
digorok, ditepiskan dari forum-forum kebudayaan
bahkan rasa hati pun harus disingkirkan
dipetieskan, melawan pendapat yang menjadi umum
dan bahkan ceceran darah pun dirayakan
ditaburi, air mata yang kini dialiri debu

kita berperang dengan iseng
mempermain-mainkan kedaulatan diantara derap sepatu lars
kita berperang dengan dengki
mempermain-mainkan kelenjar yang rapuh ditingkah popor senapan
kita berperang tidak dengan hati
mempermain-mainkan perasaan diri sendiri

perang hanya mengaku-aku
bahwa ia final, bahwa ia akumulasi
peradaban hanya mengaku-aku
bahwa ia anak sah kearifan, bahwa ia lahir dari kebudayaan
kita tidak berani mengaku-aku
bahwa ada yang hilang dari diri sendiri

:lagi ngobrol dengan fira 020602

Febrie Hastiyanto; dimuat Majalah Hijau Hitam, Januari 2004.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: