Cerita tentang Cinta

Juni 23, 2010

BANYAK orang bilang hidup ini nisbi. Meledak-ledak. Tidak terkendali. Rupanya saya agak setuju dengan orang-orang. Bahwa hidup sering tidak diduga-duga, seperti halnya mati. Termasuk pilihan-pilihan. Untuk memaknai hidup. Seperti saya. Yang tidak pernah menyesal saat saya menguatkan ketetapan hati. Untuk tidak menikah.

Bukan. Saya tidak terikat pada kewajiban keyakinan apapun. Saya tidak pernah didikte orang lain. Walaupun memang saya tidak berniat menikah karena orang lain. Bukan. Bukan juga. Saya tidak punya riwayat sakit berat. Badan saya sehat, dibuktikan dengan surat keterangan dari dokter. Tentu saja saya normal secara mental. Seperti anda. Ya, saya hanya seorang biasa-biasa saja.

Kesal, tentu saja. Bukan pada pilihan saya itu. Tapi pada orang-orang. Yang merasa perlu berempati pada saya. Kapan kawin? Atau, berapa anakmu sekarang? Ah, cuma orang-orang. Saya masih bisa berdebat barang satu dua kalimat argumentatif. Biar diam mereka. Tapi tidak kepada semua. Utamanya bapak. Juga ibuk. Mbak Intan atau Mas Erick. Sampai bosan. Saya pikir mereka juga. Selalu saja kawin menjadi tema aktual dalam setiap perbincangan di rumah. Harap maklum, kami jarang bertemu lho?! Itu tuh, Mbak Intan. Disertasinya belum selesai-selesai di Malaysia. Anaknya satu, tapi suaminya… baik. Jelas saja jarang mudik. Cuma sama Mas Erick saja masih suka ketemu. Kalau dia mampir dari ngurus proyeknya yang di Surabaya. Punya bosnya sih. Eh, nanti dulu. Saya sudah tidak tinggal sama bapak ibuk lagi lho?! He-he-he. Saya juga jarang sowan kok. Paling kalau saya lagi kumat kolokannya. Kangen sama teh bikinan ibuk yang disruput kalau hari sudah sore. Di teras belakang menghadap kolam. Sama bapak, bercerita banyak sampai magrib tiba.

Makanya kawin bagi kami bukan tema yang mendesak diperbincangkan lagi. Terutama dua-tiga tahun ini. Kami ingin menikmati kebersamaan tanpa patah hati. Biasanya kalau ibuk atau Mas Erick tanya-tanya soal kawin, makan malam setelahnya menjadi hening. Biasalah, pasti saya telah berdebat hebat dengan Mas Erick. Soal substansi hidup. Masalah etika, moral dan sosial. Sampai, kadang-kadang finansial. Sudah pasti tidak ada yang menginginkan dua tiga malam terakhir kami menjadi hambar. Jadilah ibuk, Mas Erick juga bapak, Mbak Intan dan saya menganggap tema kawin seolah-olah tidak pernah ada. Hanya Mas Erick masih memberi garansi: untuk sementara. Tidak lama lagi kamu akan berubah, katanya.

SEMUA berawal dari cinta. Seperti hidup kita. Dari kasih Tuhan. Dan cinta bapak ibuk. Bukan sok klasik. Apalagi meniru cerita-cerita tentang keagungan cinta sejati roman-roman abad pertengahan. Tentang kasih tak sampai. Yang terbawa sampai mati. Biarlah kata orang-orang. Saya biasa menuruti kata hati. Terutama soal pilihan hidup. Yang untuk orang lain dianggap tidak mungkin. Seribu satu, kata mereka untuk menyebut sesuatu yang langka. Saya kurang sepakat, karena saya menyebutnya sebagai unik.

Tidak ada yang istimewa saya kira. Dengan kisah roman-romanan yang mengubah pandangan hidup saya dalam tujuh tahun ini. Bahwa kala itu saya sedang berada dalam fase paling matang dalam hidup sebagai seorang dewasa. Tidak sampai setahun menjadi sarjana ekonomi saya sudah bekerja di sebuah kantor akuntan berskala menengah. Artinya, belum kondang-kondang amat begitu. Padahal saya juga melanjutkan kuliah saat itu. Mengambil Master.

Apalagi? Seorang yang masih sendiri dengan penghasilan. Walaupun, sudah tentu cuma cukup buat beli bedak, sama sabun mandi. Tetapi tunangan saya sudah mapan. Atau paling tidak tinggal meniti karier yang berjenjang. Semacam hukum alamlah. Namanya juga masih muda. Saya biasa panggil dia Rio. Karena dia tidak pernah mau saya panggil dengan mas. Dia selalu bilang primordial. Ya, tunangan saya yang seperti Mas Erick. Bekerja pada perusahaan konstruksi.

Rio baik. Tapi waktu kami memutuskan untuk berpisah agak ribut juga sih. Mas Erick apalagi. Ibuk sampai pingsan-pingsan segala. Mbak Ndari tampak demikian menyesal. Melebihi Rio adiknya. Asal tahu saja, hubungan saya dengan keluarga Rio sangat baik. Sampai sekarang sebenarnya, meski Rio sudah menikah empat tahun lalu.

Padahal, kalau dipikir-pikir saya telah mengambil keputusan besar, bukan hanya bagi saya ternyata, tetapi menyangkut orang lain dalam keluarga besar Sutrisno Atmojo. Beberapa bulan bertunangan, keluarga saya dan keluarga Rio mulai mengutak-atik kalender. Biasa, mencari hari baik. Agak rumit saya kira perhitungannya. Soalnya sampai beberapa kali orang-orang tua kami berdebat sengit. Soal prinsip. Soal tata cara. Apalagi kami bukan dari suku yang sama. Saya sih tidak terlalu pusing dengan ngelmu petungan, ilmu tentang hitung-hitungan hari baik dan hari naas. Ah, seperti togel saja.

Saya merasa saya orang yang rasional. Rio juga. Pendidikan tinggi, lingkungan akademik dan pergaulan telah membentuk kami sebagai bagian dari kelas menengah generasi baru Indonesia. Maka itu, tidak terlalu sulit bagi saya untuk memutuskan pertunangan dengan Rio. Walaupun pada awalnya sempat grogi juga. Tapi Rio menerima. Buat apa diteruskan kalau komitmen saya dibentuk dalam tekanan. Ketika saya jawab tidak ada, Rio tidak pernah bertanya soal alasan. Itu bisa dibuat-buat, katanya. Saya jawab: ya. Karena saya hidup dengan naluri.

Dan perkawinan kami batal. Tidak ada ribut-ribut. Hanya orang geleng-geleng kepala. Yang namanya gosip, wuih tidak terkira. Tatapan curiga atau percakapan yang tidak lagi sepenuh hati sedikit mewarnai hidup dewasa saya satu sampai dua tahun setelah keputusan itu. Pada bulan-bulan awal saya sudah tutup telinga saja. Khas Indonesia dalam mengartikulasikan ekspresi. Dengan kalem, sambil masing-masing berusaha menganggap masalah tidak pernah ada. Justru saya yang geleng-geleng. Semakin dewasa saya rasakan orang Indonesia semakin dipaksa untuk diam. Sampai saya iri dengan anak kecil. Yang menangis bila ia mau. Atau menyedot ingusnya bila ia kepengin.

POLITIK telah mengubah hidup saya. Padahal sumpah deh, saya tidak suka sama yang begituan. Sudah saya bilang, saya seorang akuntan. Semasa menjadi mahasiswa dulu saya juga bukan aktivis. Walaupun saya tidak alergi untuk berdiskusi atau berdebat. Saya membaca politik, seperti halnya saya suka sejarah. Atau sastra. Dan budaya, terutama wisatanya. Meski begitu saya juga pernah aktif di senat. Bukan jadi pengurus, tapi cuma nongkrong saja ha-ha-ha. Di sekretariatnya yang ngumpul dengan anak pers dan mapala. Bagian saya di kampus menjadi moderator. Atau pembawa acara. Apa saja: diskusi, seminar, talk show, sarasehan… yang sampai saat ini tidak saya ketahui secara pasti apa perbedaannya.

Tidak heran saya banyak kenal teman-teman aktivis kampus. Mereka sama saja seperti mahasiswa yang lain. Hanya saja suka bolos untuk menuntaskan kekritisan mereka. Melawan ketidakberesan. Nah, bagian saya menjadi tumpuan tugas kuliah beberapa teman. Atau memalsukan presensi dengan tanda tangan mereka yang saya tiru. Telepon di rumah menjadi pusat informasi kegiatan kampus bagi tukang-tukang bolos itu. Kalau ada apa-apa, pastilah mereka menghubungi saya.

Saya ingat, sekali beberapa teman saya itu membantu. Sewaktu saya diopname empat hari, kampus mengadakan ujian. Saya sudah tidak mau ribut-ribut, karena saya pikir tidak perlu. Saat saya tidak bisa ikut ujian pada matakuliah Pak Bagus. Tidak apa, hanya dua SKS. Tetapi teman-teman saya itu tidak terima. Dan berpolitiklah mereka. Pak Bagus didatangi ramai-ramai. Enam tujuh orang saya taksir. Biasa, minta ujian susulan. Cuma pak Bagus memang ndablek. Dan menolak, bahkan memastikan tidak akan pernah bisa ditekan siapapun. Apalagi teman-teman saya itu. Mahasiswanya sendiri.

Peristiwa-peristiwa setelah itu saya ingat betul. Teman-teman saya di senat dikontak. Juga yang di pers dan teater. Anak-anak basket juga banyak yang sibuk. Tidak tahulah saya. Mereka bikin advokasi. Ini kesewenang-wenangan, jelas mereka saat saya minta untuk tidak usah ribut-ribut. Kita harus melawan! Belakangan, baru saya tahu kalau teman-teman ngotot kepada Pak Bagus karena dendam dengannya. Yang pelit nilai.

Urusannya menjadi panjang. Dan runyam. Oleh Pak bagus, seluruh mahasiswa yang mengikuti matakuliahnya diberi nilai E. Yang artinya jelas tidak lulus. Dia gerah dan menuduh saya membesar-besarkan masalah. Saya baru tahu kalau bidang advokasi senat bikin pernyataan sikap kepada Pak Bagus. Malah, oleh anak-anak pers isu ini diangkat pada bulletin edisi mingguannya. Tulisannya singkat, tapi pedas. Tentu saja teman-teman mendapat angin. Ya, mereka yang suka politik itu. Tidak tanggung-tanggung enam puluh mahasiswa turun ke ruang jurusan. Demo!

Pak Bagus tatap ndablek. Bahkan waktu dua orang teman mogok makan. Cuma saya tahu betul itu bohong-bohongan. Soalnya mereka makan juga di kamar mandi. Stttt…ini politik! Lalu mereka cekikikan. Si Bimo saya akui memang jago. Walaupun akhirnya diskorsing dua minggu. Itu tuh, ngomporin adik-adik mahasiswa baru. Sebagai senior dan seorang yang punya pengaruh di kampus dia gampang saja menunggangi tiga ratus orang untuk berdemo. Kilahnya, ini bagian dari opspek. Selain dia, Aris sang sekretaris senat dan Dago, anak Dema diciduk. Mahasiswa baru setelah itu diurus Pembantu Dekan tiga dengan hipokrit-hipokrit senat, si Budi sang ketua.

Dua bulan berpolitik dengan teman-teman membuat orientasi hidup saya berubah. Berurusan dengan Dekanat. Padahal, tampangnya Pembantu Dekan Tiga ya baru kali itu saya tahu. Lebih dekat dengan banyak teman-teman. Saat mereka bikin setting rencana aksi. Fase yang menegangkan! Apalagi sebagian mahasiswa baru tidak mengambil matakuliah Pak Bagus. Padahal itu matakuliah wajib. Siapa lagi yang paling puas kalau bukan si Bimo yang sudah mengobarkan semangat perlawanan. Saya jadi terlibat jauh saat Erick, yang disebut-sebut mengorganisir teman-temannya kena juga. Bukan Mas Erick saya tentu, dia anak Ekonomi Pembangunan yang tahun kedua pindah ke Sosiologi FISIP. Bukan apa-apa. Baru pada semester tujuh saya mulai berani jujur pada diri sendiri. Maksudnya berani mengekspresikan kata hati. Siap ribut dan tidak alergi untuk berkomentar. Ya, karena ending politiknya teman-teman itu.

TIDAK ada yang istimewa dari Erick. Tetapi ketidakistimewaannya ini menarik hati saya. Kami terpaut usia yang jauh. Seperti yang sudah saya bilang, Erick saya kenal pada semester tujuh. Saat dia sebagai mahasiswa baru mengorganisasi teman-temannya. Atas bimbingan si Bimo, pasti. Sang provokator! Walaupun sebenarnya Erick tidak terlalu menonjol. Dia pemalu, lebih suka bermain di belakang layar. Tetapi Pembantu Dekan Tiga justru keranjingan dengannya. Tidak salah lagi dialah aktor intelektual dari semua ini, begitu kira-kira pikir Pembantu Dekan Tiga.

Malah Erick sempat dicap subversif kiri. Tahu sendirilah, tahun 1996 Orde Baru masih represif-represifnya. Soal ini Erick pernah bilang pada saya bahwa dia seorang nasionalis. Istilah yang netral, katanya untuk tidak menyebut kiri atau kanan. Saya mencintai tanah air saya, ujarnya dengan ekspresi datar yang saya suka. Karena itu saya seorang nasionalis, katanya lagi. Ah, ideologi. Erick seorang Islam, seperti saya. Saya kira dia banyak baca. Bukan hanya Marx, tetapi juga Ronggowarsito, pujangga Jawa asal Kraton Solo. Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak berteman dengannya. Terutama karena ketakutan soal identifikasi ideologi.

Sekali waktu dia pernah bilang sayang sama saya. Saya hanya ketawa saja. Huh, anak kecil! Saat itu saya sedang menyusun skripsi yang agak terlambat. Saya hanya kaget setelah tahu dia pindah ke jurusan Sosiologi FISIP. Menuntaskan kata hati, begitu ia seringkali memberi argumentasi. Ada-ada saja Erick. Saya kan sedang mesra-mesranya dengan Rio. Saat itu Rio baru menjadi sarjana. Dasar pintar, Rio langsung diterima magang di perusahaan konstruksi.

Bukan Erick namanya kalau tidak memikat. Masih saja dia nekat. Padahal, dia tahu pasti hubungan saya dengan Rio. Saya tidak mau menjadi istri politisi, gurau saya padanya. Hidupnya tidak pasti dan sering nyerempet-nyerempet bahaya. Erick tidak berkomentar apa-apa. Dia selalu datar, tidak pernah bergejolak. Justru hal ini yang menggemaskan saya. Bukannya marah, Erick malah memberikan buku hariannya. Baca saja, saya tidak bisa basa-basi. Tahu sendiri kan, buku harian merupakan wilayah paling privasi dari seseorang, kata Erick pada saya.

Saya mengiyakan saja. Agar dia tidak kecewa. Biasalah, orang yang sedang jatuh cinta. Hanya kali ini gaya aktivis yang kaku. Ya, datar begitu. Dan saya rasakan kurang romantis. Ketimbang Rio. Semula, saya ingin menyimpan saja buku harian itu. Tidak enak saya untuk membaca curahan hatinya. Tetapi akhirnya saya tergoda. Terutama karena Erick mulai jarang bertemu saya, yang belum lama lulus. Dia juga jarang ada di kampus kata teman-temannya. Katanya: lagi bikin perhitungan dengan Soeharto!

TELEPON kantor saya berdering. Erick. Dari suatu tempat katanya. Lagi diburu intel. Ada apa? Potong saya. Eh, sabtu kemarin saya sudah bertunangan dengan Rio. Dia diam saja. Sesaat kemudian: telepon saya tutup dulu ya. Mau menenangkan perasaan sebentar. Lalu klik, telepon diputus. Saya menghela nafas saya pada sikap Erick yang tidak pernah bisa basa-basi.

Sejam kemudian dia telepon lagi. Sebenarnya saya sudah tahu kamu bertunangan. Karena itu saya telepon ke kantor kamu. Tapi, pemberitahuan langsung dari kamu membuat saya patah hati. Padahal, dari dulu saya sudah mempersiapkan diri terhadap segala kemungkinan terburuk. Karena menyayangi seorang yang sudah punya pacar. Dan sekarang telah bertunangan. Saya hanya bisa menjamin, sebelum kamu sah menjadi istri Rio, saya akan membebaskan perasaan saya untuk menyayangi kamu. Saya tidak bisa basa-basi nih. Besok saya kirimi buku harian. Saya selalu jujur padanya. Kamu bisa baca diri saya di sana. Hei, teriak saya, nanti dulu! Tapi, klik. Telepon ditutup.

Setelah hari itu Erick menepati janjinya. Dia mengirimi saya buku harian. Ditambah naskah artikel-artikel politik dan sedikit cerpen. Punya bakat menulis rupanya dia. Saya mulai bimbang dengan Rio. Karena perasaan saya tidak bisa saya bohongi. Kalau saya diam-diam tertarik pada Erick. Ah, ah. Tidak. Ini tidak fair untuk Rio.

SAYA mendengar kabarnya sore hari. menjelang maghrib. Erick kena. Sewaktu berdemonstrasi menolak pemilu 1997 yang dia anggap sebagai dagelan. Saya pikir dia hanya ditangkap. Baru selepas isya saya dikabari lagi oleh Bimo. Bahwa Erick kena tembak. Dan meninggal.

Saya kecewa sekali. Bukan karena Erick meninggal. Tetapi karena tidak satupun media menurunkan beritanya. Termasuk media nasional, yang ketakutan karena mendapat telepon untuk tidak membuat masyarakat bergejolak. Tentu saja dari pihak yang tidak ingin masyarakat bergejolak. Ah, sudahlah. Ketakutan saya untuk tidak berhubungan dengan Erick terjadi sudah. Saya tidak tahu harus berbuat apa untuk beberapa waktu.

Selanjutnya saya mengambil inisiatif sendiri. Merangkai fase-fase penting dalam hidup saya. Saya bertanya pada hati. Sampai saya pada ketetapan bahwa saya benar-benar telah menyayangi Erick. Saya melewati setengah malam dengan menangis tersedu-sedu. Bahwa perasaan saya pada Rio tidak lagi seratus persen. Saya mengakui ini tidak adil. Karena itu saya memutuskan pertunangan dengan Rio. Sebab saya tidak ingin menyelingkuhi perasaan saya sendiri. Dan, agar Rio mendapatkan perempuan yang menyayanginya seratus persen.

Kilatan fragmennya terputus-putus. Tetapi runtut. Saya menyayangi Erick meski sudah pasti tidak akan pernah kawin dengannya. Setidaknya di dunia ini. Hari sudah larut. Tetapi saya belum mendapat kepastian Erick akan dimakamkan di mana. Yang jelas, kata Bimo jenazahnya ada pada anak-anak. Satu kekhawatiran saya terjawab sudah. Mengenai kemungkinan penghilangan secara paksa jenazah Erick. Oleh pihak-pihak yang tidak ingin masyarakat bergejolak itulah….

JENAZAH Erick dimakamkan tiga hari kemudian. Demi alasan-alasan politik dan keamanan. Saya bergumam pada diri sendiri: bahkan saat-saat seorang tidak lagi bernyawa politik masih memainkan perannya. Soal teknis, jelas Bimo. Teman-teman tidak rela Erick dikubur seperti seorang kecelakan tertabrak bus kota. Ini peristiwa politik, mata Bimo menyala. Tetapi sejurus kemudian redup kembali. Menuntaskan kekecewaannya pada soliditas jaringan pergerakan yang tidak selalu bisa diandalkan. Juga pada momentum-momentum penggelembungan gelora untuk sebuah revolusi. Saya pikir Bimo perlu lebih arif memahami oportunisme politik. Agar tidak terlalu makan hati.

Justru waktu tiga hari memberi waktu bagi saya. Untuk menyusun skenario hidup detik per detik ke depan. Yang tangkas dan akurat. Termasuk alternatif-alternatif lain yang mungkin berguna. Saya baru memahami demarkasi rasionalitas saya yang melebihi di atas rata-rata orang Indonesia. Setidaknya menurut saya. Saat fragmen-fragmen hidup normal orang kita saya telikung. Saya potong acak untuk menggenapi rasionalitas, saya kira.

Saya tidak grogi saat menyampaikannya secara baik-baik pada orang-orang. Pada orang tua Erick saya menceritakan kedekatan kami. Sekaligus meminta ijin untuk menyimpan barang enam tujuh bundel tulisan-tulisannya. Mereka shock, tetapi mengangguk juga. Pastilah mereka tidak dapat berpikir hal-hal yang berat. Semacam rasionalitas saya di saat-saat mencekam ini. Saya hanya ingin menjamin rentang psikologis saya dengan Erick. Terutama, karena saya berencana mengadopsi seorang anak. Yang telah saya pilihkan namanya: Intan. Agar dia sekeras rasionalitas saya. Dan abadi seperti rangkaian perasaaan yang saya karang dalam dua pertiga hidup saya selanjutnya. Soal Intan tidak ada yang saya khawatirkan lagi. Karena Erick akan saya rekayasa untuk menjadi ayah psikologisnya.***

:kepada seorang sahabat di Fakultas Hukum UNS. ditulis tangan di Lampung. diedit di Solo. diketik-ulang di Tegal.

Febrie Hastiyanto; dimuat Antologi Pentas di Atas Mimpi (TBJT, 2008)

2 Tanggapan to “Cerita tentang Cinta”

  1. thierry Says:

    i love solo…

  2. Fachruddin Says:

    Cerita tentang cinta seperti tak akan ada habisnya, padehal cinta didunia ini hanya sepersekian dan tak seujung kuku dari cinta yang diciptakan Allah, dan cinta itupun kita bagi bagi lagi dengan hewan hewan. Forsi terbanyak adalah cinta seorang ibu kepada anaknya yang masih bayi. Cinta oh cinta


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: