Archive for Juni, 2010

DAU, DAK dan ‘Dana Aspirasi’

Juni 29, 2010

Meski pada awalnya telah ditolak tujuh dari sembilan fraksi di DPR namun Selasa (16/6) Badan Anggaran DPR secara resmi mengusulkan Dana Aspirasi untuk masuk dalam APBN 2011. Dana aspirasi yang digulirkan Fraksi Partai Golkar ini diusulkan dengan nomenklatur Program Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Daerah melalui Kebijakan Pembangunan Kewilayahan yang Berbasis kepada Daerah Pemilihan. Meski telah diusulkan secara resmi, Program Percepatan dan Pemerataan Pembangunan Daerah ini belum mematok angka Rp. 15 Milyar per Daerah pemilihan atau Rp. 1 Milyar per desa seperti usulan Fraksi Partai Golkar. Mekanisme yang agaknya tetap digunakan adalah mekanisme pembelanjaan alokasi ini oleh pemerintah pusat maupun daerah, dalam hal ini alokasi tersebut menjadi bagian integral APBN maupun APBD yang kemudian dilaksanakan dalam program dan Kegiatan oleh Satuan Kerja (Satker) Pemerintah. Baca entri selengkapnya »

Iklan

Membangun Identitas Slawi

Juni 25, 2010

Keberadaan Kota Slawi (dan Kabupaten Tegal) masih berada dalam bayang-bayang Kota Tegal. Bagi publik di luar Slawi sering terbolak-balik mempersepsikan keberadaan Kota dan Kabupaten Tegal. Hal ini dapat dimaklumi, mengingat Kota Slawi merupakan daerah satelit Kota Tegal. Kondisi yang telah berlangsung lama ini tentu saja tidak strategis bagi Kota Slawi untuk mewujudkannya menjadi kota mandiri. Perlu ada upaya terencana dan terstruktur untuk membangun identitas kota sebagai entry point kemandirian kota. Baca entri selengkapnya »

Arah Pembangunan Tegal

Juni 25, 2010

Problem dan kebutuhan suatu daerah demikian kompleks. Karena itu, untuk mengurai kompleksitas disusun prioritas-prioritas. Demikian halnya dalam kebijakan pembangunan, seringkali prioritas-prioritas ini selain diundangkan dalam Peraturan Daerah (Perda) atau termuat dalam Rencana Strategis Daerah (Renstrada) juga dilembagakan dalam berbagai sesanti (slogan). Di Kabupaten Tegal selama ini kita mengenal berbagai slogan pembangunan. Sebut saja Tri Sanja (Tri Landasan Kerja), Gerbang Desa Manunggal (Gerakan Membangun Desa Manunggal), Slawi Ayu, Pertiwi (Pertanian, Industri, dan Pariwisata) serta Mbetahi lan Ngangeni. Namun celakanya, hampir setiap pemimpin daerah merasa perlu untuk membuat prioritas pembangunan baru yang segera setelah periode kepemimpinannya berakhir, berakhir pula komitmen dan kampanye pemerintah daerah terhadap prioritas pembangunan yang telah ada. Ditandai dengan introduksi prioritas program dan slogan pembangunan baru. Baca entri selengkapnya »

Gerakan Mahasiswa Tegal

Juni 25, 2010

Gerakan mahasiswa biasanya berbasis pada kampus-kampus negeri—maksudnya universitas yang ujian masuknya dilakukan secara nasional lewat SPMB—seperti di kota Solo, Yogya, Semarang atau Purwokerto. Namun, beberapa kota yang tidak memiliki kampus negeri semisal Kudus, Salatiga, Magelang atau Pekalongan gerakan mahasiswanya pun terlihat dinamis. Ditandai dengan kritisisme dan greget gerakan mahasiswanya dalam mengawal wacana lokal maupun nasional. Setidaknya dapat dilihat dari berita-berita di media massa yang kita baca. Namun, hal yang sama tidak terjadi di Tegal. Seperti halnya Kudus, Salatiga, Magelang atau Pekalongan, Tegal tidak memiliki kampus negeri namun memiliki kampus-kampus swasta yang besar. Universitas Panca Sakti Tegal atau STAI IBN Slawi misalnya, dapat disejajarkan dengan Universitas Muria Kudus, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Tidar Magelang, atau Universitas Pekalongan. Bila kondisi, latar belakang dan karakteristik kota relatif sama, mengapa gerakan mahasiswa secara relatif tidak lahir di Tegal? Baca entri selengkapnya »

Memolakan Transmigrasi Warteg

Juni 24, 2010

Seperti halnya Program Keluarga Berencana (KB), Program Transmigrasi hari ini sedang mati suri. Setiap tahun pemerintah dan pemerintah daerah memang masih memberangkatkan kontingen transmigran ke sejumlah daerah, namun transmigrasi tak lagi menjadi retorika yang banyak diperbincangkan publik. Padahal dahulu Program Transmigrasi menjadi program unggulan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan dan pemerataan persebaran penduduk dalam kerangka kebangsaan dan persatuan. Tidak jarang transmigrasi dijadikan problem solving bagi kebijakan pembangunan yang mengharuskan terjadinya relokasi. Semisal pembangunan Waduk Kedung Ombo di Boyolali atau Waduk Cacaban di Tegal. Bahkan metode seperti ini juga masih dipakai pemerintah ketika bermaksud merelokasi korban Lumpur Lapindo Sidoarjo melalui program transmigrasi. Karena pendekatan pragmatis pemerintah ini, publik cenderung bersikap apriori terhadap program transmigrasi karena selain merasa hanya dibuang, pemberdayaan terhadap transmigran juga tidak dilakukan secara berkelanjutan. Baca entri selengkapnya »

Menikmati Melati dari Aspek Lain

Juni 24, 2010

Tegal telah dikenal luas sebagai kota teh. Di Tegal terdapat banyak industri pengolahan teh. Sebut saja Perusahaan Teh P.T. Gunung Slamat yang memproduksi Teh Cap Sosro, Teh Cap Poci, Teh Cap Botol, Teh Cap Berko, Teh Cap Terompet, dan Teh Cap Sepatu. Ada juga P.T. Tunggul Naga yang memproduksi Teh Cap Dua Tang dan Teh Cap Tjatoet. Serta Perusahaan Teh Dua Burung yang memproduksi Teh Cap Tong Tji. Meskipun demikian Tegal tidak memiliki lahan perkebunan teh yang luas. Bahan baku daun teh umumnya diimpor dari Jawa Barat. Teh Tegal dikenal karena rasa dan aromanya yang Wasgitel (wangi, sepet, legi, kentel) dalam tradisi minum teh yang disebut moci. Baca entri selengkapnya »

Pasar Klewer, Pasar Rakyat Solo

Juni 24, 2010

Keberadaan Pasar Klewer di pusat Kota Solo harus diakui menempati posisi dan peran strategis dalam menggerakan perekonomian rakyat. Omzet yang berputar dalam transaksi setiap harinya disebut-sebut terbesar kedua setelah Pasar Mangga Dua Jakarta. Tidak heran bila pusat grosir dan eceran batik ini menjadi tumpuan hidup tidak hanya pedagang asal Solo dan kota-kota satelitnya (hinterland) dalam Subosukawonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen dan Klaten) tetapi termasuk menghidupi pengusaha batik asal Pekalongan dan sekitarnya. Baca entri selengkapnya »

Aspek Sosiologi Apartemen Solo

Juni 24, 2010

Tidak lama lagi Solo akan memiliki apartemen sebagai salah satu jenis hunian warganya. Tidak tanggung-tanggung, diakhir tahun 2007 akan dibangun tiga apartemen sekaligus. Masing-masing Kusuma Mulia Tower (KMT) apartemen 28 lantai di bilangan Ngapeman Jalan Slamet Riyadi, Center Point Solo apartemen 22 lantai di kawasan Purwosari Jalan. Slamet Riyadi, dan Solo Paragon apartemen resor 22 lantai di Jalan Yosodipuro 133 Mangkubumen. Oleh pengembang, apartemen ini dibangun untuk menyerap pasar wisatawan mancanegara dan ekspatriat, utamanya tenaga ahli industri tekstil yang banyak tersebar di Solo dan ekspatriat tenaga ahli dalam eksplorasi minyak bumi di Blok Cepu Blora. Baca entri selengkapnya »

Tegal ‘Jepang-nya Indonesia’

Juni 24, 2010

Klaim Tegal sebagai ‘Jepang-nya Indonesia’ mungkin hanya menjadi menjadi klaim lokal yang hanya diketahui warga Tegal sendiri atau warga di wilayah eks. Karesidenan Pekalongan. Meski demikian, klaim ini bukan tidak beralasan. Industri pengolahan merupakan penyumbang 25,81 persen Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tegal, berada di peringkat kedua setelah perdagangan, hotel, dan restoran (28,64 persen). Tidak kurang dari 24 jenis industri logam dapat dihasilkan pengrajin Tegal semisal industri komponen dan suku cadang alat berat, otomotif, kapal dan kelautan, listrik, kesehatan, senjata angin, aksesoris, perbengkelan, pertanian, perkebunan, bahan bangunan dan rumah tangga, karoseri, pemadam kebakaran hingga peralatan pompa air (Kustomo (ed), 2005). Tegal juga dikenal sebagai tempat berdirinya Lingkungan Industri Kecil (LIK) pertama-tama di Jawa Tengah. Baca entri selengkapnya »

Kota Peduli Pasar Tradisional

Juni 24, 2010

Solo di bawah kepemimpinan Ir. Joko Widodo (Jokowi) memang berbeda dengan kota-kota lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hanya di kota ini pasar tradisional dan pasar modern dapat hidup bersama-sama. Kekhawatiran dominasi pasar modern semisal Solo Grand Mall (SGM), Singasaren Mall, Solo Square, Makro, Beteng Trade Center (BTC) atau Pusat Grosir Solo (PGS) di kota yang hanya seluas 44 Km2 ini dijawab oleh pemkot Solo dengan merenovasi pasar-pasar tradisional yang 38 jumlahnya—sebuah jumlah yang cukup banyak untuk ukuran kota besar dengan wilayah yang kecil. Bila di kota-kota lain renovasi pasar tradisional hampir selalu mengundang resistensi komunitas pasar, di Solo realita itu hampir tidak terjadi. Karena beban pembangunan pasar tradisonal disubsidi pemkot. Jumlahnya pun tidak main-main. Dalam APBD 2006 Pemkot Solo menganggarkan dana hingga Rp. 11 Milyar, yang bertambah menjadi Rp. 16,8 Milyar pada APBD 2007 (SM, 5/6). Baca entri selengkapnya »