Pelajaran Demokrasi dari Tegal

Juni 22, 2010

Rasanya demokrasi kita hari ini memang memerlukan sebuah alternatif. Tanpa perlu melakukan survey, kita akan tahu bahwa warga sudah mulai bosan dengan model demokrasi kita, termasuk Pilkada langsung yang berlangsung sambung menyambung, dari kota satu ke kota yang lain dalam waktu yang seolah bergiliran. Tak heran kalau apatisme menguat, angka Golput menembus angka 50% (kasus Pilkada Pati), hingga pengharapan publik pada calon perseoarangan—jamak disebut calon independen.

Gugat Teori

Diskursus calon independen dalam Pilkada sudah mulai mengemuka sejak lama. Wacana ini muncul terutama karena ketidakpercayaan publik yang tinggi terhadap partai politik baik secara kelembagaan, pengurus dan elitenya, hingga broker-broker politik dalam setiap Pilkada. Gerakan golput yang dilakukan sebagai pembangkangan sipil (civil disobedience) ternyata tidak juga membawa perubahan politik, sehingga wacana calon independen lahir. Wacana calon independen, hampir-hampir tidak memungkinkan dalam teori politik dan aturan hukum yang ada, selain karena usaha-usaha dari partai politik sendiri yang tidak ingin otoritas tunggalnya dalam sistem politik kita tersaingi.

Selama ini publik terbentur pada teori politik yang selama ini kita kenal dan masih dipelajari di sekolah dan kampus. Yakni pada pilihan bentuk negara kita yang republik dan menganut sistem demokrasi (perwakilan). Dalam sistem politik kita, terdapat negara dengan pemerintah sebagai representasi-material, dan rakyat sebagai pemilik negara. Dengan teori kontrak social (social contract), kita ‘bersepakat’ untuk bernegara dan menjalankan negara melalui pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (demokrasi). Rakyat yang dipercaya menjadi presiden, gubernur, bupati, walikota, hingga kepala desa dipilih oleh rakyat melaui pemilihan umum. Karena kompleksnya sistem bila demokrasi dilakukan secara langsung, kita kemudian menggunakan sistem demokrasi perwakilan.

Dalam sistem ini, partai politik menjadi perantara antara rakyat dan negara (pemerintah). Peran partai politik ini kemudian dilembagakan secara teoritik menjadi fungsi partai, yaitu untuk melakukan agregasi, artikulasi, pendidikan, rekruitmen dan sosialisasi politik. Fungsi agregasi dan artikulasi ini yang kemudian menjadi legitimasi teoritik bagi partai politik untuk menjadi satu-satunya lembaga yang berhak mengajukan calon kepala daerah.

Kongres Rakyat Tegal

Rabu (4/6) 300 lebih rakyat Tegal mengadakan Kongres Rakyat Tegal (KRT) di Gedung Kesenian Tegal (GKT), dibuka langsung oleh Walikota—yang dapat dipastikan tidak berminat mengikuti Pilkada karena telah melewati dua periode kepemimpinan. KRT digagas sejumlah tokoh Tegal untuk melakukan penjaringan calon independen dalam Pilkada Kota Tegal yang akan digelar tak lama lagi. Calon independen yang diusung KRT merupakan calon yang diusulkan peserta—yang kabarnya mewakili berbagai komponen masyarakat, bukan yang mengusulkan diri. Siapapun calon terpilih, akan didukung penuh oleh KRT. Dalam dinamika KRT muncul delapan nama yang akan ditentukan bersama Steering Committte (SC) KRT untuk menjadi satu nama calon.

KRT mengindikasikan bahwa alternatif demokrasi sedang digagas melalui lembaga kongres rakyat. Rakyat tidak lagi banyak berharap pada DPRD, maupun partai politik, tetapi menggelar sendiri mekanisme demokrasinya. Spirit ‘perlawanan’ terhadap lembaga-lembaga mapan—dan karena itu lamban—yang telah ada dengan membuat lembaga kongres rakyat ini dapat menjadi pelajaran alternatif demokrasi bagi daerah lain. Kongres rakyat sebagimana digagas di Tegal memang masih perlu disempurnakan. Misalnya sosialisasi yang cukup; jaminan representasi peserta dari semua elemen; penyelenggara (steering committee) yang mengakar, dipercaya publik, dan memiliki integritas luhur; independensi dari ‘pesanan’ pihak manapun; hingga kontrak politik calon yang dinotariskan.

Febrie Hastiyanto; Pegiat Kelompok Studi IDEA. Bekerja pada Bapeda Kab. Tegal

Dimuat dalam Kompas Edisi Jateng, Sabtu, 5 Juli 2008

Satu Tanggapan to “Pelajaran Demokrasi dari Tegal”

  1. Gigih Says:

    Pemilukada model lama lagi ae….dipilih DPRD….wakakak…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: